SERANG – Kisah Pegawai Negeri Sipil (PNS) miskin itu berawal pada 1977. Sang PNS adalah lelaki asal Jawa Timur, sedang sang perempuan berasal dari Jawa Tengah. Datang ke Banten untuk mengarungi bahtera rumahtangga yang mereka bina.
“Saya ingat ketika itu, kami sampai Serang malam hari dan tidak ada kendaraan untuk mengantar kami sampai Pandeglang,” ujar lelaki itu dengan mata menerawang ke masa lalu.
Kemudian pasangan muda itu menumpang truk menuju Pandeglang. Sesampainya di tujuan, tidak hanya gelap malam yang meliputi Kota Badak tersebut. Padamnya aliran listrik menyambut mereka bak mengejek kedatangan keduanya yang ditampung oleh Bupati Pandeglang saat itu.
Tahun 1977, Banten adalah daerah “pembuangan” bagi lulusan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN). Lelaki itu pasrah, ia tidak seperti teman-temannya yang memiliki koneksi, bisa memilih berdinas di kota yang nyaman dan dengan fasilitas terbaik pada zamannya.
“Saya tidak punya koneksi, saya pasrah mau ditugaskan di mana saja,” tukasnya.
Pandeglang adalah tempat yang tidak nyaman untuk bekerja bagi para lulusan APDN saat itu, karenanya banyak yang mencari cara agar bisa pindah ke Kota lain. Namun ia memilih menjalankan kewajibannya mengabdi, didampingi perempuan bermental baja yang setia dan menerima apa adanya.
Hidup saat itu sangat sulit, kehidupan pegawai pemerintah yang miskin. Ada suatu masa di mana sang istri tidak bisa memasak, karena di dapur tak ada yang bisa dimasak bahkan untuk sekedar mengganjal perut mereka yang lapar. Padahal suaminya adalah seorang Mantri Polisi (Sekretaris Camat saat ini).
Sebagai lelaki yang bertanggung jawab, ia berupaya melawan keadaan yang tidak menguntungkan bagi kehidupan cinta mereka, ia pamit kepada sang istri untuk pergi ke kecamatan dan kembali membawa uang satu lembar pecahan lima ribu rupiah.
“Saya ingat ketika itu istri saya membeli beras, tempe, dan terasi untuk makan kami selama satu minggu,” tukasnya.
Lelaki itu adalah Asmudji HW, PNS yang menutup masa bhaktinya pada Sabtu 1 November 2014 dengan posisi terakhir sebagai Plt Sekda Banten. Dan sang istri yang kesabarannya tidak terbatas itu bernama Sri Hidayati.
Asmudji menatap istrinya penuh cinta dengan mata berkaca-kaca, mengucapkan rasa terima kasihnya, atas cinta yang begitu agung, atas kesetiaan mendampingi sehingga ia menutup catatan pengabdiannya sebagai pegawai negeri sipil tanpa korupsi maupun catatan buruk terkait pengabdiannya.
Istri yang ditatapnya terisak menangis, saat lepas sambut Plt Sekda Banten, Jumat (31/10/2014) di Pendopo Gubernur. Dan ruangan Pendopo Gubernur tempat acara lepas sambut bergemuruh oleh isak tangis. Para hadirin terharu mendengar cerita PNS tersebut, bahkan isak tangis haru Plt Gubernur Banten Rano Karno pun terdengar.
Asmudji kemudian berpesan kepada seluruh pegawai, tidak peduli apapun jabatannya, dan bagaimanapun situasi keuangan mereka dan orang tercinta untuk hidup lurus dalam melakukan pengabdian kepada masyarakat.
“Jalankan tugas dari pimpinan tanpa muatan lain, kecuali niatan untuk melaksanakan tugas dan pengabdian sebaik-baiknya,” ungkapnya.
Sebelum mencatat cerita Asmudji dalam acara lepas sambut pejabat provinsi Banten di Kawasan Pusat Pemerintahan Propinsi Banten. Radarbanten.com telah mendengar dari berbagai sumber tentang sepak terjangnya yang harum. (DIAN)









