slot bcaslot bonus new memberslot ovoslot server thailandslot pulsa tanpa potongankaka hokiempire88tuanpencetempire88raja botaknaga empirenaga empire
radarbanten.co.id
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
radarbanten.co.id
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Rudy Tertawa Saat Mengenang Surat Ainun

Redaksi by Redaksi
24-06-2016 14:03:42
in Berita Utama, Umum
Rudy Tertawa Saat Mengenang Surat Ainun

BERTAUT SEPANJANG HAYAT: Rudy Habibie dan Ainun beberapa saat setelah melangsungkan pernikahan pada 1962. Foto: DOKUMEN PRIBADI

Share on FacebookShare on TwitterShare On Whatsapp

SOSOK Bacharuddin Jusuf “Rudy” Habibie saat muda begitu tampan, jenius pula. Maka tak heran jika tidak sedikit perempuan yang ingin dekat-dekat dengan Habibie muda.

Kepada wartawan Jawa Pos Andra Nur Oktaviani, Habibie bercerita tentang cinta-cintanya sebelum menemukan kasih sejatinya: Ainun.

Baca Juga :

BRIN dan Kampus Australia Rumuskan Penanganan Perubahan Iklim

Peran BJ Habibie sebagai Pahlawan Dibalik Kebebasan Pers Indonesia

5 Tips Belajar Cerdas Ala BJ Habibie yang Dapat Kamu Tiru

B.J.Habibie: Kita Harus Bikin Pesawat

Cinta Rudy Habibie dan Ainun yang sudah melegenda tidak tumbuh begitu saja. Jauh sebelum dua hati itu berpadu, mereka hanyalah dua remaja biasa yang tidak saling melirik. Keduanya sama-sama jenius.

Tidak heran, salah satu guru sekolah mereka, Go Ke Hong, sering menjodoh-jodohkan mereka. Rudy sering salah tingkah. Tidak nyaman karena terus dipanas-panasi. Belum lagi kawan-kawan Rudy yang mulai ikut-ikutan meledeknya.

Bagi Rudy, tiada yang menarik dari diri Ainun remaja. Kulit gelap Ainun karena kebanyakan main voli membuat Rudy tak tertarik. Bahkan Rudy pernah meledek Ainun.

”Saya pernah kurang ajar kepada Ainun. Saya pernah meneriakinya jelek. Hitam. Gendut. Tapi, ternyata itulah jodoh,” kata Rudy Habibie kepada Jawa Pos saat ditemui di Taman Makan Pahlawan (TMP) Kalibata, Jumat (10/6) pagi.

Kisah mereka di SMA pun berakhir tanpa pernah ada benih cinta. Rudy pun menjalin hubungan dengan gadis lain. Namanya Farida. Blasteran Belanda dan Indonesia.

Usianya dua tahun di atas Rudy. Kala itu, cukup banyak gadis yang mendekati Rudy. Kebanyakan berusia di atas umur Rudy. Entah apa alasannya. Rudy pun masih tidak mengerti.

Cerita cinta dengan Farida tidak mulus. Setelah pergi ke Jerman, hubungan keduanya kian tidak jelas. Apalagi kala itu komunikasi jarak jauh tidak semudah sekarang. Untuk menelepon sebentar saja, alamak biayanya. Surat pun jadi satu-satunya alat komunikasi yang murah. Itu pun harus menunggu berbulan-bulan untuk bisa menerima sepucuk surat.

Tak mampu mengatasi problem LDR (hubungan jarak jauh), hubungan Rudy dan Farida pun kian pudar. Apalagi Rudy baru berusia 18 tahun. Mudah saja untuk move on dan fokus pada cita-citanya di Jerman.

Ainun? Beluuuuuum.

Belum ada sama sekali sosok Ainun di benak Rudy. Dia pun berada di Jerman tanpa beban. Ainun pun demikian. Dia melenggang masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tanpa sedikitpun menyisakan ruang pikiran untuk si anak kurang ajar. Yang pernah mengatainya jelek, hitam, dan gendut.

Di Jerman, magnet pesona Rudy kian kuat menyedot perhatian para gadis. Apalagi setelah dia memenangkan tender untuk melanjutkan studi S3. Menurut Rudy, sekolah S3 di sana beda dengan di Indonesia.

Di sini, calon mahasiswa mendaftar, ikut tes, diterima, kemudian membayar untuk mulai berkuliah. ”Di sana ditender. Yang menang tender justru dibayar untuk sekolah. Buat anak muda seperti saya, lumayan itu,” katanya, lalu tertawa.

Dengan makin mapannya Rudy, makin banyak gadis yang tertarik. Apalagi, Rudy terbilang aktif di organisasi pemuda. Dia pernah menjadi ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Aachen. ”Itu juga sebabnya saya ada kontak dengan perempuan. Normal kan,” ucapnya.

