“Mahabenar netizen dengan segala kata-katanya.”
Di layar ponsel, orang bisa menjadi hakim tanpa perlu mendengar keterangan. Cukup menonton potongan video, membaca judul, lalu mengetik ”salah”. Orang lain menyambung dengan makian. Ramai-ramai. Perkaranya sendiri belum tentu terang.
Kita ikut membagikan. Kadang dengan kalimat pengaman ”sekadar meneruskan”. Padahal, yang diteruskan bisa saja fitnah. Ada orang yang harus menanggung akibatnya, sementara kita sudah sibuk dengan kabar berikutnya.
Begitu ketahuan keliru, unggahan dihapus. Urusan dianggap selesai. Meminta maaf? Nanti dulu. Toh yang menyebarkan bukan kita seorang.
Kita bahkan sering menikmati perlakuan itu ketika korbannya orang yang tidak kita sukai. Makian terasa pantas. Aibnya layak dibuka. Kalau ada yang mengingatkan, ia dicurigai sebagai pembela. Menyuruh orang memeriksa kabar pun bisa dianggap memilih kubu.
Lalu kita bicara tentang persatuan. Terutama setiap Oktober.
Sumpah Pemuda kita peringati, ikrarnya kita ucapkan kembali. Tetapi selepas itu, seseorang masih bisa kehilangan teman hanya karena berbeda pilihan. Tahu ia mendukung siapa, kita sudah enggan membaca pendapatnya.
Kita bersedia bersatu, rupanya dengan syarat: yang lain ikut kita.
Padahal, para pemuda yang berikrar itu datang membawa perbedaan. Kalau semuanya harus serupa lebih dulu, untuk apa bersumpah menjadi satu bangsa?
Kita boleh membantah pendapatnya. Tetapi apa urusannya dengan aib keluarganya?
Kadang kabar buruk tentang pihak seberang terasa begitu menyenangkan. Kita buru-buru membagikannya. Jangan-jangan justru itu sebabnya kita malas memeriksa.
Ikrar kita masih sama. Hanya saja, saudara sebangsa kadang kita pilih-pilih.
Selamat Hari Sumpah Pemuda. *









