CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kota Cilegon melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) terus berupaya menghidupkan kembali pasar-pasar tradisional di tingkat kecamatan yang selama ini mangkrak.
Langkah tersebut merupakan respons atas dorongan DPRD Kota Cilegon agar fasilitas publik itu kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Kepala Disperindag Kota Cilegon, Andriyanti, mengatakan, saat ini pihaknya fokus membenahi beberapa pasar yang tidak berjalan optimal, salah satunya Pasar Tegalbunder di Kecamatan Purwakarta.
“Tahun ini kami sudah membebaskan lahan akses masuk Pasar Tegalbunder, karena sebelumnya aksesnya masih milik warga. Pembayaran sudah selesai, dan kami sudah koordinasi dengan tokoh masyarakat, camat, dan lurah. Tahun ini kami akan mulai aktif kembali,” ujar Andriyanti kepada Radarbanten.co.id melalui sambungan telepon pada Senin, 9 Juni 2025.
Lebih lanjut, pihaknya akan mengusulkan anggaran pemeliharaan pada Anggaran Belanja Tambahan (ABT) tahun ini.
Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya anggaran tersebut pernah dialokasikan, namun tidak bisa digunakan karena status lahan belum resmi menjadi aset Pemkot.
“Kalau kita pelihara sebelum pembebasan selesai, khawatir malah jadi temuan karena bukan aset resmi Pemkot,” jelasnya.
Untuk menggerakkan kembali aktivitas perdagangan di pasar-pasar tersebut, Disperindag berencana menjalin kerja sama dengan Bulog dan PT Rajawali Nusindo melalui program operasi pasar murah.
Program ini direncanakan digelar di Pasar Tegalbunder, Pasar Cikrai, dan beberapa pasar lainnya.
Meski begitu, Disperindag masih menghadapi tantangan besar di lapangan, terutama soal rendahnya minat pedagang untuk menempati kios yang tersedia.
“Kami sudah tawarkan ke pedagang di Pasar Kranggot untuk buka di Pasar Cikrai, tapi banyak yang menolak karena dianggap terlalu jauh dan sepi pembeli,” ungkapnya.
Sebagai alternatif, Andriyanti menyebut, pihaknya terbuka terhadap usulan masyarakat agar pasar-pasar yang tidak berjalan bisa difungsikan sebagai pasar tematik, seperti pasar durian, pasar kelapa, atau pasar komoditas lainnya.
“Yang penting ada aktivitas ekonominya. Jangan sampai bangunan pasar hanya jadi monumen,” tegasnya.
Saat ini, pihaknya sedang intensif menyusun tahapan pengaktifan kembali pasar-pasar yang dinilai mati suri.
“Kalau Pasar Tegalbunder, insya Allah, masyarakat sekitar sangat mendukung. Kami sudah punya rencana tahapan untuk membangkitkan kembali,” tutupnya.
Andriyanti juga menambahkan bahwa saat ini Pasar Warnasari di Kerenceng masih berfungsi, namun dengan fokus kegiatan berbeda.
“Pasar Warnasari saat ini lebih fokus ke kegiatan UMKM, bukan penyediaan bahan baku seperti pasar tradisional pada umumnya,” pungkasnya.
Editor: Agus Priwandono











