SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Provinsi Banten mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi saat musim hujan tiba setelah wilayah tersebut mengalami kemarau yang lebih panjang.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena awal musim hujan di Banten tahun ini diprakirakan mengalami kemunduran hingga tiga dasarian atau sekitar satu bulan dibandingkan kondisi normal.
Plt Kepala BBMKG Wilayah II Ana Oktavia Setiowati mengatakan, wilayah Banten bagian selatan, seperti Kabupaten Lebak dan Pandeglang, diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada November 2026. Sementara wilayah Banten bagian utara diprediksi memasuki musim hujan pada Desember 2026.
Menurut Ana, kondisi tanah yang kering dan merekah setelah melalui periode kemarau panjang perlu menjadi perhatian ketika hujan mulai turun. Terlebih, hujan dengan intensitas tinggi berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap longsor.
“Oleh karena itu, BMKG dan pemerintah daerah akan melakukan survei bersama,” ujar Ana, Rabu 7 Oktober 2026.
Survei tersebut dilakukan untuk memetakan wilayah yang menjadi prioritas penanganan berdasarkan kondisi faktual di lapangan. Hasil pemetaan nantinya diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi musim hujan.
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, pemerintah daerah berupaya mengubah pola penanganan bencana dari yang sebelumnya lebih banyak bersifat responsif menjadi langkah yang lebih antisipatif dan terencana.
“Prinsipnya, kita ingin langkah antisipasi yang terencana dengan baik,” kata Andra.
Pemprov Banten bersama BMKG serta pemerintah kabupaten dan kota akan memanfaatkan data dan informasi cuaca sebagai dasar dalam menentukan langkah mitigasi di masing-masing wilayah. Upaya tersebut diharapkan dapat meminimalkan risiko korban maupun kerugian akibat bencana hidrometeorologi.
Editor: Mastur Huda












