Saya masih ingat obrolan orang-orang dewasa ketika saya kecil. Ayah saya yang petani kerap ikut di dalamnya. Topiknya tidak jauh dari sawah, bibit, pupuk, dan satu pertanyaan menjelang musim tanam: kapan hujan akan turun?
Jawabannya sederhana. “Tunggu saja bulan yang belakangnya ‘ber’.”
Tidak perlu penjelasan panjang. September berarti hujan mulai datang. Memasuki Oktober dan November, curahnya bertambah. Desember biasanya lebih deras. Kalaupun bergeser, tidak terlalu jauh.
Petani membaca musim bukan dari layar telepon. Mereka melihat arah angin, bentuk awan, suhu malam, suara katak, juga perilaku serangga.
Pengetahuan itu diwariskan melalui obrolan di pematang, teras rumah, pos ronda, atau saat beristirahat setelah mencangkul.
Salah menentukan waktu tanam bisa berarti kehilangan satu musim penghasilan. Benih mungkin kekurangan air atau membusuk karena sawah kebanjiran. Ketika itu, jaringan irigasi belum menjangkau banyak lahan.
Para petani membuat saluran sendiri bersama pemilik sawah di sekitarnya. Air yang sedikit dibagi bersama. Kecemasannya ikut dibagi.
Sekarang nama bulannya masih sama. September tetap berakhiran “ber”, tetapi hujan belum tentu datang bersamanya.
Kemarau yang memanjang membuat tanah lebih cepat kering.
Petani harus mencari air lebih jauh, menghidupkan pompa lebih lama, dan mengeluarkan biaya tambahan agar tanaman tidak mati sebelum dipanen. Kesulitan di sawah itu akhirnya terbawa sampai ke pasar.
Menjelang akhir September, harga cabai di sejumlah pasar di Banten melonjak. Di Pasar Rau, Kota Serang, cabai rawit merah yang biasanya sekitar Rp40.000 per kilogram naik menjadi Rp80.000. Di Pasar Anyar, Kota Tangerang, harganya mencapai sekitar Rp75.000.
Cabai merah keriting, cabai rawit hijau, tomat, bawang merah, dan bawang putih ikut bergerak naik. Isi kantong belanja menyusut, meskipun uang yang dibawa tetap sama.
Sekilas, kenaikan harga itu terlihat seperti kabar baik bagi petani. Harga naik, keuntungan mestinya bertambah. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Pada musim kering, ongkos petani ikut membengkak. Mereka harus membeli bahan bakar untuk pompa, mencari sumber air, dan menjaga tanaman lebih lama. Hasil panen pun belum tentu sebanyak biasanya. Harga memang tinggi, tetapi barang yang bisa dijual justru berkurang.
Petani kesulitan menjaga tanamannya. Pembeli mulai mengurangi isi belanjaan.
Pedagang makanan juga berhitung ulang. Sambal tidak mungkin dihilangkan karena bagi sebagian orang, makan tanpa sambal seperti rapat tanpa kopi dan gorengan. Tetap bisa berlangsung, tetapi ada yang kurang.
Jalan keluarnya bermacam-macam. Jumlah cabai dikurangi, rasa pedas diturunkan, atau sendok sambal dibuat lebih kecil.
Pemerintah memang memiliki teknologi modifikasi cuaca. Hujan dapat diupayakan turun di wilayah tertentu ketika keadaan benar-benar mendesak. Namun, teknologi itu membutuhkan biaya besar dan kondisi alam yang mendukung.
Ia bukan keran yang dapat dibuka setiap kali tanah mulai retak.
Petani tentu tidak bisa terus diminta menengadah ke langit. Irigasi perlu menjangkau sawah-sawah kecil. Embung jangan hanya penuh saat musim hujan, lalu dibiarkan dangkal karena tidak dirawat. Informasi cuaca juga harus sampai kepada petani dalam bahasa yang mereka pahami.
Perubahan musim membuat pegangan petani ikut goyah. Pengetahuan yang diwariskan selama puluhan tahun tidak selalu bisa lagi dijadikan patokan.
Dulu, orang tua kita cukup mengingat bulan yang berakhiran “ber”. Kini petani harus membaca prakiraan cuaca, menghitung biaya pompa, memperkirakan persediaan air, sekaligus menebak harga setelah panen.
Alam tidak lagi mudah diajak membuat janji. Ketika musim meleset, petani menjadi pihak pertama yang menanggung akibatnya. Setelah itu, dampaknya sampai ke dapur kita melalui harga cabai, bawang, dan sayuran.
Mungkin karena terlalu sibuk mengeluh saat sambal tak lagi pedas, kita lupa bahwa di balik satu sendok sambal yang mengecil, ada petani yang sudah lebih dahulu menelan getir. (*)









