SERANG – Yudistira Ahmad (16), warga Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, yang ditembak polisi pada Jumat (25/3) lalu, masih terbaring di Rumah Sakit Bedah Benggala, Kota Serang. Lengan kanannnya yang kena peluru dibalut kain. Di wajahnya, di bawah mata kanan, ada luka lebam.
Di temui di rumah sakit itu, Senin (28/3), warga Kampung Baru, Desa Kananga, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, ini menuturkan kronologi kejadian yang menimpanya. Awalnya, siswa kelas 1 SMA Mathla’ul Anwar, Bonjer, Menes tersebut izin kepada orang tua hendak menjemput saudaranya, Furqon (19), selepas pulang kerja dari Tangerang sekira pukul 11 malam.
Ditemani Asbi (20), yang juga saudara korban, menjemput Furqon ke Kampung Lewiliang, Desa Kananga, Kecamatan Menes. Bersama Furqon dan Asbi, korban memutuskan untuk makan.
“Habis makan saya pulang. Di tengah jalan di Lewiliang ada yang tabrakan. Saya lihat dulu sama kaka, dan temen-temen,” ujar Yudis.
Setelah kejadian tabrakan selesai ditangani, Yudis mengaku tidak pulang. Namun menghabiskan waktu bersama teman-temannya sambil berbincang. Sekira pukul 1:30, Yudis diminta untuk membeli cemilan ke salah satu toko di Kampung Kananga, Desa Kananga, ditemani seorang temannya, Syamsul (13).
“Sampai di Balai Desa Kenanga, saya dihadang, saya kaget, dikira begal sebab bawa pestol, saya muter lagi, di tengah kampung (Lewiliang) dihadang lagi, bawa pestol juga. Di situ saya ditembak. Pertama, dua kali (tembakan) tidak kena. Setelah itu, ditembak lagi, kena tangan. Teman saya yang satu lagi lari, kabur,” paparnya.
Setelah terkena tembak di Lewiliang, Yudis mengaku dipukuli oleh polisi yang disebut Yudis berjumlah empat orang tersebut. “Di situ masyarakat dan temen saya lihat, tapi karena takut kena tembak, gak berani bantuin,” katanya.
BACA : Warga Menes Ditembak Polisi
Setelah mendapatkan perlakuan tersebut, Yudis dimasukkan ke sebuah mobil dan dibawa ke Rumah Sakit Berkah Pandeglang. “Habis itu, saya langsung dibawa ke sini (RS Bedah Benggala),” ujarnya. (Bayu)









