TANGERANG – Pemerintah Desa (Pemdes) Pematang, Kecamatan Tigaraksa, berencana menjadikan usaha kecil masyarakatnya sebagai unit usaha badan usaha milik desa (BUMDes) tahun ini. Usaha kecil itu, pembuatan kue semprong, keset, dan karpet.
Kepala Desa Pematang HE Asnawi menyatakan alasannya membidik usaha kecil masyarakatnya itu. Yakni, karena bisnis pembuatan kue semprong, keset, dan karpet sudah berjalan dan pasarnya jelas.
“Kue semprong ini merupakan hasil pembuatan dan usaha milik kelompok PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) Desa Pematang. Produksinya, saat ini, masih berjalan secara musiman. Mendekati puasa dan Lebaran (Idul Fitri dan Idul Adha-red), biasanya pesanan akan meningkat, bahkan sampai kewalahan karena kebanjiran pesanan,” ungkap Asnawi di ruang kerjanya, Kantor Desa Pematang.
Alasan lain membidik industri rumahan di Kampung Picung itu, terangnya, karena kue kering manis khas Kabupaten Tangerang. Pemerintah Desa Pematang mengincarnya menjadi unit usaha BUMDes juga agar kue semprong tidak hilang tergerus zaman.
“Pengusahanya sudah ada, pasarnya juga sudah jelas. Sayang kalau tidak dikembangkan. Selain menjaga semprong agar tetap ada di Kabupaten Tangerang, juga membantu meningkatkan ekonomi warga melalui usaha semprong,” terang Asnawi.
Pembuatan keset dan karpet di desa berpenduduk 9.874 jiwa ini juga sudah berjalan dan banyak diminati masyarakat. Usaha kecil ini memanfaatkan limbah karpet dari salah satu pabrik karpet di Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang. Limbah kain sisa karpet itu dirangkai kembali dengan jahitan menjadi keset lantai, tikar, dan karpet.
“Saat ini, usaha tersebut cukup lumayan. Banyak peminatnya. Untuk mengembangkan lebih luas lagi, maka itu akan diusulkan masuk menjadi usaha desa,” terang pria kelahiran 1960 itu.
Pengusaha kue semprong yang digerakkan kelompok PKK Desa Pematang, Enjum, menerangkan bahwa bisnis yang dijalaninya merupakan usaha turun-temurun, warisan keluarganya. Berbeda dengan kue semprong pabrikan yang menggunakan tepung terigu. Kue semprong buatan Enjum berbahan tepung beras dan gula pasir. Kue semprong dari Desa Pematang tanpa pewarna.
“Satu hari, biasanya menghabiskan dua kilogram tepung beras dan bisa menghasilkan 16 pis. Setiap pak ada 20 biji semprong dan dijual dengan harga Rp20 ribu. Semprong ini enggak dijual ke pasar atau warung, cuma pesenan saja,” terang Enjum, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) IV PKK Desa Pematang, saat membuat kue semprong di dapur rumahnya, Kampung Picung.
Sementara, pengusaha keset dan karpet Dede Mulyana menceritakan, usaha yang digelutinya bermula dari keisengannya memanfaatkan limbah karpet yang ia beli dari pabrik. Dede merintisnya sekira 2017. Ia memberdayakan ibu-ibu dan pemuda Desa Pematang.
“Kebanyakan limbah karpet yang sudah tidak terpakai itu dibuang atau dibakar. Nah, kan sayang tuh. Maka itu, saya coba buat menjadi keset. Syukur alhamdulillah, pertama dicoba dan langsung ada peminatnya,” tutur Dede.
Kini, omzet usaha Dede mencapai Rp2 juta per minggu. “Alhamdulillah, para pembelinya datang langsung ke sini. Bisa dibilang, keset-karpet ini satu-satunya di Kabupaten Tangerang. Harganya juga terjangkau. Untuk keset mulai dari Rp5 ribu hingga tikar karpet sekitar Rp150 ribu,” tutupnya. (pem/rb)









