SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten berencana mengevaluasi jurusan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang dinilai sudah jenuh dan tidak lagi sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Pemprov Banten memperkuat pendidikan vokasi agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri.
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, penyesuaian program keahlian perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal. Pendidikan SMK diharapkan tidak sekadar menghasilkan lulusan, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan.
“Bahwa kita harus mengevaluasi jurusan-jurusan yang sudah jenuh,” kata Andra Soni, 23 Oktober 2026.
Menurutnya, pembenahan pendidikan vokasi tidak cukup hanya melalui evaluasi jurusan. Ketersediaan fasilitas praktik, sertifikasi kompetensi, serta kemampuan bahasa juga perlu diperkuat agar siswa lebih siap memasuki dunia kerja setelah lulus.
Salah satu upaya yang tengah dijajaki Pemprov Banten adalah pemanfaatan barang milik daerah yang belum digunakan secara maksimal untuk mendukung kegiatan praktik siswa SMK.
Andra mencontohkan kendaraan dinas lama yang sudah tidak digunakan. Aset tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan praktik siswa, khususnya untuk bidang keahlian yang membutuhkan pembelajaran teknis.
“Kita sedang cobakan konsultasikan dengan BPK dan pihak-pihak terkait. Maka ini bisa kita alihkan kepada SMK-SMK kita untuk sebagai bahan praktik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejumlah kendaraan dinas lama saat ini tidak lagi digunakan, tetapi proses penghapusan aset daerah memiliki prosedur tersendiri. Karena itu, pemerintah menjajaki kemungkinan pemanfaatannya agar aset tersebut tetap memberikan nilai guna, sekaligus menunjang pembelajaran di sekolah.
“Karena kita lihat banyak ya kendaraan-kendaraan dinas yang lama, segala macam yang saat ini mangkrak, tidak dipergunakan, tapi kesulitan untuk dihapus dari aset daerah. Nah, ini bisa kita optimalkan untuk bahan-bahan praktiknya anak SMK kita,” katanya.
Selain sarana praktik, Pemprov Banten juga mendorong penguatan sertifikasi kompetensi dan pelatihan bahasa yang disesuaikan dengan kebutuhan industri. Andra mencontohkan, pendidikan bahasa dapat dimulai sejak tahun pertama siswa masuk sekolah sehingga pada tahun ketiga mereka sudah memiliki sertifikasi yang dibutuhkan.
“Jadi tidak lagi kita bicara bahwa mereka lulus SMA baru mereka cari sertifikasi. Jadi benar-benar link and match dengan kebutuhan industri,” tegasnya.
Editor: Abdul Rozak












