Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII Banten 2026 tinggal menghitung hari. Namun, semakin dekatnya waktu pelaksanaan justru membuat sejumlah persoalan persiapan penyelenggaraan menjadi sorotan.
Tangerang Selatan (Tangsel) sebagai tuan rumah menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan seluruh kebutuhan Porprov benar-benar siap, bukan hanya secara seremonial, tetapi juga dari sisi teknis pertandingan, venue, akomodasi, transportasi, kepanitiaan, hingga kepastian pelayanan bagi kontingen.
Persoalannya, ukuran keberhasilan sebuah Porprov bukan sekadar apakah pertandingan akhirnya dapat dilaksanakan. Yang jauh lebih penting adalah apakah seluruh prosesnya memberikan kepastian dan rasa keadilan yang sama kepada seluruh kabupaten/kota peserta.
Bagi kontingen, perubahan informasi teknis, ketidakpastian venue, jadwal pertandingan, akomodasi, maupun kebutuhan administrasi dapat berdampak langsung terhadap perencanaan. Setiap perubahan membutuhkan penyesuaian anggaran, transportasi, penginapan, konsumsi, peralatan, hingga strategi pertandingan. Dalam kondisi waktu yang semakin sempit, komunikasi dan kepastian menjadi sangat penting.
Sorotan semakin menarik setelah Kepala Dispora Kota Tangerang Selatan Mukroni dikabarkan mengundurkan diri efektif 1 Oktober 2026, tepat ketika persiapan Porprov memasuki fase akhir. Tidak tepat jika pergantian tersebut langsung dikaitkan dengan persoalan Porprov tanpa bukti.
Namun, secara objektif, perubahan pimpinan perangkat daerah di tengah persiapan event olahraga sebesar Porprov tentu menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kesinambungan koordinasi dan pengambilan keputusan dijaga hingga hari pertandingan. Ini yang harus dijelaskan kepada publik.
Jangan Sampai Atlet yang Menanggung Dampaknya
Atlet seharusnya menjadi pusat dari seluruh penyelenggaraan Porprov. Mereka telah menjalani latihan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk mencapai pertandingan. Karena itu, persoalan administratif dan teknis penyelenggaraan jangan sampai berujung pada terganggunya konsentrasi atlet.
Kontingen membutuhkan informasi yang jelas, final, dan dapat dipertanggungjawabkan. Bukan informasi yang berubah-ubah sehingga daerah peserta harus terus melakukan penyesuaian di menit-menit terakhir. Tuan rumah memang memiliki beban yang tidak ringan. Namun, justru karena itulah koordinasi antara tuan rumah, KONI Banten, technical delegate, pengurus cabang olahraga, dan seluruh kontingen harus semakin terbuka dan intensif.
Jika masih terdapat persoalan dalam persiapan, yang dibutuhkan bukan saling menyalahkan. Yang diperlukan adalah keterbukaan untuk mengidentifikasi masalah dan menyelesaikannya bersama. Apa yang sudah final harus diumumkan secara jelas. Apa yang belum final harus diberikan batas waktu penyelesaiannya.
Dan apabila terdapat perubahan, seluruh kontingen harus memperoleh informasi secara bersamaan sehingga tidak ada daerah yang merasa mendapatkan informasi lebih lambat dibandingkan daerah lainnya.
Porprov adalah pesta olahraga milik seluruh masyarakat Banten, bukan hanya milik tuan rumah. Karena itu, standar penyelenggaraannya juga harus mencerminkan kepentingan seluruh peserta.
Waktu terus berjalan. Kini, waktu tidak lagi panjang. Setiap hari yang tersisa harus digunakan untuk memastikan tidak ada persoalan mendasar yang tertinggal. Pertanyaan publik dan kontingen sederhana: apakah seluruh kebutuhan Porprov sudah benar-benar siap dan memiliki kepastian?
Jika jawabannya masih ada yang harus diselesaikan, maka sekarang adalah waktunya untuk bekerja lebih cepat, terbuka, dan terukur.
Jangan sampai Porprov Banten 2026 meninggalkan kesan bahwa atlet sudah siap bertanding, tetapi penyelenggara masih sibuk menyelesaikan persoalan mendasar. Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya nama Tangsel sebagai tuan rumah, tetapi juga wajah olahraga Provinsi Banten.
Porprov harus menjadi panggung prestasi atlet, bukan panggung persoalan penyelenggaraan. Karena itu, menjelang hari pertandingan, publik berhak bertanya: Apakah semua benar-benar sudah siap, atau sebagian persoalan hanya sedang dikejar agar terlihat siap?
Waktu terus berjalan, dan ketika peluit pertama pertandingan berbunyi, tidak ada lagi ruang untuk mengatakan, “masih dalam proses.”(*)
Penulis : Vredo Adisyah Putra, Sekretaris Umum KONI Kabupaten Serang
Editor : Aas Arbi












