PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Permata Ibunda di Jalan Stadion Badak, Kelurahan Saruni, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang mengelar acara seminar kesehatan Tumbuh Kembang Anak. Acara seminar kesehatan itu menghadirkan narasumber ahlinya yakni seorang Dokter Spesialis Anak RSIA Permata Ibunda dr Ian Suryadi.
Menurut Direktur RSIA Permata Ibunda dr M Rasyid Ridho Anazrie MARS, mengucapkan, syukur Alhamdulilah di pekan ketiga bulan Juni 2023 ini terealisasi, kegiatan seminar kesehatan.
“Seminar kesehatan tumbuh kembang anak yang insyaallah bisa menjangkau masyarakat luas. Kami bisa share informasi, utamanya karena tumbuh kembang anak ini, jadi isu di Pandeglang karena kami lihat kasus stunting dan sebagainya masih cukup banyak,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Sabtu, 24 Juni 2023.
Masih tingginya kasus stunting ini menjadi tugas bersama. Artinya bukan hanya pemerintah dan dinas terkait tetapi juga RSIA Permata Ibunda memiliki kepedulian yang sama berupaya menurunkan angka stunting melalui kegiatan seminar kesehatan tumbuh kembang anak.
“Sehingga atas dasar konsen ini kami akan secara serial, membuat kegiatan seminar – seminar tumbuh kembang anak. Dan insyallah dalam waktu dekat kami akan melaunching, untuk klinik tumbuh kembang sehingga, ayah bunda yang merasa ada permasalahan atau mengkonsultasikan tumbuh kembang anaknya bisa datang ke rumah sakit kami RSIA Permata Ibunda,” katanya.
Dokter Rasyid mejelaskan, Insyallah seminar ini berkelanjutan akan secara serial. Diikuti seminar – seminar selanjutnya meskipun, nanti tidak terbatas pada tumbuh kembang anak saja.
“Kami akan melihat, apa sih keinginan masyarakat. Apa sih informasi yang didapat oleh masyarakat, tentunya akan kami sesuaikan,” katanya.
Dokter Rasyid menjelaskan, Klinik tumbuh kembang anak ini secara khusus belum ada di Pandeglang.
“Insyallah ini akan menjadi salah satu keunggulan RSIA Permata Ibunda memiliki layanan klinik tumbuh kembang anak,” katanya.
Dokter Spesialis Anak RSIA Permata Bunda dr Ian Suryadi menyampaikan, salah satu upaya mencegah anak stunting itu sebagai orang tua ketika setiap kali datang ke pelayanan kesehatan minta tolong dicek pertumbuhan anaknya.
“Tolong dicek pertumbuhan anaknya baik apa enggak. Sebagai upaya pencegahan anak stunting,” katanya.
Anak stunting atau malnutrisi berdasarkan hasil penelitian sebesar 25 persennya itu memiliki IQ rata-rata 51-70. Makin banyak malnutrisi maka IQ nya makin rendah.
“Sedangkan orang yang IQ nya 131-150 ini hanya terdapat pada anak yang sehat. Jadi enggak ada anak gizi buruk bisa sampai IQ 131 – 150,” katanya.
Dokter Ian menjelaskan, bahwa data tersebut merupakan hasil penelitian dari negara – negara berkembang. Termasuk di Indonesia.
“Jadi ini ngomongin fakta bukan mitos – mitos. Jadi kalau orang bilang, hati – hari loh, jangan sampai anak gizi kurang nanti bisa bodoh itu benar, bukan mitos,” katanya.
Oleh karenanya, Dokter Ian, berharap kepada masyarakat, agar memantau tumbuhan kembang anaknya. Hal itu dapat dilihat dari empat aspek.
“Ada perkembangan motorik kasar, motorik halus, bahasa dan personal sosial. Ada empat aspek yang harus dievaluasi pada masa tumbuh kembang anak,” katanya.
Kalau misalkan saat dievaluasi, misal gerak motorik kasarnya terganggu atau salah satunya saja biasanya kelainannya tidak berat. Bisa diobati dengan baik dan cepat hasilnya.
“Kalau cuman satu komponem. Tapi kalau lebih dari dua komponem gangguannya sudah lama, dan biasanya ada penyakit yang berhuhungan dengan otak, jangan – jangan waktu lahir otaknya enggak normal,” katanya.
Sekali lagi, Dokter Ian menegaskan, ketika mengunjungi fasilitas kesehatan agar menanyakan empat aspek perkembangan anaknya. Sedangkan kalau dirinya biasanya menanyakan kepada pasiennya itu dua aspek perkembangan anaknya.
“Kalau saya selalu tanyakan gerak motorik kasar sama bahasa. Bu anak usia 18 bulan sudah bisa lari belum, sudah bisa naik turun tanggal belum, itu untuk mengetahui gerak motorik kasar,” katanya.
Kemudian menanyakan, terkait kemampuan anak sudah bisa ngomong atau bicara apa saja. Hal itu untuk mengevaluasi perkembangan aspek bahasa anak.
“Sedangkan untuk pertumbuhan anak penting memantau berat badan dan tinggi badan. Kalau pertumbuhannya bagus biasanya perkembangan anak juga bagus,” katanya.
Reporter: Purnama Irawan
Editor: Aditya











