Di ujung utara Kota Serang ini, ada seorang pemuda yang concern menanam mangrove atau bakau agar perairan di Ibukota Provinsi Banten ini tetap lestari. Siapa dia?
Hujan membasahi Kota Serang kemarin siang. Tak terkecuali di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Di tengah guyuran gerimis itu, Syaifullah, Pemuda Pelopor Bidang Kebaharian Provinsi Banten ini sedang mengurusi tanaman bakaunya di garis pantai Teluk Banten atau Muara Cengkok.
Tanpa mengenakan alas kaki, ia menelusuri jalan setapak tanah merah yang basah akibat diguyur hujan sedari
kemarin siang.
Bibir pantai dan tambak memang menjadi tempat keseharian Syaifullah. Lokasinya sekira dua kilometer dari Pelabuhan Karangantu, Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen. Akses menuju ke sana pun belum semuanya terjamah hotmix. Sekira 500 meter, jalan menuju Muara Cengkok masih berupa tanah yang lebarnya hanya muat untuk satu kendaraan roda empat. Sementara, kanan dan kiri dipenuhi empang.
Saat kedatangan Radar Banten, Syaifullah yang mengenakan kaus hitam dan celana jeans pendek tampak menggigil. Walaupun siang hari, udara di Muara Cengkok cukup dingin. Belum lagi angin yang bertiup kencang. Di sebuah workshop (bengkel) yang terbuat dari seng, ia didampingi kakak iparnya Sofian Ilyas menerima kedatangan Radar Banten.
Dua piala dan beberapa penghargaan
terpampang di atas meja di dalam workshop itu. Suara kapal nelayan yang lewat pun menemani perbincangan kami.
Syaifullah pun mulai menceritakan asal mula ia menjadi Pemuda Pelopor. Dalam seleksi tingkat kecamatan tahun lalu, ia bersaing dengan delapan pemuda lainnya yang mempunyai keahlian di bidang masing-masing. Sebenarnya, pemuda kelahiran 1985 ini mengikuti seleksi dengan mengedepankan budi daya yang sedang dijalaninya. Namun, di sisi lain, ia mempunyai sisi sosial yang tak dimiliki para pesaingnya.
Bersama Kelompok Tani Bumi Hijau, ia mengelola mangrove yang selama ini hanya dijadikan ajang seremonial oleh sejumlah perusahaan dan pemerintah. “Selama ini, perusahaan dan pemerintah hanya menanam terus tinggal. Dari seribu pohon misalnya, yang mereka tanam secara seremonial
hanya sepuluh saja. Terus ditinggalkan. Dari situlah, kami merasa harus tergerak. Itu sudah menghabiskan banyak anggaran, masa didiamkan saja,” ujar Syaifullah, Rabu (8/1/2014).
Semula, ia tak mengetahui manfaat besar mangrove. Malah, awalnya ia merasa seperti orang gila saat menanam mangrove. “Bagaimana tidak dianggap gila, mangrove mah tak ada buahnya. Pas awal-awal saya tanam, sempet diliatin sama nelayan-nelayan yang lewat. Dikira ngapain kali, ya,” tuturnya sembari tertawa.
Namun, ternyata, mangrove yang ditanamnya bersama 11 orang lainnya di Kelompok Tani Bumi Hijau mempunyai banyak manfaat. Selain menjaga kelangsungan ekosistem laut dan penyuplai oksigen, mangrove juga berguna untuk menahan abrasi. “Dan, yang penting bisa menahan terjadinya tsunami yang selama ini dikhawatirkan
warga,” ujarnya.
Ia bersama Kelompok Tani Bumi Hijau menanam mangrove sejak 2009 lalu. Hingga saat ini diperkirakan sudah ratusan ribu batang mangrove yang tertanam di perairan Kota Serang itu.
Bahkan, apa yang mereka tanam selama ini dapat bermanfaaat bagi warga lain. Misalnya, warga yang mencari cacing dan kepiting di bawah mangrove. “Kami sendiri tadinya tak tahu. Ternyata banyak cacing dan kepiting di bawahnya,” terang Syaifullah. Bahkan, dengan ditanami mangrove, tanah-tanah baru pun timbul di bibir pantai.
Ia mengungkapkan, tahun ini saja, ada tiga perusahaan yang akan menanamkan mangrove di perairan Karangantu. “Tahun ini memang sudah digalakkan penanaman mangrove. Malah, mereka juga harus menyiapkan anggaran bagi pengelolanya,” terang bapak satu anak
ini.
Namun, makin gencarnya gerakan menanam mangrove, lahan untuk menanam pohon ini pun semakin terbatas. Selain kesenangan, ada pula cerita sedih di balik penanaman mangrove yang dilakukan. Bukan sekali dua kali, mangrove yang ia tanam ditebang oleh para pemilik tambak dan empang karena dinilai mengganggu. Padahal, mangrove dapat menahan air rob sehingga tambak dan empang masyarakat dapat terlindungi.
“Tapi, mereka belum mengerti makanya mangrove yang kami tanam malah ditebang. Di STP (Sekolah Tinggi Perikanan-red), udang mereka bagus karena di sekelilingnya ditanami mangrove,” terang Syaifullah.
Selain menanam mangrove, ia dan kakak iparnya mengajarkan para anggota Kempok Tani Bumi Hijau untuk berwirausaha menjual bibit mangrove yang ditanam dalam plastik.
Pria lulusan SLTP ini mengaku sejak kecil menyukai kebaharian. Maklum saja, ia lahir dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga nelayan di Kecamatan Kasemen. Namun, ia baru memulai belajar budi daya ikan dengan kakak iparnya. Kali ini, ia bersama Kelompok Tani Bumi Hijau melakukan budi daya kepiting soka, ikan kerapu, ikan bandeng, dan rumput laut. Tak tanggung-tanggung, kelompoknya dipercaya untuk mendapatkan bantuan permodalan dari investor asal Hong Kong.
Sofian Ilyas mengatakan, tempatnya berusaha itu merupakan titipan dari bosnya yang dulu. Luas lahannya mencapai dua hektare. Namun, dengan luasan itu, ia mencoba membudi daya banyak jenis. “Ya, alhamdulillah. Baru setahun ini, kami merdeka dapat listrik. Sebelumnya tidak ada,” ujarnya.
Untuk membangun usaha seperti
saat ini, tidak sim salabim. Bahkan, ia bersama Kelompok Tani Bumi Hijau pernah mengalami masa sulit. Namun, dengan kegigihan dan terus belajar maka usaha itu pun kini mulai berjalan.
Syaifullah dan Soifan berharap, semakin banyak masyarakat yang peduli mangrove. “Selama ini. sudah ada mahasiswa yang bikin skripsi. Ada juga yang belajar. Kami sih siap mengajarkan. Malah. saya ingin ada yang meneruskan karena tahun ini saya pun harus mencari Pemuda Pelopor berikutnya dari Kota Serang untuk maju,” ujar Syaifullah. (RB)
