CILEGON – Sejumlah guru madrasah diniyah takmiliyah awaliyah (MDTA) di Kota Cilegon mempertanyakan honor yang biasa mereka terima. Berdasarkan keterangan sejumlah guru, seharusnya, honor yang bersumber dari APBD Kota Cilegon itu cair setiap enam bulan, yakni sebesar Rp2,4 juta. Namun, hingga September, honor belum juga cair.
Salah satu guru, Sirojul Fahmi menjelaskan, keterlambatan penyaluran honor oleh Kementerian Agama (Kemenag) Kota Cilegon itu berawal dari informasi rekening 400 guru dalam keadaan tidak aktif. Para guru pun diminta oleh Kemenag untuk kembali mengaktifkan rekening tersebut.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, para guru yang memiliki rekening tidak aktif itu langsung mengurus ke bank. Usai kembali aktif, guru-guru pun menyerahkan buku rekening tersebut ke Kemenag.
Namun, meski rekening aktif diserahkan pada pertengahan Juni lalu, sekira 37 guru sampai saat ini masih belum menerima honor daerah tersebut.
“Pertanyaannya, apa yang jadi kendala. Saya sudah beberapa kali ke Kemenag katanya masih proses, tapi tidak jelas prosesnya sejauh mana, kita kan butuh kejelasan,” ujar Fahmi kepada Radar Banten, Rabu (25/9).
Ia melanjutkan, para guru yang selama ini telah mengajar secara profesional dan penuh tanggung jawab perlu mendapatkan kejelasan dari Kemenag sebagai pengelola anggaran tersebut terkait kapan kemungkinan honor itu akan disalurkan.
Guru MDTA lainnya, Rukyatullaila pun mengeluhkan terkait telatnya penyaluran honor tersebut. Bagi para guru, uang sebesar Rp2,4 juta itu berharga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari para guru. “Penghasilan kami dari sana,” ujarnya.
Menurutnya, wajar jika para guru sangat menunggu penyaluran honor tersebut agar bisa menjalankan tugas sebagai guru dengan tenang dan penuh konsentrasi. Baik Fahmi maupun Rukyatullaila berharap, Kemenag Kota Cilegon segera melakukan pencairan honor tersebut. Kalaupun masih ada persoalan yang mengganjal proses tersebut, para guru berharap ada penjelasan. Menurut mereka, para guru siap menjalankan segala prosedur dan mekanisme yang berlaku asalkan jelas dan diketahui oleh para guru.
Dikonfirmasi terkait hal tersebut, Kepala Kemenag Kota Cilegon Mahfudin mengakui masih ada sejumlah guru diniyah yang belum menerima honor. Menurutnya, hal itu terjadi karena rekening para guru dalam keadaan tidak aktif.
“Kan rekeningnya rekening lama, rupanya diambil semua duit tuh dari rekeningnya sehingga rekeningnya sudah closing,” ujarnya.
Ia melanjutkan, dari 1.420 guru diniyah terdapat 37 orang guru diniyah yang belum terbayarkan honornya. Ia memperkirakan paling lambat pada Senin (30/9) mendatang, guru-guru akan menerima honor tersebut. (bam/ibm/ira)









