• Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
Home Catatan Sekam

Setelah Truk Sampah Pergi

Mashudi by Mashudi
Senin, 21 September 2026 06:43
in Catatan Sekam
Momentum Gerakan Kurangi Plastik

Catatan Sekam

Ada satu suara yang sering membuat orang bergegas keluar rumah pada pagi hari. Bukan suara tukang sayur. Bukan pu­la penjual roti.

Suara kendaraan pengangkut sampah.

RelatedPosts

Momentum Gerakan Kurangi Plastik

Pabrik Dekat, Kesempatan Jauh

Kamis, 8 Oktober 2026 07:49
Momentum Gerakan Kurangi Plastik

Setelah Ucapan Selamat

Senin, 5 Oktober 2026 07:29
Momentum Gerakan Kurangi Plastik

Ujian Kemanusiaan

Kamis, 1 Oktober 2026 07:26
Momentum Gerakan Kurangi Plastik

Musim yang Tak Lagi Berakhiran “Ber”

Senin, 28 September 2026 07:14

Begitu terdengar dari ujung gang, kantong-kantong plastik segera dikeluarkan. Ada yang terikat rapi, bocor di bagian bawah, atau harus diangkat sambil menjauhkan tangan dari badan karena aromanya mulai tidak bersahabat. Kantong itu masuk ke gerobak. Gerobaknya berjalan. Kita kembali masuk rumah. Selesai.

Setidaknya, begitu perasaan kita. Dapur kembali bersih. Hati juga ikut tenang. Ke mana sampah itu pergi, jarang kita pikirkan. Yang penting, bukan lagi di depan rumah. Padahal, bagi sampah, perjalanan baru saja dimulai.

Tanggal 20 September diperingati sebagai World Cleanup Day atau Hari Bersih-Bersih Sedunia. 

Peringatannya terasa sepi. Tidak banyak kabar tentang gerakan membersihkan sungai, pantai, jalan, atau ruang publik.

Mungkin ada. Hanya saja, gaungnya jauh lebih kecil dibandingkan persoalan sampah yang setiap hari semakin besar.

Peringatan memang tidak harus selalu ramai. Tidak harus ada panggung, pidato, kaus seragam, dan foto bersama. Kadang-kadang, peringatan cukup membuat kita berhenti dan bertanya: setelah truk sampah pergi, urusan siapa yang dimulai?

Ber­dasarkan data Sistem Informasi Pe­ngelolaan Sampah Nasional milik Ke­menterian Lingkungan Hidup, Banten meng­hasilkan sekitar 8.000 ton sampah setiap hari. Dari jumlah itu, baru sekitar 1.000 ton yang dapat dikelola.

Saya tidak tahu bagaimana cara mem­bayangkan 8.000 ton sampah. Menimbang satu kantong sampah di rumah saja kita tidak pernah. Namun, jika yang mampu dikelola hanya sekitar seperdelapannya, kita tidak perlu pandai berhitung untuk me­ngetahui ada masalah besar.

Masalah itu tidak hilang. Hanya diletakkan jauh dari pandangan kita. Sampah be­rangkat dari rumah menuju gerobak. Dari gerobak pindah ke truk. Dari truk dibawa ke tempat pemrosesan akhir.

Na­manya terdengar meyakinkan. Seolah-olah setelah sampai di sana, sampah benar-benar diproses sampai urusannya selesai.

Kenyataannya, banyak sampah hanya datang, dibongkar, kemudian ditumpuk. Besok datang lagi. Ditumpuk lagi. Lusa begitu juga.

Lama-lama, yang tumbuh bukan sistem pengolahan. Yang tumbuh gunung baru.

Gunung-gunung itu tumbuh di Jatiwaringin, Cilowong, Bangkonol, Dengung, Cihara, Rawa Kucing, Cipeucang, hingga Ba­gen­dung. Tempat-tempat yang jarang kita sebut kecuali ketika ada masalah.

Nama-nama itu mungkin jauh dari rumah kita. Namun, sebagian isi rumah kita ber­akhir di sana. Bungkus kopi, kotak makanan, botol plastik, kantong belanja, tisu, sisa nasi, pakaian bekas, dan sayuran yang lupa dimasak sampai membusuk di kulkas.

Semua berkumpul menjadi satu. Barang-barang yang datang dengan merek dan harga berbeda akhirnya tinggal bersama di tempat yang sama.

Masalahnya, tumpukan itu tidak hanya diam. Air lindinya merembes ke tanah. Baunya ikut angin ke permukiman. Gas metana terbentuk di bawah timbunan. Ketika hujan, ada risiko pencemaran dan longsor. Saat kemarau, kebakaran mengintai.

Kita menyebutnya tempat pemrosesan akhir. Warga di sekitarnya mungkin me­ngenalnya dengan cara lain: bau yang datang tanpa diundang.

Teknologi pengolahan sebenarnya sudah tersedia. Sampah organik dapat diolah. Plastik bisa dipilah dan didaur ulang. Se­bagian sampah dapat dimanfaatkan men­jadi bahan bakar atau energi.

Pi­li­han­nya banyak. Alasan menunda juga tidak kalah banyak.

Yang paling sering terdengar: mahal.

Memang mahal. Namun, membiarkan sampah menumpuk juga tidak gratis. Ada air tanah yang terancam tercemar, kesehatan warga yang dipertaruhkan, dan lahan baru yang harus dicari ketika TPA penuh.

