PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Siapa sangka, dari desa kecil di Pandeglang, sekelompok ibu rumah tangga berhasil menyulap talas berukuran jumbo menjadi produk kekinian yang siap bersaing di pasar nasional. Lewat sentuhan teknologi dan pelatihan digital, Kelompok Wanita Tani (KWT) Sendaloka Desa Juhut kini naik kelas jadi pelaku UMKM modern berbasis digital.
Talas beneng (Xanthosoma undipes), umbi raksasa dengan berat hingga 25 kilogram dan daun setinggi orang dewasa, kini tak lagi sekadar dijual mentah atau direbus. Berkat pendampingan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), talas ini tampil dalam bentuk keripik, bolu kukus, choco chips, hingga bolu panggang manis.
“Masalah utamanya kandungan oksalat yang tinggi, sehingga kalau salah olah bisa bikin gatal. Akibatnya, talas beneng lebih sering dijual mentah atau sekadar direbus,” jelas Ketua Tim Pengabdian PKM Untirta, Sri Agustina, S.T., M.T. Ph.D, Kamis 18 September 2025.
Ia juga menyoroti tantangan lain: rendahnya keterampilan teknis, kurang inovasi pengolahan, dan kemasan yang belum menarik. Tantangan itulah yang mendorong tim dari Fakultas Teknik Untirta, melibatkan Prodi Teknik Kimia, Teknik Industri, dan Informatika untuk menggelar pelatihan terpadu.
“Selain itu, kegiatan pengabdian masyarakat PKM juga memberikan pelatihan dan pembuatan e-Commerce untuk pemasaran Talas Beneng, agar produk inovasi Talas Beneng bisa diketahui dan dikonsumsi oleh masyarakat luas, tidak hanya di desa Juhut Pandeglang saja,” lanjut Sri Agustina.
Transformasi nyata pun terlihat. Produksi harian yang tadinya hanya 10 bungkus kini ditargetkan naik dua kali lipat. Ibu-ibu yang dulunya hanya mengolah di dapur rumah, kini dibekali mesin penepung, oven, hingga cake maker. Semuanya dilakukan di desa, lebih hemat, efisien, dan mandiri.
Lebih dari sekadar produksi, kemasan produk pun dirancang profesional.
“Kemasan itu kunci, karena produk bagus tanpa kemasan modern sulit bersaing,” kata anggota PKM Dr. Nurul Ummi, ST., MT.
Produk olahan kini hadir dalam kemasan aluminium foil dan box menarik, lengkap dengan label halal, informasi gizi, dan tanggal kedaluwarsa. Ini membuka peluang untuk masuk ke toko modern dan pasar daring.
Di sisi pemasaran, tim juga melatih ibu-ibu membuka akun Instagram bisnis, membuat katalog digital, dan memasarkan produk lewat marketplace seperti Tokopedia dan Shopee.
“Dengan digital marketing, kami ingin produk olahan talas beneng bukan hanya dikenal di Pandeglang, tapi juga di pasar regional bahkan nasional,” tegas Arief Rahman, S.Kom., M.Kom., anggota kegiatan PKM.
Kini, sebanyak 30 anggota KWT Sendaloka tak hanya piawai memasak, tapi juga menguasai produksi bersertifikat, kemasan, pemasaran digital, hingga legalitas produk. Talas beneng pun bertransformasi menjadi ikon baru Banten, sekaligus simbol kebangkitan ekonomi perempuan desa berbasis inovasi lokal.
Editor : Merwanda











