Kecintaannya pada anak kecil membuat Rozetta Madiana banting setir menjadi pengasuh bayi orang lain. Meski sempat mencoba sebagai wanita karier di berbagai bidang, dunia anak selalu menariknya kembali. Membuatnya ingin terus bersama mereka dan menghabiskan banyak waktu dengan anak-anak.
Kesan ramah menghiasi Rozetta Madiana saat menyambut kedatangan wartawan Radar Banten di rumahnya di kawasan perumahan elite Bintaro, Rabu (26/7). Senyum tersungging dari wajah perempuan yang biasa disapa Tiki.
Ramah, hangat dan santun melekat di aura perempuan berusia 40 tahun itu. Dengan suara yang lembut, namun tegas Tiki menceritakan perjuangannya untuk memantapkan hatinya terjun di dunia anak-anak.
Berawal dari kedatangannya ke Jerman di tahun 2000 mengambil kursus AU Pair (Pendidikan Anak Pra Usia Dini) selama dua tahun. Pendidikannya yang sekilas ternyata merupakan asal muasalnya membuka tempat penitipan anak Bilik Dolan Daily Care bagi anak-anak umur 2 tahun sampai 7 tahun di kawasan BSD City.
”Saya enggak ngeh saat itu kalau saya jatuh cinta pada dunia anak-anak. Karena itu ketika kembali ke Indonesia saya enggak langsung ambil jurusan PAUD atau nerusin AU Pair di Jerman. Melainkan dengan rekomendasi orang terdekat, saya ambil jurusan hukum di Universitas Parahiyangan tahun 2002,” kata Tiki saat mengenang masamasa mudanya.
Dia mengatakan, selama mengenyam pendidikan di Bandung, dia sejenak melupakan dunia anak yang sudah dia pelajari. ”Saya orangnya sih fokus sama pekerjaan. Jadi pas kuliah di Unpar itu ya saya fokus saja kuliah. Selama empat tahun itu saya hanya fokus dengan mata kuliah yang berkaitan dengan ju rusan saja,” kata Tiki.
Begitupun lulus kuliah, merasa basic pendidikannya adalah hukum, akhirnya dirinya tenggelam di dalam pekerjaannya di bidang hukum. Beberapa kali, mengandalkan ijazah sarjana hukumnya, Tiki bekerja di berbagai bidang. Seperti in house lawyer di Jakarta serta menjadi staf IT di salah satu perusahaan di kota yang sama.
”Padahal Saya bukan ahli IT, tapi ya pada saat itu mindset saya sama seperti orang-orang pada usianya. Yang penting kerja,” kata Tiki mengatakan pera saannya.
Meskipun sudah mencapai kesuksesan pada umurnya, Tiki mengaku tidak merasa puas atas apa yang dicapainya. Menurutnya di dalam kepala dan hatinya masih ada ruang kosong yang tidak pernah terisi oleh kesuksesannya.
”Saya tetap merasa hampa, dan merasa masih banyak hal yang belum saya lakukan di pekerjaan tersebut. Namun ketika saya mengerjakan pekerjaan saya sampai selesai, ternyata perasaan itu tidak kunjung terisi,” ujar Tiki.
Pada tahun 2010, Tiki memiliki kesempatan untuk kembali ke Jerman. Meskipun bukan untuk belajar dia merasa ini adalah titik balik di dalam hidupnya. ”Waktu itu pertengahan tahun saya lupa, cuma sudah masuk musim dingin sih di Jerman. Di sana jadi nostalgia beberapa tahun lalu pernah ke Jerman. Finally ada rasa yang seperti rindu, kangen hangat pas ada di Jerman. Apalagi saat itu aku sedang ada di sekolahku namanya Saarbrucken di Berlin,” kata Tiki.
Kedatangannya ke Jerman membuatnya tahu bahwa dia rindu berbagai macam hal mengenai dunia anak. Hal yang kerap dia pelajari saat berada di Jerman. Pendidikan yang dia tempuh dalam durasi yang sangat singkat dibandingkan dengan masa kuliahnya yang menghabiskan waktu empat tahun itu.
”Sekembalinya ke Indonesia, saya langsung minta restu dengan keluarga saya. Meskipun memang mereka bilang berat, apalagi notabenenya keluarga saya adalah keluarga hukum. Tapi saya bilang dunia ini adalah dunia yang saya inginkan,” kata Tiki.
Tiki mengaku, banyak sekali hal yang memberatkan langkahnya untuk benarbenar terjun ke dalam dunia bisnis daily care. Apalagi, beberapa waktu lalu marak kasus pencabulan anak di bawah umur di sekolah-sekolah bertaraf internasional.
”Saya sempat pesimis. Kalau sekolah bonafid saja sudah tidak dipercaya, bagaimana dengan daily care rumahan asuhan yang saya miliki? Makanya saya berusaha meminta dukungan lagi dengan keluarga, dan hasilnya mereka percaya kalau saya pasti mampu menghadapinya,” ujarnya.
Sudah dibuka selama lima tahun, Tiki mengaku daily care miliknya hanya mengasuh dua anak di sesi pembukaan pertamanya. ”Sekarang, kita justru yang membatasi. Karena pegawainya tidak memadai dan ruangannya juga tidak terlalu besar untuk menampung banyak anak, akhirya kita hanya bisa menerima tiga anak per pengasuh. Yang saat ini kami masih memilik lima pengasuh,”ujarnya.
Tiki berharap, nantinya akan ada banyak cabang Bilik Dolan Daily Care di berbagai tempat. ”Saya ingin memberikan fasilitas kepada anak-anak yang orang tuanya bekerja tanpa harus merasa kesepian,” pungkasnya. (Annisa Fitrah Lela/RBG)










