Sejarawan Banten Teliti Hubungan Banten dan Filipina

0
473 views
Sejarawan Mufti Ali menyampaikan rencana riset hubungan Kesultanan Banten dan Filipina kepada Pimred Delfion Saputra saat berkunjung ke Redaksi Radar Banten, Senin (29/7). Foto Ken Supriyono/Radar Banten

Kesultanan Banten dan Kesultanan Sulu, Filipina, memiliki hubungan sejarah panjang. Jejak pertalian keduanya membekas dalam ikatan dagang, agama, dan kebudayaan pada abad ke-17.

Sejarawan Banten Mufti Ali akan melakukan penelitian hubungan kerajaan Islam di Asia Tenggara tersebut. Laporan hariannya selama melakukan penelitian diterbitkan secara berkala di Radar Banten.

Rencananya penelitian  dilakukan di empat kota Filipina Selatan pada 31 Juli sampai 18 Agustus 2019. Yakni, Marawi City, Cotabato, Sulu, dan Basilan.

Penelitian yang disponsori UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten bekerja sama dengan Allied Nexus of Nusantara Communities (HaRUM) Selangor, Malaysia ini kelanjutan dari penelitian Mufti pada 2015. “Yang sekarang spesifik hubungannya dengan Banten,” kata Mufti saat menyampaikan rencana penelitiannya kepada Radar Banten, Senin (29/7).

Diterima langsung Pemimpin Redaksi Radar Banten Delfion Saputra, Mufti menceritakan pengalamannya pada 2015 yang dijaga ketat selama proses penelitian. Pengamanan dilakukan lantaran wilayah itu adalah daerah yang terpapar konflik tentara Filipina dengan kelompok militan Abu Syayaf.

Doktor lulusan Universitas Leiden Belanda ini mengaku, sudah mengumpulkan arsip-arsip pustaka untuk keperluan risetnya. Baik dari arsip yang didapatkan di Perpustakaan Nasional dan arsip di Den Haag, Belanda “Riset di lapangan mengecek ulang data arsip yang saya dapat,” ujarnya.

Menurutnya, hubungan Banten dan Filipina sudah terjalin intensif sejak abad ke-17. Hubungan itu dijalin melalui intensitas perdagangan antara Banten dan Manila. Terutama dalam komoditas tekstil, lada, dan produk laut.

Penyusun naskah akademik Pahlawan Nasional KH Brigjend Syam’un ini menduga hubungan yang terjalin keduanya tidak sebatas motif ekonomi. Akan tetapi, jalinan hubungan secara agama dan budaya. “Sumber-sumber lokal di Filipina perlu digali secara mendalam di samping sumber-sumber primer dari Belanda dan Spanyol,” kata Mufti.

Mufti sengaja meminta Radar Banten untuk mengekspos laporan hariannya selama di Filipina  agar masyarakat Banten mendapat gambaran kondisi orang-orang eks Kerajaan Sulu yang mayoritas beragama Islam.

Menurutnya, hubungan Kerajaan Sulu dengan Kesultanan Banten dan orang asal  Indonesia tempo dulu sudah berjalan. Hubungan itu membentuk asimilasi budaya yang membuat fisik orang di Filipina Selatan memiliki tampilan fisik yang sama dengan orang Indonesia.

Mufti berharap, dieksposnya laporan harian risetnya dapat memberi informasi dan pengetahuan baru. Kemudian menumbuhkan kesadaran sejarah masyarakat untuk lebih mengenal Banten di dunia luar. “Riset ini diharapkan mempererat hubungan dua negara, Indonesia dan Filipina, terutama untuk bidang riset di perguruan tinggi, khususnya di Banten,” ujarnya

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Radar Banten Delfion Saputra menyambut baik tawaran Mufti dan tim UIN SMH Banten. Apalagi kegiatan riset sejarah dan kebudayaan menjadi khasanah pengetahuan yang harus dirawat semua pihak.

Radar Banten  memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat luas. Lantaran itu, Radar Banten selain memberitakan kabar peristiwa, juga juga menyediakan ruang kebudayaan. “Kami selama ini memberi ruang kebudayaan yang ada di masyarakat Banten,” katanya.

Kata dia, laporan riset yang dilakukan Mufti diharapkan mampu menambah wawasan baru tentang khasanah kebantenan. Banten sebagai salah satu kesultanan besar di Nusantara menyimpan banyak jejak kebudayaan yang patut diketahui masyarakat. (ken/alt/ags)