Rudy memang fokus jika sudah berkutat dengan kuliah dan pekerjaannya di sana. Namun, saat akhir pekan tiba, dia bergaul seperti biasa. Layaknya anak muda. Berkenalan dengan banyak orang. Menonton konser. Atau sekadar jalan-jalan dengan teman-temannya.

Dari banyak kenalan perempuan, satu telah mencuri hati Rudy. Ilona. Gadis Jerman berdarah Polandia itu berhasil membuat Rudy terpesona. Adalah Goethe, sastrawan tersohor Jerman, yang menjadi perekat mereka.

Di mata Rudy, Ilona adalah satu-satunya gadis yang hafal syair Goethe. Karena itu, Rudy yang juga ngefans dengan Goethe, bisa nyambung saat ngobrol dengan Ilona. ”Ceritanya ada di film Rudy Habibie,” kata dia.

Ilona memang kawan dekatnya. Mereka bersama selama 1,5 tahun. Sebelum ibunda Rudy, Tuti Marini, ambil tindakan untuk memisahkan mereka berdua. Selain Tuti, teman-teman Rudy di Jerman juga tidak setuju Rudy bersanding dengan Ilona. ”Soalnya kan dia Londo,” kata Rudy.

Pada akhirnya restu Mami tetap menjadi penunjuk jalan utama. Komunikasi Rudy dan Ilona semakin buruk. Rudy pun harus fokus pada kuliah S3-nya.

Mami, yang ingin sekali Rudy bersama Ainun, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dia mengirimi Rudy tiket pulang ke Indonesia. Mami berencana mempertemukan anak keempatnya itu dengan Ainun. Setelah mendapat izin dari profesor, Rudy pun pulang.

”Sudah tujuh tahun tidak pulang. Sampai Indonesia kepanasan dan langsung ke Bandung. Besoknya, saya diajak ke rumah Ainun. Tepat pada malam takbiran. Seperti yang ada di film Habibie & Ainun. Saya tidak mau,” katanya panjang lebar.

Namun pertemuan tetap digelar. Itu menjadi kali pertama Rudy melihat lagi Ainun. Gadis yang dulu dipanggilnya dengan sebutan gula jawa karena berkulit hitam, sekarang sudah berubah 180 derajat. Kulitnya cerah. Wajahnya juga tambah cantik.

”Dia terlihat dewasa sekali. Saya kaget. Saya bilang, Ainun, cantiknya… Gula jawa jadi gula pasir,” kenangnya.

Mendengar ucapan Rudy, Ainun hanya tersenyum. ”Mungkin Ainun kaget yah, orang yang dulu kurang ajar tetap saja kurang ajar. Dalam tulisan Ainun, dia menulis, saya tidak akan lupa kalau Rudy mengatakan saya gendut dan sebagainya,” kata Rudy, lalu tertawa mengenang kejadian itu.

Melihat Ainun yang dewasa, putih, dan cantik, Rudy mendadak jatuh cinta. Namun, eits, tunggu dulu. Rudy bukan satu-satunya pilihan. Banyak saingan. Karena tak sedikit yang tertarik dengan Ainun.

”Yang suka sama Ainun lebih ganteng dari Habibie. Jelas lebih tinggi. Lebih tua dan tidak kalah pintar di bidang lain. Ada hukum, kedokteran, ekonomi,” ungkap Rudy. Mereka pun kerap datang ke rumah Ainun. Tidak sedikit juga yang menjemput Ainun di tempat kerjanya.

Namun garis jodoh telah mempermudah Rudy dan Ainun menautkan hati. Tidak lama setelah pertemuan itu, mereka pun menikah pada 12 Mei 1962. Prosesi akad dilakukan di kediaman keluarga Ainun di Jalan Ranggamalela 11B Bandung. Sedangkan resepsinya digelar di Hotel Preanger.

Rudy kemudian memboyong Ainun ke Jerman untuk mendampinginya menyelesaikan pendidikan S3. Berbekal dua kopor pakaian, pasangan muda itu bertolak ke Aachen, tempat Rudy menimba ilmu. Di sana mereka menyewa paviliun kecil dengan tiga kamar kecil. Ukuran boleh mungil, tapi biaya sewanya cukup mahal. Separuh gaji Rudy habis untuk membayar sewa.

Mereka pun harus hidup ngirit. Salah satunya dengan menekan pengeluaran membeli busana. Untuk pakaian kantor dan baju sehari-hari, Ainun menjahitnya sendiri. Dia juga membuat sendiri baju bayi dan pakaian musim dingin.

