SERANG – Cabang olahraga (cabor) bola tangan Banten masih belum beruntung. Tiket PON Papua 2020 gagal direbut usai atletnya gugur pada babak penyisihan grup ajang Pra PON 2019 di Purwokerto, Jawa Tengah, Selasa (22/10).
Pada Pra PON 2019 cabor bola tangan dibagi menjadi empat grup. Grup A, B, C, dan D. Dari empat grup itu, hanya dipilih tim yang juara satu untuk lanjut ke babak berikutnya guna memperebutkan juara umum I, II, dan III.
Untuk tim Banten, baik putra dan putri masuk ke grup B. Grup B diketahui sebagai grup neraka karena ditempati juga oleh tim Kalimantan Timur dan Jawa Timur yang didominasi atlet Timnas Indonesia yang berlaga di Asian Games 2018 lalu.
“Mohon maaf kepada seluruh masyarakat dan KONI Banten, kami dari cabor bola tangan belum bisa mempersembahkan hasil yang terbaik. Di pool B, tim putra kita kalah dari Jawa Timur dan Kalimantan Timur. Sehingga, kami tidak lolos,” kata manajer tim Pra PON bola tangan Banten Agus Iriawan, Jumat (25/10).
Sementara itu, Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI) Banten Hasreiza menilai ada beberapa faktor kekalahan tim bola tangan Banten pada Pra PON 2019. Pertama, tentang keprofesionalan wasit. Kedua, mengenai pembagian grup.
“Untuk perhelatan sekelas Pra-PON sangat tidak pas untuk menugaskan wasit-wasit yang baru belajar. Sehingga, keputusan-keputusan mereka di lapangan menjadi kontroversial. Kemudian untuk grouping tim seharusnya tidak perlu memisahkan tim unggulan-non unggulan. Biarkan saja alami agar tim non unggulan bisa mendapatkan kesempatan yang sama,” ungkap Hasreiza.
Kendati demikian, Hasreiza juga menyadari atlet Banten masih butuh belajar agar bisa bersaing dengan tim kuat di masa mendatang. Untuk itu, Hasreiza mengaku akan mengevaluasi atletnya agar lebih baik.
“Memang ini di luar ekspektasi. Kami akan mengevaluasi total pola seleksi atlet, program pelatda dan TC bola tangan. Mental atlet belum terbentuk kemungkinan besar karena kurangnya jam terbang. Karena belum maraknya event-event kejuaraan bola tangan skala nasional,” jelas Hasreiza. (rbs/nda/ira)








