GUNUNGSARI – Menghadapi penilaian tahap kedua Lomba Kampung Bersih dan Aman (LKBA) Kabupaten Serang 2019, warga RT 09 RW 02, Kampung Baleber, Desa Curugsulanjana, Kecamatan Gunungsari, terus mengejar kekurangannya. Rencana besar warga kampung ini, menyulap sampah menjadi barang bernilai ekonomi.
Pantauan Banten TV (grup Radar Banten), Jumat (22/11) siang, Kepala Desa Curugsulanjana Pawi bersama puluhan warga RT 09 RW 02, Kampung Baleber, bergotong royong membersihkan lingkungannya. Kegiatan ini sudah menjadi rutinitas warga setiap hari Jumat. Warga melakukannya juga sebagai persiapan menghadapi penilaian tahap kedua LKBA, awal Desember nanti.
Sampah di jalan utama kampung dibersihkan. Warga juga menyasar saluran drainase. Pasalnya, kebersihan saluran pembuangan air ini menjadi salah satu catatan tim juri saat melakukan penilaian tahap pertama, awal November.
Saat penilaian tahap pertama, Baleber mengusung konsep kampung pelangi. Warna-warni cat menghiasi setiap sudut kampung. Dari tembok rumah warga, jalan utama, gang-gang sempit, hingga pot bunga tidak luput dari goresan cat.
LKBA Kabupaten Serang 2019 dijadikan warga Baleber untuk meningkatkan kebersihan dan keamanan lingkungannya. Serta, membiasakan warga agar hidup bersih dan menjaga keamanan lingkungannya.
Kemarin, ibu-ibu warga Baleber juga tidak mau kalah. Mereka mengumpulkan sampah plastik bekas sisa produksi usaha menengah kecil (UKM) di kampungnya. Ibu-ibu menyulapnya menjadi polybag untuk tanaman hias. Botol-botol plastik bekas juga dijadikan pot tanaman oleh tangan-tangan terampil ibu rumah tangga di RT 09 RW 02, Kampung Baleber.
Menurut Ketua RT 09 RW 02, Kampung Baleber, Taslim, kegiatan ibu-ibu di kampungnya itu setelah mendapat pelatihan tentang cara mendaur ulang sampah dari pihak Kecamatan Gunungsari dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang. Pengetahuan itu jadi modal warganya untuk mendaur ulang sampah menjadi barang bermanfaat. Salah satunya adalah mengelola sampah organik untuk kompos.
“Sedangkan untuk sampah non organik seperti plastik, akan kita jadikan kerajinan tangan seperti bunga dan kerajinan tangan lainnya yang kemudian hasilnya bisa dijual. Pengolahan sampah ini juga dilakukan untuk mengurangi sampah limbah rumah tangga di Baleber,” terangnya.
Pemuda di kampung ini pun turut andil menjadikan kampung mereka bersih dan aman. Mereka mempercantik pos ronda dengan cat warna-warni.
Taslim mengatakan, pemuda di kampungnya tidak hanya mengecat pos ronda. Pemuda juga ikut melengkapi peralatan pos ronda, seperti kentongan, jadwal ronda, menempelkan nomor – nomor penting, tongkat, dan kelengkapan lain. “Kelengkapan pos ronda di Baleber ini sebelumnya juga jadi catatan tim juri karena minim kelengkapan. Tapi sekarang, sudah kita lengkapi,” kata Taslim.
Taslim menambahkan, pihaknya juga menyediakan tempat sampah dari ember bekas yang dicat. Tempat sampah ini akan dibagikan kepada warga. Setiap rumah, ada dua tong sampah. Dengan dua tong sampah itu, warga dipaksa membiasakan diri membuang dan memilah sampah organik dan non organik. “Untuk tempat pembuangan sampah akhir pun kita sudah sediakan, dan kita juga akan membuat dinding pembatas untuk TPSA di Baleber,” jelas Taslim.
Di tempat yang sama,Kasi Pelayanan Pemerintah Desa Curugsulanjana Sanuri menyatakan bahwa pemerintah desa telah membentuk kelompok sadar hukum dan kelompok peduli lingkungan. Anggotanya, warga Baleber. “Saat ini, masih tahap proses pembuatan SK (surat keputusan-red) dari kepala desa. Kita targetkan, tanggal 4 Desember, pada penilaian tahap kedua nanti, kekurangan yang menjadi pekerjaan rumah warga Kampung Baleber dari tim juri sudah rampung dan siap untuk dinilai kembali oleh tim juri,” harap Sanuri. (jay/ang/don/ags)










