PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS berdampak signifikan pada sektor ekspor kopi. Harga kopi ekspor mengalami peningkatan tajam akibat fluktuasi mata uang tersebut.
Penurunan nilai rupiah ini memberikan keuntungan bagi salah satu petani kopi robusta asal Kampung Sanim, Kelurahan Juhut, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, karena mereka menerima pembayaran dalam dolar AS. Dengan nilai tukar yang lebih tinggi, pendapatan dalam rupiah pun meningkat meskipun volume ekspor tetap.
Petani kopi asal Kampung Sanim, Pandeglang, Maman mengatakan bahwa harga pasar kopi robusta relatif mengalami kenaikan di tingkat ekspor, yang memang berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah.
“Kalau kita update tahun ini, harga pasar kopi robusta diangka Rp 76 ribu tergantung dari greenben (GB), tapi kalau dipasaran lokal ditingkat pengepul itu diangka Rp 50 ribu,” kata Maman, Minggu 30 Juni 2024.
Ia menyebutkan banyak yang bilang bahwa harga kopi robusta dipasar nasional sedang tidak baik-baik saja lantaran tidak dibarengi dengan kualitas kopinya walaupun harganya tengah merangkak naik.
“Jadi sebenarnya mereka sah-sah saja ya mau menerima kopi, tetapi itu untuk Banten ini hebatnya bisa mengikuti harganya bisa menyesuaikan harganya di nasional,” tuturnya.
Namun, di sisi lain, situasi ini bisa menimbulkan tantangan bagi para petani kopi domestik yang harus menyesuaikan harga dan kualitas terbaik di tengah meningkatnya biaya produksi.
Ia menjelaskan, kopi robusta yang dijual eksportir, menurutnya kopi yang saat ini diserap dari petani itu dijual hanya 30 persen ke nasional.
“Ya dampaknya luas lumayan, sebenernya kalau dilihat dari dampak perekonomian ini salah satunya inflasi, dari pengolahan yang baik tapi kopi ini bisa bertahan hidup walaupun kenaikan inflasi,” jelasnya.
Ia melanjutkan, pengembangan kopi di wilayahnya belum terbilang fokus terhadap satu titik, seperti halnya di daerah Jawa Barat, Aceh dan Gayo, yang intens dalam industri perkopian tersebut.
“Tetapi kalau di kita yaitu adanya masyarakat yang punya pohon kopi, belum ada yang fokus petani kopi. Jadi catatan tuh buat pemerintah kalau mau bikin projectnya tuh, saya yakin masyarakat Pandeglang tuh punya kopi tapi belum fokus karena belum dirasakan oleh petaninya,” paparnya.
Kenaikan harga ekspor diharapkan bisa memberikan dorongan ekonomi bagi para petani di Pandeglang Banten dan industri kopi di Indonesia.
Editor: Abdul Rozak











