MEDAN – Musabaqah Tilawatil Quran Nasional XXVII di Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (12/10) malam ditutup oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pada event ini kafilah DKI Jakarta meraih juara umum. Sementara kafilah Provinsi Banten yang juara umum pada MTQ XXVI di Nusa Tenggara Barat pada 2016 harus puas di posisi kedua.
Persaingan kedua provinsi ini sangat ketat setiap penyelenggaraan MTQ tingkat nasional. Seperti pada MTQ XXVI saat Banten juara umum, DKI Jakarta berada di posisi kedua. MTQ tahun ini, posisinya berbalik.
DKI Jakarta juara umum setelah mendapatkan 64 poin dari akumulasi kemenangan di setiap cabang lomba MTQ. Yaitu 10 emas, 3 perak, dan 5 perunggu. Satu emas atau juara pertama di setiap cabang/golongan lomba dihitung 5 poin, perak juara kedua 3 poin, dan perunggu juara tiga 1 poin.
Sementara Banten di urutan kedua dengan perolehan 51 poin dari 6 emas, 6 perak, dan 3 perunggu yang didapatkannya.
Adapun 10 besar MTQ Nasional XXVII di Medan, yakni DKI Jakarta (64 poin), Provinsi Banten (51 poin), Sumut (37), Kepri (30), Jatim (27), Riau (26), Jabar (23), Aceh (18), DI Yogyakarta (16), dan Nusa Tenggara Barat (14).
Keberhasilan Banten di posisi kedua mendapatkan apresiasi. Rektor Untirta Prof. Dr. Sholeh Hidayat yang menjadi ketua pelaksana penyelenggaran MTQ tingkat Provinsi Banten tahun 2018 menilai bahwa kafilah Banten berusaha optimal.
“Kita banyak belajar dari keberhasilan DKI Jakarta. Belajar dan berlatih lebih keras lagi,” kata Sholeh yang disampaikan di grup WA LPTQ Banten.
“Kita masih bangga bisa di atas tuan rumah dan Jawa Barat. Di atas Jabar bukan hanya prestasi di MTQ, tapi juga termasuk prestasi bidang pendidikan,” lanjut Sholeh.
Sementara mantan Sekretaris Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Banten Machdum Bachtiar, mengatakan Kafilah Banten tinggal mengevaluasi kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki. Lalu, perbaiki dan tingkatkan untuk prestasi di masa datang.
Menurut dia, hasil yang dicapai sekarang sudah cukup baik dan bagus, di tengah persaingan peserta yang semakin kompetitif. “Selamat kepada seluruh Pengurus LPTQ Banten, para pembina, ofisial, dan para peserta yang telah berjuang all out demi Banten serta meraih urutan dua terbaik nasional,” katanya.
Machdum memaklumi jika saat ini Kafilah Banten bersedih. Sebab, sedih itu manusiawi. “Wajar bersedih bila yang kita harap tidak tergapai. Tapi di balik itu ada blessing in disguise yang berharga untuk kita ambil pelajaran dan untuk perbaikan secara komprehensif,” katanya.
Menurut Machdum, Banten masih kurang kompetitif dalam musabaqah non tilawah. Hal ini menjadi keunggulan DKI Jakarta. “Cabang ini mungkin yang harus menjadi fokus perhatian kita ke depan,” katanya.
Kata Machdum, tetap harus berbangga Banten masih sebagai kekuatan yang disegani lawan. “Juara 2 nasional adalah bukti bahwa mempertahankan jelas lebih berat daripada meraih. Jangan dilupakan, usaha yang telah dilakukan oleh pengurus LPTQ dan Kafilah MTQ Banten secara total dan maksimal. Sungguh perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa. Didukung penuh oleh Gubernur/Pemprov, Kanwil Kemenag dan stakeholder lainnya. Itu yg harus kita apresiasi,” katanya.
Ketua DKM Al Bantani KP3B yang juga bagian dari kafilah Banten, KH. Zaenal Abidin Suja’i meminta kafilah Banten tidak bersedih. Menurut KH. Zaenal, pasti ada hikmah di balik itu semua. “Kita bersyukur kepada Allah SWT atas peringkat yang telah diraih. Itu sudah merupakan upaya kita yang maksimal. Mudah-mudahan menjadi bahan evaluasi kita kedepan, apa saja kekurangannya dan bagaimana mencari solusinya,” ungkap Zaenal.
Atas dukungan sejumlah tokoh Banten, Ketua Harian LPTQ Provisni Banten Prof. KH. Syibli Syarjaya mengucapkan terima kasih dan mohon maaf.
“Terima kasih atas apresiasi dan dukungan warga Banten. Terima kasih atas perhatian kepada Kafilah Banten. Kita sudah berupaya maksimal, tetapi Allah menghendaki lain,” katanya. (aas)









