PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Nelayan di pesisir Pantai Carita Kabupaten Pandeglang mengalami kesulitan bersandar ke dermaga Tempat Pelelangan Ikan karena terjadinya pendangkalan parah di bibir Muara Carita.
Terjadinya pendangkalan ini mengakibatkan para nelayan harus bersusah payah mendorong kapal secara manual agar kapal atau perahu nelayan pengangkut ikan bisa masuk ke TPI Carita, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang.
Pendangkalan di mulut Muara Carita sudah sangat parah ketika terjadi musim kemarau. Sedimentasi lumpur muncul ke permukaan sehingga nelayan harus mencari celah yang ada aliran air dan tidak ada batunya untuk bisa memasuki Muara Carita
Salah satu Nelayan Carita Marzuki mengatakan, memasuki musim kemarau debit air di Muara Carita surut.
“Saat surut inilah nelayan mengalami kesulitan saat akan menyandarkan perahu dermaga TPI Carita. Ataupun memasuki aliran sungai Muara Carita,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, di Muara Carita, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis, 5 September 2024.
Nelayan kesulitan karena terhalang oleh sedimen lumpur dan batu karang. Menyebabkan perahu harus didorong oleh beberapa orang dan puluhan orang agar bisa masuk ke Muara Carita. “Jumlah orang yang dorong bergantung dari ukuran kapal atau perahunya,” katanya.
Marzuki mengungkapan, kondisi ini mengalami keparahan semenjak terjadi tsunami tahun 2018 lalu. Lantaran banyaknya bongkahan batu karang yang menancap di Muara Carita.
“Sehingga membuat nelayan kesulitan baik mau bersandar ke Muara Carita maupun saat ke luar melaut melalui mulut Muara Carita,” katanya.
Lebih lanjut Marzuki mengungkapan, solusi dalam mengatasi masalah pendangkalan ini bisa dilakukan dengan pengerukan sedimen lumpur.
“Lalu melanjutkan program yang dulu. Program pembangunan DAM (tanggul pemecah ombak) sepanjang Muara. Sisanya kurang lebih sepanjang 500 meter lagi,” katanya.
Pada saat ini, DAM atau pemecah ombak baru terpasang di sepanjang sebelah timurnya saja. Sedangkan sebelah barat baru sampai tepi pantainya.
“Kalau saja program itu dilanjutkan maka pada mulut Muara Carita tidak akan mengalami pendangkalan parah,” katanya.
Hal itu terjadi, lantaran pasir pantai akan terhalang oleh DAM. Sehingga tidak menumpuk di Muara Carita. “Kalau sekarang ini ketika ada arus laut dari barat maka otomatis pasir pantai akan masuk ke dalam pintu muara,” katanya.
Program dulu itu, sebelum terjadi bencana tsunami, pemerintah berencana membangun pintu masuk muara. Jadi bagian mulut muara itu menjulur ke tengah laut. “Jika program dulu dilanjutkan maka jalan nelayan tidak akan tertutup lagi,” katanya.
Selain mencegah terjadinya pendangkalan, keberadaan DAM juga membantu mengurangi resiko terjangan ombak. Serta melindungi permukiman penduduk di pesisir Pantai Muara Carita.
“Waktu tsunami 2018 lalu juga kalau tidak ada DAM ini maka banyak korban. Tapi untungnya ada DAM sehingga ombak besar terhalang tidak sampai menghantam pesisir,” katanya.
Nelayan lainnya, Cecep mengatakan, selain melanjutkan pembangunan DAM, pemerintah perlu melakukan pengerukan batu karang yang berada di tengah-tengah mulut Muara Carita.
“Adanya batu karang itu membuat nelayan kesulitan saat akan melaut maupun bersandar ke Muara Carita,” katanya.
Editor: Abdul Rozak











