Sejak pertama diajari makan sendiri, saya juga diajari mengukur kemampuan sendiri. Ukurannya sederhana: berapa banyak nasi, lauk, dan sayur yang sanggup saya habiskan.
Ayah, yang saya panggil Abah, disiplin soal ini. Beliau bisa marah kalau ada anaknya menyisakan makanan di piring. Keluarga kami punya kebiasaan makan bersama, baik pagi, siang, maupun sore. Hingga saya lulus SMP, kami sangat jarang makan malam. Biasanya sudah makan sore, karena selepas magrib waktunya belajar mengaji. Saat makan bersama, selalu ada kesempatan bagi beliau memperhatikan isi piring kami.
“Ambil secukupnya. Kalau kurang, tinggal tambah.”
Nasihat itu berulang. Kadang sebelum kami mengambil nasi, kadang ketika beliau melihat isi piring yang tampaknya terlalu bersemangat. Waktu kecil, saya lebih mudah memahami marahnya daripada maksudnya. Menghabiskan makanan terasa seperti aturan rumah yang harus dipatuhi. Belakangan, saya mengerti. Abah sedang mengajari kami menghargai sesuatu yang setiap hari tersedia, sampai mudah dianggap biasa. Makanan.
Beliau selalu mengingatkan, masih banyak orang di luar sana yang kekurangan. Dulu, kalimat itu terasa jauh. Orang-orang tersebut tidak duduk bersama kami. Kami tidak melihat piring mereka. Abah pun mengingatkan kalau kami makan berlebihan.
Jadi, menghabiskan makanan dimulai sejak mengambilnya. Secukupnya saja, supaya perut tidak perlu menanggung kesalahan tangan. Sekarang, nasihat itu sering muncul ketika saya melihat makanan tersisa. Di rumah, prasmanan acara undangan, saat sarapan di hotel, atau di restoran makan sepuasnya. Di rumah, kadang kita mengambil nasi seperti sedang lapar sekali. Lauk dan sayur ikut memenuhi piring. Setelah makan separuh, ternyata sudah kenyang. Sisanya diletakkan begitu saja, lalu terlupakan.
Di acara undangan, godaannya berbeda. Kita mengikuti antrean prasmanan dengan piring yang makin lama makin penuh. Nasi, mi, daging, ayam, dan sayur. Kadang khawatir juga, kalau nanti kembali, lauk yang diincar sudah habis. Lebih baik ambil sekarang, pikir kita. Sampai di kursi, barulah terasa terlalu banyak.
Apalagi ternyata masih ada bakso atau siomay di stan sebelah. Ingin mencoba juga, sementara isi piring pertama belum selesai.
Saat sarapan di hotel, pilihan yang banyak membuat kita ingin mencicipi semuanya. Nasi goreng diambil, roti menyusul. Ada bubur, telur, sosis, dan buah. Belum habis yang satu, sudah melirik yang lain. Saya pun kadang tergoda. Mata berkeliling duluan, sementara perut belum sempat diajak berunding.
Di restoran makan sepuasnya, atau all you can eat, ada godaan lain: merasa harus makan sebanyak mungkin karena sudah membayar. Kita menghitung sudah mengambil berapa porsi. Berhenti ketika kenyang malah terasa rugi. Padahal, perut tidak membaca harga paket.
Akhirnya, makanan tertinggal. Roti yang baru digigit, nasi yang masih separuh, atau daging yang telanjur diambil terlalu banyak. Petugas mengangkat piring. Meja bersih kembali. Sisa makanan menghilang dari pandangan, sehingga urusannya terasa selesai.
Karena itu, saya bisa memahami restoran yang mengenakan biaya tambahan untuk makanan yang sudah diambil tetapi tidak dihabiskan. Pelanggan boleh mengambil lagi, tetapi setiap porsi yang dipindahkan ke piring perlu diperhitungkan. Rupanya, nasihat Abah sekarang ada juga yang ditulis dalam tata tertib restoran. Bedanya, dulu cukup dengan tatapan beliau. Sekarang, ada tambahan di tagihan.
Kabar makanan dari program Makan Bergizi Gratis yang tersisa di sejumlah sekolah pun membuat miris. Sebagian berakhir menjadi pakan ternak, sementara masih ada warga yang kesulitan makan. Kalau terus tersisa, menu, porsi, dan waktu pembagiannya perlu ikut diperiksa.
Pada Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober, saya teringat kebiasaan makan keluarga kami. Lebih sering mengampar di lantai daripada duduk di meja makan. Abah tidak pernah menjelaskan soal ketahanan pangan. Nasihatnya cukup pendek untuk diingat seorang anak. Kalau kurang, tambah.
Tentu persoalan pangan tidak selesai dengan menghabiskan isi piring. Ada urusan produksi, harga, distribusi, dan kemampuan keluarga membeli makanan. Orang yang kesulitan makan membutuhkan jalan keluar yang nyata. Di meja sendiri, saya masih belajar menjalankan nasihat Abah. Menghabiskan yang sudah diambil, lalu memastikan apakah memang masih lapar sebelum menambah.
Saya membayangkan Abah duduk di meja all you can eat hari ini. Melihat saya kembali membawa piring penuh, padahal makanan masih tersedia dan bisa diambil kemudian. Mungkin beliau akan mengulang nasihat yang sama.
Dan saya, meski sudah lama bisa mengambil makan sendiri, ternyata masih perlu mendengarnya. (*)









