PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID -Ketua HMI Badko Bidang ESDM Jabodetabeka-Banten, Entis Sumatri mengatakan, tepat pada tanggal 5 Februari 2026, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) genap menapaki usia ke-79 tahun. Sebuah perjalanan panjang sejak 1947 yang bukan sekadar angka, melainkan manifestasi dari konsistensi menjaga dua komitmen besar, yakni aspek Keislaman dan aspek Keindonesiaan.
Sebagaimana gagasan Nurcholish Madjid (Cak Nur), HMI harus senantiasa menjadi jembatan antara nilai-nilai transendental dengan realitas sosiologis bangsa Indonesia.
Tujuan HMI yang termaktub dalam Pasal 4 Anggaran Dasar bukanlah deretan kata tanpa makna.
Rumusan, terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujud nya masyarakat adil makmur yang di Ridhoi Allah SWT merupakan representasi dari konsep Insan Kamil.
Dalam perspektif Cak Nur, modernisasi adalah keharusan, namun tetap berpijak pada nilai tauhid.
HMI dituntut untuk mencetak kader yang tidak hanya mahir secara intelektual (akademis), tetapi juga memiliki daya kreasi (pencipta) untuk memberikan solusi nyata (pengabdi) bagi persoalan umat.
Menurut Entis, pada usia ke-79 ini, tantangan HMI semakin nyata dengan adanya pergeseran paradigma sosial akibat kemajuan teknologi.
“Dalam konteks hari ini, independensi HMI harus dimaknai sebagai kemandirian dalam berpikir dan bertindak di tengah arus informasi digital yang masif,” katanya.
Kader HMI tidak boleh terjebak dalam kepentingan politik praktis yang pragmatis. Namun harus menjaga marwah organisasi dari intervensi eksternal yang dapat melumpuhkan daya kritis.
“Digitalisasi jangan sampai menumpulkan nalar kritis. Sebaliknya, perangkat digital harus menjadi alat bagi kader HMI untuk menyebarkan gagasan pembaruan, melakukan kontrol sosial, dan mengawal kebijakan publik secara lebih cepat dan akurat,” katanya.
Perjuangan HMI adalah perjuangan menuju masyarakat yang berkeadilan. HMI harus lebih mengedepankan substansi nilai Islam dalam pembangunan bangsa.
“Program-program strategis, termasuk dalam bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), harus diarahkan pada pemanfaatan kekayaan alam yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat secara adil,” katanya.
Memasuki usia ke-79, khitah perjuangan HMI sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan tidak boleh goyah.
“Kita harus tetap menjadi organisasi yang adaptif terhadap perubahan zaman, namun tetap prinsipil dalam memegang teguh nilai kebenaran. Semoga HMI terus melahirkan pemikir-pemikir besar yang mampu menjawab tantangan zaman dengan kecerdasan spiritual dan ketajaman intelektual,” katanya.
Editor: Bayu Mulyana