Karena itu, saat punya uang lebih, mesin jahitlah yang pertama mereka beli. Biaya hidup di sana memang tidak murah. Ainun harus pandai-pandai mengatur keuangan agar semua kebutuhan bisa terpenuhi.

Ketika Ainun dinyatakan hamil, mereka memutuskan pindah ke tempat yang lebih lapang. Karena biaya sewa di Aachen yang cukup tinggi, keduanya memilih mencari tempat tinggal di pinggiran kota.

Sebuah rumah susun di Oberforstbach jadi pilihan utama. Ukurannya lumayan besar. Lengkap dengan ruang keluarga, kamar tidur, kamar anak-anak, dapur, dan kamar mandi.

Tinggal jauh dari pusat kota membuat Ainun merasa hidupnya agak berat. Untuk memeriksakan kandungannya saja, dia harus naik bus. Itu pun tidak selalu ada. Hanya pagi dan sore.

Untuk bersosialisasi, Ainun juga kesulitan karena bahasa Jermannya belum begitu lancar. Rudy yang jadi satu-satunya teman Ainun pun selalu pulang larut untuk menyelesaikan studinya. Ainun makin kesepian.

Pada 16 Mei 1963, putra pertama Rudy dan Ainun lahir. Mereka menamainya Ilham Akbar Habibie. Karena sudah punya anak, Rudy membutuhkan penghasilan tambahan agar bisa mencukupi kebutuhan.

Rudy pun menjalani pekerjaan sampingan sebagai ahli konstruksi di pabrik kereta api. Dia mendesain gerbong-gerbong berkonstruksi ringan. Waktunya pun habis di luar.

Berkat ketekunannya bekerja, Rudy memperoleh pekerjan di Hamburg. Gajinya bertambah dan impian mereka sedikit demi sedikit mulai terwujud. Mereka membeli mesin cuci karena kerap kewalahan dengan tumpukan pakaian yang harus dibawa ke laundry umum. Di Hamburg, Ainun melahirkan putra kedua mereka. Thareq Kemal Habibie pada 1967.

Perlahan tapi pasti, kondisi ekonomi mereka membaik. Ainun juga kembali bekerja sebagai dokter untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Dia juga masih punya keinginan untuk menggunakan ilmu yang dia miliki. Waktu Ainun untuk keluarga jadi sangat terbatas.

Puncaknya, saat Thareq yang kala itu berusia 6 tahun sakit keras. Ainun merasa ada yang salah dalam dirinya. Dia sibuk mengurusi anak orang lain. Sementara anaknya sendiri terbengkalai.

Akhirnya Ainun pun memutuskan untuk kembali mengurus rumah dan keluarganya. Kebetulan, karir Rudy juga sudah semakin baik. Penghasilannya pun sudah jauh meningkat. Semenjak itu, Ainun terus mendampingi Rudy yang semakin sering pergi dinas ke luar negeri.

Sejak Rudy mengikat janji pernikahan di hadapan penghulu, hingga 48 tahun 10 hari setelahnya, keduanya tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Rudy, di situ ada Ainun. Begitu pula sebaliknya.

”Bersama Ilona mungkin kalau dihitung-hitung saya menghabiskan dua minggu penuh. Tapi bersama Ainun, saya menghabiskan 48 tahun 10 hari,” tutur Rudy.

Kemesraan keduanya diakui keponakan Rudy, Adrie Subono. Adrie yang pernah tujuh tahun tinggal bersama keluarga Rudy di Hamburg mengatakan, Rudy dan Ainun selalu mesra. Tidak pernah sekali pun mereka terlibat pertengkaran.

”Kalau Ibu (Ainun) marahin Bapak (Habibie) sih sering. Karena memang Bapak kadang-kadang bandel. Tapi yah, marah karena sayang. Bukan yang lain,” kata Adrie. (and)

Tags: BJ Habibie
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.
Previous Post

Google Doodle Rayakan Ulang Tahun ke 105 Legenda Formula 1

Next Post

Dindikbud Minta Masyarakat Bersabar Tunggu Loading Server PPDB Online

Related Posts

BRIN dan Kampus Australia Rumuskan Penanganan Perubahan Iklim
Tangerang

BRIN dan Kampus Australia Rumuskan Penanganan Perubahan Iklim

by Syaiful Adha
Rabu, 14 Februari 2024 09:18

BRIN bersama dua kampus dari Australia, Murdoch University dan Curtin University, menggelar diskusi merumuskan penanganan perubahan iklim di Indonesia.

