Purbaya masih berbicara di depan anggota DPD RI ketika kursinya di Istana sedang disiapkan untuk orang lain. Masyarakat kaget. Purbaya tentu lebih kaget lagi.
Kehebohan seperti ini sebenarnya bukan yang pertama. Ketika baru diangkat menjadi Menteri Keuangan, Purbaya juga langsung membuat ramai. Baru beberapa kali menjawab pertanyaan wartawan, namanya sudah ada di mana-mana.
Ia memang berbeda. Purbaya berbicara terus terang. Spontan. Kadang seperti tidak sempat memeriksa rem. Jawabannya pendek, mudah dikutip, dan sering menghasilkan judul menarik. Wartawan menyukainya. Warganet pun mendapat banyak bahan untuk dibicarakan.
Gaya itu sangat berbeda dengan Sri Mulyani. Kalau Sri Mulyani berbicara seperti sedang menjaga setiap angka agar tidak jatuh dari APBN, Purbaya seperti orang yang percaya semua persoalan dapat diselesaikan asal berani menekan tombol yang tepat. Yang satu sangat berhati-hati. Yang satu lagi sangat percaya diri.
Karena itu, ketika Purbaya mendadak diganti, komentar pun berdatangan. Ada yang menyebutnya sebagai langkah perbaikan. Ada yang menganggapnya sekadar penyegaran kabinet. Ada pula yang menilai masa jabatannya tidak sepenuhnya gagal karena sejumlah kebijakannya dianggap ikut menggerakkan pertumbuhan.
Sebagian pengamat menyoroti koordinasi di internal Kementerian Keuangan. Ada pula yang mengaitkannya dengan hubungan antarkementerian, kebijakan restitusi pajak, sampai urusan dividen Danantara.
Pasar punya pandangan sendiri. Pergantian ini dianggap dapat menghadirkan kebijakan yang lebih disiplin dan mudah ditebak. Namun, ada juga yang mempertanyakan prosesnya.
Semua penilaian itu masih bisa diperdebatkan. Kita juga belum memperoleh penjelasan lengkap dari Istana.
Namun, peristiwa ini mengingatkan saya pada guyonan para senior. Entah siapa yang pertama kali mengucapkannya.
Selain orang tua dan guru, katanya, ada tiga orang yang tidak boleh dilawan. Pertama, atasan. Kedua, orang kaya. Ketiga, orang gila.
Dulu saya menganggap guyonan itu sekadar bahan tertawa di meja kopi. Makin lama bekerja, saya baru mengerti bahwa sebagian guyonan memang lahir dari pengalaman yang tidak lucu.
Tentu bukan berarti kita harus selalu tunduk. Bukan pula ajakan membenarkan orang hanya karena jabatan atau kekayaannya.
Saya lebih suka memaknainya sebagai pelajaran agar kita tahu posisi. Tahu siapa kita. Tahu siapa yang sedang dihadapi. Juga tahu di ruang mana kita sedang berbicara. Sebab merasa benar saja ternyata tidak cukup.
Kebenaran juga perlu cara. Perlu waktu. Perlu tempat. Kalimat yang benar bisa terdengar salah jika disampaikan dengan cara yang keliru. Sebaliknya, kalimat biasa dapat terasa penting jika disampaikan pada saat yang tepat.
Mungkin di situlah salah satu persoalan Purbaya. Ia sangat pandai membaca angka, tetapi belum tentu selalu tepat membaca ruangan.
Ia berani menyampaikan apa yang dipikirkan. Itu baik. Pemerintah memang membutuhkan orang yang berani berkata terus terang. Tetapi di dalam pemerintahan, keberanian harus berjalan bersama koordinasi.
Menteri bukan pemain tunggal. Ia bermain dalam sebuah tim. Sebagus apa pun permainannya, pelatih tetap bisa menariknya keluar lapangan.
Meski begitu, jangan sampai pelajaran dari pergantian ini justru membuat semua bawahan memilih diam. Pemerintahan juga bisa sakit jika semua orang hanya pandai membaca wajah atasan.
Kalau semua laporan dibuat untuk menyenangkan telinga, keadaan bisa terlihat baik-baik saja. Padahal, masalah di bawah meja mungkin sudah saling berdesakan.
Kini kursi Menteri Keuangan ditempati Suahasil Nazara. Setelah membaca latar belakang dan perjalanan kariernya, saya seperti melihat bayangan Sri Mulyani kembali memasuki ruangan.
Suahasil seorang ekonom dan akademisi. Ia pernah memimpin Badan Kebijakan Fiskal, kemudian menjadi Wakil Menteri Keuangan sejak 2019. Ia lama bekerja bersama Sri Mulyani dan tumbuh dalam lingkungan kebijakan yang menempatkan kesehatan APBN, batas defisit, pengendalian utang, serta kepercayaan pasar sebagai pegangan.
Cara bicaranya juga mirip. Tenang, formal, terukur, dan sangat berhati-hati.
Suahasil mungkin tidak akan menghasilkan banyak potongan video yang menghibur. Ia juga mungkin tidak akan memberi wartawan terlalu banyak judul yang menggoda. Tetapi pasar biasanya lebih menyukai kalimat membosankan yang pasti daripada pernyataan menarik yang membuat orang menebak-nebak.
Pergantian ini akhirnya bukan sekadar pergantian orang. Ini seperti perpindahan dari gaya agresif menuju gaya teknokratis. Dari suara keras menuju kalimat yang ditimbang berkali-kali.
Purbaya senang menginjak pedal gas. Suahasil tampaknya akan lebih sering memeriksa rem, tekanan ban, dan kaca spion sebelum mobil dijalankan.
Kita tentu berharap ia tidak hanya menjadi Sri Mulyani dalam bentuk lain. Suahasil perlu mengambil kehati-hatian Sri Mulyani, memelihara keberanian Purbaya, lalu meninggalkan kelemahan keduanya. Sebab negara ini tidak hanya memerlukan orang yang pintar menghitung uang. Negara juga membutuhkan orang yang berani mengatakan keadaan sebenarnya, pandai membaca suasana, dan tahu kapan harus berbicara. Terutama ketika sedang berada di hadapan atasan.*