Kita sering pandai menghitung harga mesin, tetapi lupa menghitung harga aki­bat tidak memilikinya.

Pemerintah memegang tanggung jawab besar. Masyarakat tidak bisa terus diminta memilah sampah jika akhirnya semuanya dicampur kembali di atas truk yang sama.

Itu seperti meminta orang menyusun pakaian berdasarkan warna, lalu petugas laundry datang membawa satu karung untuk semuanya.

Warga akhirnya kapok. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena merasa usahanya tidak menuju ke mana-mana. Jangan sampai pemilahan hanya rapi di poster.

Namun, kita juga tidak bisa menyerahkan seluruh persoalan kepada pemerintah. Banyak barang masuk ke tempat sampah bukan karena benar-benar tidak berguna, tetapi karena kita membeli terlalu banyak, memakai terlalu sebentar, lalu membuang terlalu cepat.

Produsen pun tidak boleh hanya hadir ketika barangnya masih berada di rak toko. Setelah produk terjual, bungkusnya tidak mendadak menjadi anak yatim yang harus diasuh pemerintah daerah.

World Cleanup Day tahun ini boleh terasa sepi. Yang berbahaya adalah ketika kesadaran kita ikut sepi.

Besok pagi, suara kendaraan pengangkut sampah akan terdengar lagi. Kita me­nyerahkan kantong plastik, lalu kembali masuk ke rumah dengan perasaan lega. Rumah kita kembali bersih.

Na­mun, setelah kendaraan itu pergi, sampah kita tidak ikut pergi dari kehidupan. Ia hanya pindah alamat.

Tang­gal bisa berganti. Peringatan bisa lewat. Sampahnya tetap tinggal. (*)

Tags: Catatan Sekam
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.
Previous Post

Tukin ASN Banten dari 14 Bulan Jadi 13 Bulan, Sekda Banten: Bukan Potongan Bulanan

Next Post

Menang 2-1 Atas Persijap, Persib Merangsek ke Papan Atas

Next Post
Menang 2-1 Atas Persijap, Persib Merangsek ke Papan Atas

Menang 2-1 Atas Persijap, Persib Merangsek ke Papan Atas

Jalan Tol Rangkasbitung-Cileles Beroperasi Normal Mulai Desember 2026

Jalan Tol Rangkasbitung-Cileles Beroperasi Normal Mulai Desember 2026

Rabu, 7 Oktober 2026 09:16
Wakil Ketua DPRD Pandeglang Siap Gaji dan Tunjangan Dipangkas Demi Selamatkan Negara

Wakil Ketua DPRD Pandeglang Siap Gaji dan Tunjangan Dipangkas Demi Selamatkan Negara

Selasa, 17 Maret 2026 13:06
Update Arus Mudik Pelabuhan Ciwandan 17 Maret 2026: Penumpang Tembus 10.987 Orang

Update Arus Mudik Pelabuhan Ciwandan 17 Maret 2026: Penumpang Tembus 10.987 Orang

Selasa, 17 Maret 2026 13:21
Visual Film Indonesia Disebut ‘Selevel Dunia’, Film Na Willa Bikin Warganet Penasaran

Visual Film Indonesia Disebut ‘Selevel Dunia’, Film Na Willa Bikin Warganet Penasaran

Selasa, 17 Maret 2026 14:02
Rangkaian Kegiatan Sosial Chandra Asri Group Selama Ramadhan, Salurkan Bantuan Sosial dan Fasilitasi Mudik Gratis

Rangkaian Kegiatan Sosial Chandra Asri Group Selama Ramadhan, Salurkan Bantuan Sosial dan Fasilitasi Mudik Gratis

Selasa, 17 Maret 2026 13:49
Sekolah Gratis Sasar Madrasah, Budi Prajogo Apresiasi Gubernur Banten

Sekolah Gratis Sasar Madrasah, Budi Prajogo Apresiasi Gubernur Banten

Selasa, 17 Maret 2026 14:08
Bupati Pandeglang Larang Kepala OPD Mudik Menggunakan Mobil Dinas

Bupati Pandeglang Larang Kepala OPD Mudik Menggunakan Mobil Dinas

Selasa, 17 Maret 2026 13:25

Ikuti Kami

Facebook Instagram X-twitter Youtube
Gates of Olympus

Kanal

News

Redaksi

Peluang Usaha

Viral

Inspirasi

Love Story

Olahraga

News Video

Serba Serbi

E-Paper

Tekno

Pedoman Pemberitaan

Indeks

Tutorial

Pilihan Editor

UMKM Banten

Pemprov Banten Dorong UMKM Naik Kelas, Kunci Utamanya Kualitas dan Kolaborasi

by Yusuf Permana
Sabtu, 10 Oktober 2026 08:59
0

TANGERANG SELATAN, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mendorong pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) meningkatkan daya saing melalui...

sekolah rakyat terintegrasi kabupaten lebak

Tutup MPLS Sekolah Rakyat Terintegrasi, Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah Minta Siwa Giat Belajar

by Nurabidin
Sabtu, 10 Oktober 2026 08:31
0

LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID - Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah meminta ratusan siswa Sekolah Rakyat Teritegrasi (SRT) 1 Kabupaten Lebak di Kecamatan...

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV

© 2026 RadarBanten.