Read moreDetails

Peran BJ Habibie sebagai Pahlawan Dibalik Kebebasan Pers Indonesia

5 Tips Belajar Cerdas Ala BJ Habibie yang Dapat Kamu Tiru

B.J.Habibie: Kita Harus Bikin Pesawat

Ketika Itu Habibie Menangis

Habibie Gemar Bikin Pesawat Terbang sejak Kecil

Next Post
Dindikbud Minta Masyarakat Bersabar Tunggu Loading Server PPDB Online

Dindikbud Minta Masyarakat Bersabar Tunggu Loading Server PPDB Online

Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa Sebar 2.000 Paket Sembako di Banten

BSM

Bank Syariah Mandiri Santuni 250 Anak Yatim dan Dhuafa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Liburan ke Curug Putri Carita

Ketua DPRD Pandeglang Tb Agus Khatibul Umam Ajak Keluarga Liburan ke Curug Putri Carita

Minggu, 31 Mei 2026 21:48
Waspadai Ombak Besar

Pantai Lebak Selatan Diserbu Wisatawan, Balawista Imbau Pengunjung Waspadai Ombak Besar

Minggu, 31 Mei 2026 21:38
Telkomsel Genap 31 Tahun, Fokus Inovasi Digital dan Penguatan Layanan Pelanggan

Telkomsel Genap 31 Tahun, Fokus Inovasi Digital dan Penguatan Layanan Pelanggan

Minggu, 31 Mei 2026 21:35
Pelatihan Jurnalistik LDII Ajak Gen Z Berkontribusi Sebarkan Informasi Positif tentang LDII Banten

Pelatihan Jurnalistik LDII Ajak Gen Z Berkontribusi Sebarkan Informasi Positif tentang LDII Banten

Minggu, 31 Mei 2026 20:43
PT PWI II PHK Pegawai

Hindari Kerugian, PT PWI II Lakukan PHK 96 Pegawai

Minggu, 31 Mei 2026 20:41
Pajak UMKM 2026

Daftar Usaha yang Masih Bisa Menggunakan Pajak UMKM 0,5 Persen di 2026, Yuk Kepoin!

Minggu, 31 Mei 2026 19:51
Liburan ke Curug Putri Carita

Ketua DPRD Pandeglang Tb Agus Khatibul Umam Ajak Keluarga Liburan ke Curug Putri Carita

Minggu, 31 Mei 2026 21:48
Waspadai Ombak Besar

Pantai Lebak Selatan Diserbu Wisatawan, Balawista Imbau Pengunjung Waspadai Ombak Besar

Minggu, 31 Mei 2026 21:38
Telkomsel Genap 31 Tahun, Fokus Inovasi Digital dan Penguatan Layanan Pelanggan

Telkomsel Genap 31 Tahun, Fokus Inovasi Digital dan Penguatan Layanan Pelanggan

Minggu, 31 Mei 2026 21:35
Pelatihan Jurnalistik LDII Ajak Gen Z Berkontribusi Sebarkan Informasi Positif tentang LDII Banten

Pelatihan Jurnalistik LDII Ajak Gen Z Berkontribusi Sebarkan Informasi Positif tentang LDII Banten

Minggu, 31 Mei 2026 20:43
PT PWI II PHK Pegawai

Hindari Kerugian, PT PWI II Lakukan PHK 96 Pegawai

Minggu, 31 Mei 2026 20:41
Pajak UMKM 2026

Daftar Usaha yang Masih Bisa Menggunakan Pajak UMKM 0,5 Persen di 2026, Yuk Kepoin!

Minggu, 31 Mei 2026 19:51

Ikuti Kami

Facebook Instagram X-twitter Youtube
Gates of Olympus

Kanal

News

Redaksi

Peluang Usaha

Viral

Inspirasi

Love Story

Olahraga

News Video

Serba Serbi

E-Paper

Tekno

Pedoman Pemberitaan

Indeks

Tutorial

Pilihan Editor

Liburan ke Curug Putri Carita

Ketua DPRD Pandeglang Tb Agus Khatibul Umam Ajak Keluarga Liburan ke Curug Putri Carita

by Purnama Irawan
Minggu, 31 Mei 2026 21:48

PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID - Ketua DPRD Kabupaten Pandeglang Tb Agus Khatibul Umam mengajak keluarganya liburan ke Curug Putri, Kecamatan Carita, Kabupaten...

Waspadai Ombak Besar

Pantai Lebak Selatan Diserbu Wisatawan, Balawista Imbau Pengunjung Waspadai Ombak Besar

by Nurabidin
Minggu, 31 Mei 2026 21:38

LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Libur panjang lebaran Idul Adha 1447 Hijriah dan Hari Raya Waisak 2026 dan Hari Lahir Pancasila pada 1...

Copyright@2021


istanbul escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
esenyurt escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
marmaris escort
izmit escort
bodrum escort
antalya escort
antalya escort bayan

Radar Banten, All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV

© 2021 radarbanten.co.id.

empire88empire88raja botak