LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Dinas Kesehatan (Dinkes) Lebak mewaspadai melonjaknya kasus Demam Berdarah Deungeu (DBD) seiring masuknya musim penghujan di Kabupaten Lebak.
Dinkes Lebak mencatat dari Januari sampai September 2026, kasus penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegfty ini mencapai 920 kasus dan 3 orang meninggal dunia.
Dari 920 kasus DBD di Kabupaten lebak, Puskesmas Rangkasbitung paling banyak menangani kasus DBD mencapai 127 orang. Selanjutnya, Puskesmas Kalanganyar 70 dan Mandala Cibadak 56 orang.
“Memasuki musim penghujan perlu diwaspadai adanya lonjakan kasus DBD. Karena itu, kita terus koordinasi dengan Puskesmas agar terus mengingatkan warga menerapkan perilaku hidup bersih sehat (PHBS),” kata Kasi Pencegahan Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Lebak Rohmat Puji Raharjo, Rabu 7 Oktober 2026.
Ia mengatakan, daerah perkotaan menjadi wilayah paling banyak ditemukan kasus DBD. Dimana Puskesmas Rangkasbitung paling banyak menangani kasus DBD mencapai 127 orang. Kemudian Kecamatan Kalanganyar mencapai 70 orang dan Puskesmas Cibadak sebanyak 56 orang.
“Perkotaan paling banyak kasus DBD seperti Rangkasbitung, Kalanganyar dan Cibadak,” ujarnya.
Ia mengatakan, Pemkab Lebak melalui surat edaran Bupati tentang gerakan jumat bersih (Jumsih) serta telah mengintruksikan Dinkes serta seluruh Camat, Kepala Desa, Lurah, Kepala Puskesmas dan tenaga kesehatan di desa-desa untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat, agar senantiasa menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan gerakan PSN dan 3 M Plus.
“Gerakan Jumsih yang selama ini digalakannya akan sia-sia bila tidak didukung oleh semua elemen masyarakat. Karena itu, masyarakat harus lebih sadar akan menjaga kebersihan lingkungan bersama-sama, dengan cara gotong royong menjaga kebersihan,” ujarnya.
Ia mengatakan, perubahan cuaca yang terkadang hujan berpotensi berkembang biaknya nyamuk Aedes aegefty. Oleh karena itu, dia mengharapkan, masyarakat untuk terus meningkatlan PHBS di lingkungannya masing-masing.
“Penyebab munculnya kasus DBD itu akibat lingkungan kotor sehingga berpotensi berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti.
Sebab, populasi nyamuk tersebut berkembangbiak pada genangan air di barang-barang bekas, seperti kaleng, bak, ember, pot bunga, dan lainnya,” katanya.
Editor : Haidaroh












