PANDEGLANG – Hujan deras yang terjadi sejak Senin (28/11) malam mengakibatkan 35 rumah di Kampung Neglasari, Desa Langansari, Kecamatan Saketi, dan belasan rumah di Desa Idaman dan Desa Surianeun, Kecamatan Patia, terendam banjir.
Ketinggian air di masing-masing daerah itu sekira 40 sampai 60 sentimenter. Banjir di dua kecamatan tersebut terjadi akibat meluapnya Sungai Cikaduen dan Sungai Cilemer.
Akibat bencana itu, warga di dua kecamatan tersebut mengalami kerugian jutaan rupiah karena tanaman padi mereka rusak terendam banjir.
Kepala Desa (Kades) Langansari, Kecamatan Saketi, Restu Sugrining Umam mengatakan, banjir terjadi sejak Selasa (29/11) dini hari di Kampung Neglasari. Ia memastikan, banjir yang setiap musim hujan itu terjadi akibat meluapnya Sungai Cikaduen. Untuk mengantisipasi hal itu, Restu berjanji akan mengusulkan penanggulan di Sungai Cikaduen. “Memang salah satu solusinya, kalau untuk banjir di Desa Langansari harus ada tanggul,” katanya, kemarin.
Sementara itu, pantauan Radar Banten di Kecamatan Patia, Selasa (29/11) siang, selain merendam belasan rumah, banjir juga menggenangi ruas Jalan Surianeun-Cimoyan, Kecamatan Patia. Ketinggian air di sana sekira mencapai 30 sampai 50 sentimeter.
Dihubungi melalui telepon seluler, Kades Idaman, Kecamatan Patia, Ilman membenarkan bahwa banjir menggenangi sejumlah rumah di desanya. Kata dia, walaupun masih dibilang aman, sejumlah warga mengaku khawatir. Soalnya, puluhan hektare tanaman padi yang baru berumur satu bulan ikut terendam. “Kalau permukiman warga, masih dibilang aman. Namun, hektaran tanaman padi juga terendam. Padahal, baru berumur sebulan. Jika banjir mencapai dua sampai tiga hari, bisa mengakibatkan gagal tanam,” katanya.
Ilman berharap, ada perhatian dari pemerintah khususnya Pemkab Pandeglang agar warga yang terkena bencana dapat perhatian. “Khususnya untuk para petani, karena bisa saja ada dampak dari banjir yang terjadi,” harapnya. (Herman/Radar Banten)








