Kisah kali ini datang dari pasangan Batong (52) dan Noni (50) bukan nama sebenarnya. Membangun bahtera rumah tangga 12 tahun lamanya, keduanya bertekad untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Namun apalah daya, semua sirna saat emosi merajai jiwa dan pikiran mereka.
“Jujur saja, Kang. Dahulu saya merasa beruntung dapet Kang Batong. Soalnya waktu itu, di usia yang ke-32 tahun, saya sudah bukan perawan. Kang Batong yang usianya 30 tahun masih perjaka,” terang Noni kepada Radar Banten.
Meski begitu, seperti dikatakan Noni, sejak awal Batong berjanji akan menerima apa adanya. Seolah membuktikan janji, Batong menunjukkan sikap sewajarnya ketika jalan berdua. Ya meski terkadang, Noni merasa bersalah lantaran tidak sempurna menjadi seorang wanita, tapi ia masih bisa tersenyum lega karena Batong selalu ada di sisinya. Wih luar biasa ya Kang Batong.
“Iya, dia sih orangnya santai. Ketika saya tanya tanggapan dia tentang keadaan saya, dia cuma tersenyum dan janji bakal menjaga perasaan saya,” kata Noni.
Noni mengaku, sebelum dengan Batong ia sempat menikah muda namun berujung perceraian. Meski begitu, ia wanita yang bisa dibilang pandai menjaga penampilan. Lantaran selama ini rutin berolahraga, lari pagi dan jogging setiap sore, membuat tubuhnya sehat layaknya artis-artis ibukota. Pokoknya, Noni memang bukan wanita biasa. Beuh, kenceng dong, Teh?
“Ya lumayanlah. Badan saya emang kelihatan kenceng, ya kata orang sih seksi gitu!” akunya bangga.
Lain Noni lain pula dengan Batong. Lelaki mapan dan matang ini, memiliki postur tubuh tinggi kekar dan berkulit sawo matang. Terlahir dari keluarga berada, Batong termasuk lelaki yang tak pernah kekurangan soal harta. Anak terakhir dari lima bersaudara ini hidup penuh warna di masa muda.
Singkat cerita, hampir setahun menjalani hubungan dengan Noni, ia menyatakan keseriusan menuju jenjang pernikahan. Saat itu Noni merasa harapan mulai kembali datang. Batong yang usianya lebih muda, ganteng, dan mapan, membuat Noni bahagia luar biasa. Seolah tak ingin melewatkan kesempatan, Noni langsung mengiyakan.
Namun, karena statusnya yang tak lagi perawan, ditambah usia di atas sang kekasih dua tahun, beberapa anggota keluarga ada yang tak terima dan menentang hubungan mereka. Namun karena sikap Batong yang kekeuh ingin menikahi Noni, semua kakak-kakaknya tak ada yang bisa bertindak.
“Ya waktu itu saya sempat khawatir juga. Untung orangtua dianya mah baik, Kang. Artinya ya menerima saya apa adanya gitu,” kata Noni.
Di awal pernikahan, mereka menjalani hari-hari layaknya pasangan pada umumnya. Batong bekerja di salah satu usaha kuliner milik orangtua dan Noni menjadi ibu rumah tangga. Ya, meski masih dibantu oleh pembantu di rumah, setidaknya untuk bersih-bersih dan mencuci, Noni masih bisa melakukannya.
Mencoba saling mengerti satu sama lain, Batong dan Noni mulai terbiasa menjalani hidup bersama. Hingga akhirnya, setahun kemudian, sang suami membeli rumah baru untuk tempat tinggal bersama Noni. Tentu saja, hubungan mereka semakin mesra. Pokoknya, Batong dan Noni diselimuti kebahgiaan.
Berjalan dua tahun pernikahan, baik Batong maupun Noni merasa kesepian. Layaknya pasangan suami istri pada umumnya, mereka membutuhkan kehadiran buah hati. Oleh karena itu, seolah ingin segera mewujudkan keinginan, mereka melaksanakan program menciptakan keturunan.
Namun apalah daya, tiga tahun berumah tangga, belum juga diberi keturunan. Setelah berusaha sekuat tenaga melakukan berbagai cara, mulai dari pengobatan medis sampai tradisional, akhirnya, apa yang diharapkan pun terwujud. Noni melahirkan bayi laki-laki nan lucu.
Seiring berjalannya hari, Batong dan Noni hidup bahagia dengan anak mereka yang mulai tumbuh balita. Melihat pertumbuhan sang anak yang mulai bersekolah, meminta uang jajan dan menyayangi kedua orangtua, Batong dan Noni semakin harmonis.
Namun saat sang anak beranjak sekolah ke tingkat menengah pertama, perekonomian keluarga Batong menurun drastis. Semua bisnis keluarga hancur, pokoknya, bangkrut habis-habisan. Diterpa kondisi seperti itu, Batong stres dan imbasnya ke istri. Sering marah-marah tak jelas, hubungan mereka mulai dilanda bencana.
“Ya saya sih waktu itu coba buat ngerti keadaan dia. Tapi kalau pulang cuma buat marahin saya doang, kan bikin emosi juga, Kang,” kata Noni.
Hingga suatu hari, peristiwa menyedihkan yang merupakan awal dari kehancuran itu terjadi. Saat Noni membereskan rumah, ia menerima telepon dari sekolah. Sang guru mengatakan kalau sang buah hati baru saja terserempet mobil saat hendak menyeberang jalan.
Noni syok luar biasa. Ia segera menuju puskesmas yang tak jauh dari sekolah sang anak. Sampai di sana, didapatinya sang buah hati menangis dengan beberapa bagian tubuh diperban. Tak lama kemudian, datanglah Batong setelah ditelepon Noni.
Mengetahui hal itu, Batong yang juga manusia biasa sempat syok dan tak percaya. Di puskesmas, bagai orang kesurupan, ia mengamuk memarahi sang istri. Parahnya, kata-kata yang keluar dari mulutnya serupa pedang menyayat tubuh. Aih, ngomong apa dia Teh?
“Sakit, Kang. Di depan banyak orang dia ungkit-ungkit masa lalu saya. Katanya, sudah bukan perawan, ngurus anak enggak becus, kamu bisa apa,” begitu kata Noni meniru ucapan Batong.
Saat itu, ruangan rawat inap seakan terasa semakin sesak. Tak ada kata yang keluar dari mulut Noni. Napasnya berat, orang-orang yang mendengar perkataan Batong seakan menatap sinis kepadanya. Hingga mereka pulang ke rumah, keluarlah semua amarah Noni. Seminggu kemudian, mereka sepakat menempuh jalur perpisahan.
Ya ampun, sabar ya Teh Noni. Semoga mendapat suami baru yang lebih bisa menjaga ucapan dan rahasia istri. (daru-zetizen/zee/ags)








