Selasa (15/3) siang, tiba-tiba rombongan kendaraan pejabat Pemkab Lebak dan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya berhenti mendadak, usai meninjau jembatan dan sekolah dasar di Desa Cidadap, Kecamatan Curugbitung, serta hendak melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Cipanas. Mobil Pajero Sport bernopol A 1 R yang digunakan Iti tiba-tiba berhenti.
Sejumlah pejabat pun sedikit terkejut mengapa mobil Sang Bupati berhenti. Kemudian, Iti keluar dari mobilnya dan berjalan menuju salah satu pohon jambu biji atau jambu batu di pinggir jalan. Jambu biji yang masih menempel di dahan pohon, ternyata menyita perhatian mantan anggota Komisi IV DPR RI ini.
Tanpa basa-basi, Iti langsung memanjat pohon tersebut dan enggan dibantu siapa pun. Iti dengan cekatan sudah berada di antara dahan pohon, dan memetik beberapa buah jambu biji.
Puas telah mendapatkan beberapa jambu, Iti pun turun kembali. Saat turun dari pohon, Iti pun enggan dibantu. Putri Ketua Kadin Banten Mulyadi Jayabaya (JB) ini menolak mendapat bantuan dari staf maupun ajudannya. “Saat melihat jambu batu, saya ingat salah satu hobi saya sebelum menjabat (bupati-red). Dulu saya sering memanjat pohon kelapa dan jambu batu. Ini mah hanya nostalgia saja. Ini juga buat ngingetin kalau sudah sukses jangan lupa pada masa lalu,” kata Iti berkelakar.
Iti juga mengaku tidak malu dan risi dengan salah satu hobinya itu. “Kenapa harus malu, saya juga tidak perlu menjaga image. Terpenting tidak mengganggu dan memecah konsentrasi dan fokus saya untuk melanjutkan percepatan pembangunan di Lebak,” ucapnya.
Iti menambahkan, harus rela mengesampingkan hobinya tersebut sejak duduk sebagai anggota DPR RI. Lantaran rutinitas kerjanya yang cukup tinggi ditambah dengan menjadi Bupati Lebak. “Hobi itu mah hanya di waktu luang saja dan spontanitas,” katanya.
Kebiasaan yang aneh dan tidak biasa dilakukan oleh seorang pejabat teras di Lebak itu sebenarnya tidak membuat aneh jajaran kepala SKPD di Lebak. Sebab, hal itu kerap dilakukan Iti. “Ya, memang Ibu Bupati tidak jaga image. Bila melihat jambu biji, langsung turun dan memetiknya. Ia tak canggung langsung meminta atau membelinya pada pemilik jambu. Tapi, pemilik jambu tidak ada yang mau dibayar malah kegirangan,” ujar salah satu pejabat yang enggan disebutkan namanya itu.
Beberapa catatan, sejak Iti menjabat Bupati Lebak awal tahun 2014, memang tidak sungkan memperlihatkan jati dirinya yang berasal dari masyarakat perkampungan. Seperti halnya pada 12 Desember 2015 lalu, Iti tidak canggung turun langsung ke gorong-gorong di Pasar Rangkasbitung. Ia memungut sampah yang berlumur kotoran dengan tangannya sendiri. Sekaligus memberikan contoh kepada jajaran pegawai di Pemkab Lebak dan masyarakat.
Saban Jumat bersih (jumsih), Iti bersama jajaran Setda Lebak terjun langsung membersihkan sampah di wilayah Lebak. Iti juga tidak risih dengan terjun ke bantaran sungai. Bahkan, menaiki rakit yang terbuat dari bambu untuk membersihkan sampah yang menyumbat di sungai. Apalagi, Pemkab Lebak di bawah kepemimpinan Iti sedang giat mengejar piala Adipura.
Iti juga tidak pandang bulu menegur pegawai Pemkab Lebak yang membuang puntung rokok sembarangan, tak terkecuali jajaran kepala SKPD, Asda maupun Sekda Lebak. Ketegasan Iti lainnya, terlihat saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah lokasi galian pasir. Iti memarahi pegawai maupun pemilik lokasi galian pasir yang melanggar aturan.
Di sisi lain, Iti juga memperlihatkan sosok pemimpin dan kaum hawa. Ia kerap tidak tega bila melihat pengemis yang tunadaksa/cacat di pasar maupun jalan raya. Iti dipastikan langsung menghampiri pengemis itu untuk didata apakah masuk ke dalam program Lebak sehat, Lebak sejahtera. “Saya minta agar tunadaksa tidak lagi bekerja menjadi pengemis. Harus didata sebagai penerima bantuan. Tidak perlu lagi meminta-minta, kasihan,” katanya. (Nurabidin/RBG)










