GENERASI muda di Banten sepakat melawan penyebaran informasi bohong dan hoax. Kondisi ini tidak terlepas dari derasnya perkembangan teknologi informasi digital. Demikian terungkap dalam Diskusi Publik ‘Pemuda dan Literasi Digital Menuju Indonesia Anti Hoax’ yang diselenggarakan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Provinsi Banten di Rumah Makan S’ Rizky, Ciceri, Kota Serang, Selasa (23/10).
Ketua DPW PGK Banten Syamsul Hidayat mengatakan, perkembangan arus teknologi memberikan dampak positif. Tapi, tidak sedikit perkembangan teknologi disalahgunakan berbuat menebar kebencian lewat informasi bohong atau hoax. “Penyalahgunaan medsos (media sosial-red) untuk menyebar informasi hoax terus banyak. Kami sepakat untuk meminimalisir penyebarannya,” ujarnya.
Alasannya, penyebaran informasi hoax dapat menghancurkan keberagaman Indonesia. Apalagi, di tahun politik, informasi tersebut beredar mengandung SARA penting harus diantisipasi. Ia mengatakan, perlawan terhadap maraknya informasi hoax seperti halnya para pejuang berusaha merebut kemerdakaan dari penjajah. “Merdeka itu tidak mudah, perlu berdarah-darah. Seperti halnya para pejuang,” katanya.
Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Banten Suparta Kurniawan yang hadir sebagai pembicara menegaskan, perbuatan penyebaran informasi hoax sepadan dengan penyebaran kebohongan. Islam secara tegas melarang perbuatan tersebut. “Yang dibutuhkan untuk memutus mata rantai itu yakni kesadaran kolektif atau bersama-sama. Sehingga hoax bisa diminimalisir,” katanya.
Pembicara lainnya, Wakil Ketua PW GP Ansor Banten, Tb. Adam Ma’rifat mengatakan, saat ini penyebaran hoax terjadi massif disebabkan oleh perilaku masyarakat juga yang cenderung tidak melakukan klarifikasi terhadap informasi yang beredar. “Jadi kadang-kadang, untuk menghindari jeratan UU ITE, mereka menyebarkan berita hoax dengan kalimat bertanya. Ini menyebabkan berita hoax menjadi berlipat ganda,” katanya.
“Jika ingin bertabayun, jangan di grup WA, tapi ke orang yang memiliki ilmu dan sumber yang terpercaya,” sambung Adam.
Sementara itu, Akademisi Unsera Rapih Herdiansyah mengatakan, trend media online bergerak cepat menuntut masyarakat cermat dalam menerima dan menyebarkan informasi di dunia maya. “Jika menyebarkan berita, cek domainnya, kalau menggunakan blogspot atau wordpress, maka dipastikan itu bukan berita,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat PGK Rian Hidayat menyatakan, dalam era perkembangan teknologi dan informasi saat ini, masyarakat dan generasi muda dapat lebih bijak dalam menyampaikan informasi. “Gerakan anti hoax harus dimulai dari diri sendiri. Kita harus mulai mengurangi membagi-bagikan berita bohong,” pungkasnya. (*)













