Saat ini, Rohanah dan keluarganya ditempatkan di Wisma Bangkit, Jalan RT Hardiwinangun, Kelurahan Muara Ciujung (MC) Barat, Kecamatan Rangkasbitung. Setelah diusir warga Kampung Rancagarut, Desa Sangiang Tanjung, Kecamatan Kalanganyar, nenek 90 tahun itu mengurung diri di dalam kamar penampungan.
MASTUR – Rangkasbitung
Kemarin, Wisma Bangkit mendadak ramai. Sejumlah pejabat Pemkab Lebak menengok Rohanah dan keluarganya itu. Pengusiran pada Senin (26/4/2016) dipicu oleh tudingan warga Kampung Rancagarut bahwa Rohanah itu dukun santet.
Baca juga: Dituding Dukun Santet, Wanita Renta Kembali Diusir Warga
Rohanah dan tujuh anggota keluarganya sempat diamankan di Mapolres Lebak. Malam harinya, sekira pukul 20.00 WIB, Rohanah dan keluarganya dipindahkan ke Wisma Bangkit. Mereka mendapatkan makanan dari Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) dan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Lebak.
Anak pertama Rohanah, Sabaah, mengaku kaget terhadap tindakan warga Kampung Rancagarut terhadap keluarganya. Sabaah yang berada di kebun dijemput dan diusir oleh warga. Padahal, aku Sabaah, Rohanah dan keluarganya berhubungan baik dengan tetangga dan warga kampung tersebut.
“Saya enggak mengerti dengan tuduhan warga. Tiap hari saya hanya bertani di sawah dan kebun. Berangkat pagi, pulang sore,” tuturnya kepada Radar Banten.
Sabaah pasrah atas kejadian tersebut. Dia ingin kembali ke Kampung Rancagarut dan hidup berdampingan dengan warga karena rumah dan kebunnya masih ada. Saat ini, Sabaah menyerahkan permasalahan ini kepada pemerintah daerah.
“Kalau warga mau biayai kami untuk pindah dan bangun rumah di tempat lain, kami siap pindah,” ungkap Sabaah.
Soal rumah dan isinya, Sabaah belum punya rencana. Dia tidak akan mempersoalkan jika rumah itu dibakar warga, asal disediakan rumah di tempat lain. “Sekarang, kami hanya menunggu keputusan dari pemerintah dan warga. Jika diterima kembali di Rancagarut, kami akan kembali. Tapi jika tidak, kami tidak tahu harus ke mana,” ujarnya.
Senada disampaikan anak kedua Rohanah, Musni. Kata dia, sebelum diusir dari Kampung Rancagarut, dia dan keluarganya belum pernah punya masalah dengan warga.
Musni menduga, ada orang luar yang memprovokasi pengusiran keluarganya dari Kampung Rancagarut. “Saya suka bantu tetangga dan aktif di masyarakat,” jelasnya.
Rohanah memiliki empat anak, yaitu, Sabaah, Musni, Herman, dan Arti. Musni dan Sabaah tinggal di Kampung Rancagarut, sedangkan Herman dan Arti tinggal di Balaraja, Kabupaten Tangerang. “Kami harus tabah menerima cobaan ini,” tukas Musni.
Sementara itu, Kabid Sosial Disnakertransos Asep Saefullah menyatakan, pemerintah daerah sudah bermusyawarah dengan warga Kampung Rancagarut. Namun, musyawarah di kantor Kecamatan Kalanganyar itu tidak menghasilkan kesepakatan. Oleh karenanya, musyawarah untuk menindaklanjuti pengusiran Rohanah dan keluarganya itu akan kembali dilakukan.
“Pemerintah menjamin kebutuhan keluarga Rohanah di Wisma Bangkit,” jelas Asep. (*)











