CILEGON – Peristiwa kebakaran di Kota Cilegon sejak Januari hingga 22 Agustus 2019 sebanyak 95 kasus. Dari jumlah tersebut, insiden paling banyak terjadi pada puncak musim kemarau Juli hingga Agustus ini, yakni mencapai 66 kasus.
Dari data yang dihimpun Radar Banten dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Cilegon, selama Juli terdapat 28 peristiwa kebakaran. Sedangkan pada pekan ketiga Agustus mencapai 38 kasus. Termasuk kebakaran Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung.
Kepala DPKP Kota Cilegon Nikmatullah mengakui, kemarau panjang selama beberapa bulan terakhir membuat kasus kebakaran melonjak. Kebakaran banyak terjadi pada alang-alang atau area terbuka yang ditumbuhi rerumputan kering.
“Dalam sepekan terakhir saja terjadi empat kali peristiwa kebakaran alang-alang. Musim kemarau yang panjang membuat area tersebut mudah terbakar hanya karena percikan api kecil,” jelas Nikmatullah kepada Radar Banten, Kamis (22/8).
Dibandingkan 2018, lanjut Nikmatullah, jumlah kebakaran tahun ini jauh lebih tinggi. Tahun lalu, sejak awal hingga akhir tahun, peristiwa kebakaran sebanyak 101. Sedangkan tahun ini, baru sampai pekan ketiga Agustus sudah terjadi 95 kasus.
Nikmatullah mengimbau masyarakat untuk berhati-hati serta waspada dalam aktivitas, khususnya berkaitan dengan api. Ia meminta kepada masyarakat untuk tidak membuang puntung rokok atau membakar sampah sembarangan karena bisa memicu kebakaran. “Kalau bakar-bakaran, jangan dulu ditinggal sebelum apinya benar-benar padam,” tuturnya.
Sementara itu, Sekretaris DPKP Kota Cilegon Lelah Sulelah menjelaskan, pada musim kemarau kebakaran alang-alang tidak hanya dipicu oleh percikan api kecil, tapi juga oleh panas yang ditimbulkan dari sengatan matahari. “Kadang-kadang pecahan kaca kena sinar matahari terlalu panas bisa menimbulkan panas dan akhirnya menyebabkan kebakaran juga,” tuturnya.
Selain alang-alang, sejak awal tahun peristiwa kebakaran banyak menimpa area permukiman seperti rumah, kos-kosan, mes, atau kontrakan. Penyebabnya adalah kelalaian penghuni rumah dan arus pendek listrik. Lelah juga mengimbau warga untuk terus waspada dan berhati-hati terhadap segala potensi yang bisa menyebabkan terjadinya kebakaran.
“Yang punya lahan, minimal dibabat alang-alangnya. Jangan ditinggalin aja, saat ada orang lewat buang puntung rokok terbakar. Kalau bakar-bakaran ditunggui jangan ditinggalin, kalau sudah padam baru ditinggalin. Kompor juga saat dinyalakan jangan ditinggalin. Terus listrik matikan saat mau meninggalkan rumah,” papar Lelah. (bam/ibm/ira)











