Saya pikir hiruk-pikuk soal Makan Bergizi Gratis akan mereda setelah pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional. Ternyata belum. Persoalan lama masih berulang.
Ini membuat saya kembali menulis tentang MBG. Ini tulisan ketiga.
Tulisan pertama mengenai tata kelola, “Niat Besar yang Harus Dijaga”. Tulisan kedua tentang penerima manfaat, “Dapur yang Paling Membutuhkan”. Sekarang soal keamanan makanan.
Sejak banyak santri dan murid sekolah dasar mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG, saya gelisah. Peristiwa itu terus mengusik pikiran.
Saya tertantang untuk ikut mencari jalan keluar. Setidaknya menyumbangkan satu gagasan kecil. Siapa tahu ada yang mau mendengar. Lalu mengujinya.
Selama ini pemerintah dan BGN terlihat sangat fokus membenahi dapur. Rantai pasok bahan baku diperiksa. Kebersihan peralatan dan tempat produksi diperketat. Pengelolaan limbah diatur. Standar pengolahan dan distribusi diperbaiki.
Itu sangat penting.
Namun, perjalanan makanan tidak berhenti di dapur. Ada jarak yang harus ditempuh menuju sekolah. Ada perubahan suhu. Ada kemungkinan pengiriman terlambat, wadah tidak tertutup sempurna, atau makanan terlalu lama menunggu sebelum disantap.
Dapurnya boleh bersih. Makanannya mungkin juga dimasak dengan benar. Namun, risiko masih dapat muncul di tengah perjalanan. Bahkan ketika ompreng sudah tiba di depan anak-anak.
Lalu, siapa yang menjadi penjaga terakhir? Guru diminta mencicipi makanan sebelum dibagikan kepada murid. Tujuannya tentu baik. Namun, lidah manusia hanya dapat mengenali rasa, aroma, atau tekstur yang terasa janggal.
Tidak semua bahaya dapat dikenali dengan satu atau dua suapan. Makanan yang terlihat baik dan terasa normal belum tentu sepenuhnya aman. Guru adalah pendidik. Bukan petugas penguji makanan. Jangan sampai tanggung jawab keamanan pangan yang begitu besar diletakkan di pundak mereka hanya dengan mengandalkan lidah.
Kegelisahan itu membuat saya menghubungi seorang teman yang selama ini berkonsentrasi pada pengembangan kecerdasan buatan. Namanya Pak Windu.
Pak Windu kemudian menghubungi Pak Zico yang menekuni bidang serupa. Ia bergabung melalui panggilan video.
Keduanya memiliki kompetensi dan sertifikasi internasional dalam bidang teknologi yang mereka tekuni.
Satu orang lagi tentu harus ada. Programmer. Saya mengundang Mas Amin.
Kami bertemu di tempat ngopi. Diskusinya santai. Sesekali bercanda. Namun, yang kami bicarakan serius: mungkinkah sekolah memiliki alat sederhana untuk memeriksa makanan sebelum dibagikan kepada murid?
Pak Windu mengatakan, alat seperti itu memungkinkan untuk dibuat. Namun, tidak semuanya mudah. Bagian tersulit adalah mendeteksi senyawa berbahaya tertentu. Itu sudah menjadi urusan laboratorium.
Diskusi kami tidak selesai di meja kopi. Percakapan berlanjut melalui WhatsApp hingga Sabtu lalu.
Dari sana muncul sebuah bayangan sederhana. Sebelum ompreng dibuka dan dibagikan, beberapa sampel makanan lebih dahulu menjalani pemeriksaan singkat.
Alat itu tidak perlu terlihat rumit. Di dalamnya bisa dipasang kamera dan sejumlah sensor untuk membaca suhu, warna, gas, serta tanda-tanda lain yang tidak mampu dikenali oleh mata atau lidah guru.
Kecerdasan buatan membantu membaca hasilnya. Bukan untuk memutuskan segalanya, melainkan memberi peringatan. Makanan dapat dibagikan, perlu ditahan, atau harus diperiksa lebih lanjut. Tentu alat itu bukan pengganti laboratorium. Ia juga tidak dapat menjamin seluruh makanan pasti aman.
Fungsinya hanya sebagai penyaring awal. Semacam alarm sebelum makanan masuk ke tubuh anak-anak. Jika ditemukan kejanggalan, makanan tidak perlu langsung dibagikan. Sekolah dapat menahannya, menghubungi dapur, mencatat nomor produksi, lalu meminta pemeriksaan lebih lanjut. Dengan begitu, keputusan tidak hanya bergantung pada lidah guru atau penampilan makanan.
MBG adalah program besar dengan tujuan mulia. Karena penerimanya puluhan juta anak, pengamanannya juga harus berlapis. Dapur harus aman. Perjalanan makanan harus terkendali. Sekolah pun perlu memiliki pertahanan terakhir.
Teknologi memang tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan. Namun, jika satu alat sederhana dapat mencegah satu ompreng bermasalah dibagikan, berarti ada anak yang terlindungi.
Gagasan ini mungkin masih kecil. Masih perlu diuji. Masih harus disempurnakan.
Namun, dalam urusan makanan anak-anak, kita tidak boleh menunggu gagasan menjadi sempurna untuk mulai memikirkannya. Apalagi menunggu ada korban berikutnya. (*)

