RANGKASBITUNG-Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) RI Sakti Wahyu Trenggono melakukan kunjungan kerja ke kampung Patin Cisilad, Desa Prabugantungan, Kecamatan Cileles, Rabu (8/12).
Kampung Patin Cisilad merupakan tempat budidaya ikan patin kolam tanah seluas 15 hektar yang digagas Wakil ketua bidang Maritim Kadin RI Mulyadi Jayabaya (JB).
“Disini akan menjadi kampung patin yang bersekala besar. Harapan saya Lebak menjadi kampung patin yang besar. Bisa memproduksi sebanyak 3 juta ton. Kalau itu bisa menyebar se Lebak dan Banten maka keuntunganya mencapai Rp9 Triliun untungnya,” kata Trenggano, kemarin.
Dia berharap, dua tahun kedepan pembudidayaan ikan patin di daerah yang dipimpin Bupati Iti Octavia Jayabaya ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kita akan bekerjasama dengan pemerintah daerah supaya pembudidayaan ikan patin bertambah. Kesejahteraannya harus meningkat hingga 200 persen. Caranya negara harus hadir. Karenanya kementerian KP memberikan bantuan pinjaman modal dengan bunga cukup rendah yaitu 3 persen per tahun,” ujarnya.
Menurutnya, sektor usaha perikanan tidak terdampak pandemi COVID-19, sebab perikanan merupakan jenis makanan atau Food. Bahkan, usaha perikanan hingga kini berkembang baik sektor perikanan kelautan, pedalaman dan pesisir.
“Patin ini memiliki nilai ekspor yang sangat tinggi,” katanya.
Menurutnya, kampung patin yang tengah dikembangkan di Kabupaten Lebak sejalan dengan kementerian KP yang ingin masyarakat di pedalaman sejahtera.
Sementara itu JB mengatakan, ingin menjadikan Kabupaten Lebak sebagai daerah sentra ikan patin dengan hasil produksi ikan patin mencapai 3 juta ton per sekali panen.
“Alhamdulilah pak Menteri Kelautan dan Perikanan, Pak Trenggono beserta rombongan sudah dua kali berkesmpatan ke Kampung Patin Cisilad ini,” kata mantan Bupati Lebak ini.
Kata dia, di Kampung Patin Cisilad tersedia kolam tanah seluas 15 hektar. Dengan jumlah kolam tanah sebanyak 197 kolam dengan kapasitas benih sebanyak 2,9 juta ekor.
Bila sudah berjalan, Jb optimis, budidaya ikan patin yang tengah dikembangkan akan berdampak pada ekonomi serta berdampak pada pembukaan lapangan kerja.
“Satu patin butuh biaya Rp12 ribu dari awal sampi akhir. Jadi kalau di jual Rp17 ribu sudah untung Rp5 rb. Tinggal dihitung produksi ikan patinnya,” katanya.
Dia meminta Dinas Perikanan Kabupaten Lebak untuk mensosialisasikan prospek budidaya ikan patin. Sebab, bukan hanya di Cisilad Cileles saja tapi juga Cimarga, Cigemblong, Cibeber dan sejumlah daerah lainnya.
Menurut Jb, rata-rata petani pembudidaya kesulitan soal modal. Karena itu Kementerian KP melalui Badan layanan umum lembaga pengelola modal usaha kelautan dan perikanan memberikan bantuan pinjaman modal dengan bunga cukup rendah yaitu 3 persen per tahun.
“Alhamdulillah untuk membantu permodalan pembudidayaan ikan patin, Kementerian KP juga memberikan pinjaman dengan bunga rendah di bawah KUR yaitu hanya 3 persen dalam jangka waktu 5 tahun,” ujarnya.(din)











