’’It’s got real music in it. It’s called the cassette tape.’’ – Band Nerf Herder (2008).
YUP, siapa bilang pada era yang serbadigital seperti saat ini nggak ada lagi penggemar gulungan pita yang konon memiliki kualitas audio terbaik ini? Meski nggak sepopuler vinil dan CD, diam-diam rilisan musik dalam format kaset mulai bangkit lagi nih di Indonesia. Buktinya, perhelatan Cassette Store Day mengalami kenaikan jumlah pengunjung setiap tahun. Mereka yang kadung fanatik bahkan rela merogoh kocek dalam-dalam demi melengkapi koleksi barang antik yang satu itu loh.
Well, sebenarnya, sejak 2000-an, rilisan musik berbentuk kaset digadang-gadang bakal bangkit lagi. Lalu, 13 tahun kemudian, tepatnya saat Cassette Store Day kali pertama diselenggarakan, popularitas kaset mencapai puncaknya hingga saat ini. Di Indonesia antusiasme terhadap kaset terus meningkat. Para penggemarnya juga makin banyak.
’’Cassette Store Day awalnya dicetuskan di Indonesia pada 2013 oleh dua personel band Efek Rumah Kaca hingga berlanjut sampai 2016. Tahun ini CSD mencoba membangkitkan kembali hasrat pencinta kaset,’’ ungkap Jodi Setiawan, owner label Nanaba Records sekaligus panitia Cassette Store Day Jakarta.
Kali pertama dikenalkan pada 1963 oleh Phillips, kaset menjadi format penyimpan rekaman audio yang paling efektif karena murah dan bisa menyimpan audio berdurasi hampir 90 menit. Berkembangnya alat perekam membuat kaset juga makin sempurna. Kala itu Phillips merilis Norelco Carry-Corder 150 pada 1964. Jepang juga nggak mau kalah dengan merilis Walkman TPS-L2 pada 1979 yang mengawali generasi pemutar musik terpopuler itu. Bahkan, tercatat 2,4 juta alat perekam dan pemutar kaset habis terjual sepanjang 1968. Emang apa sih keunggulan kaset?
Meski kini ada aplikasi yang menawarkan kemudahan dalam mengakses musik layaknya Spotify atau iTunes, romansa mendengar kaset sambil membolak-balik cover merupakan euforia yang nggak dapat tergantikan.
’’Pada dasarnya, orang Indonesia suka mengoleksi sesuatu. Apalagi yang bentuknya lucu seperti kaset. Nah, kolektor kaset juga makin tumbuh,’’ lanjut Jodi.
Bukan hanya bentuk fisiknya yang estetik, musik yang direkam dalam format kaset itu unik. Selain kaset nggak mengenal mode playback acak atau shuffle, kualitas musik di dalamnya lebih rapat. ’’Sensasinya benar-benar beda kalau kita memutar lagu di kaset dari awal sampai akhir. Jadi, kita bisa nikmatin sealbum penuh secara detail,’’ ungkap Daniel Mardhany, salah satu kolektor kaset die hard.
Nah, event Cassette Store Day tahun ini menjadi ajang berburu kaset nih. Salah seorang Zetizen yang masih mengoleksi rilisan fisik berbentuk kaset adalah Ralka Setya dari Universitas Indonesia. Menurut dia, selain kualitas rekaman, wujud fisik kaset merupakan hal yang sangat keren. ’’Di setiap rilisan fisik, para pencintanya selalu menaruh sisi estetis, mulai album artwork, buklet, hingga packaging-nya,’’ ungkap Ralka.
So, who said cassette is dead? Well, cassette won’t be dead!
Masih Tertarik?
Dulu, jika ingin mendengarkan lagu, harus membeli album kasetnya terlebih dahulu. Tidak seperti sekarang yang dengan mudah download atau kita bisa mendengarkan di aplikasi musik. Kebayang dong kalau hidup pada zaman itu? Notabenenya Generasi Z adalah generasi teknologi dan gadget. Pasti bakal ribet banget.
“Saya nggak pernah mengalami zaman-zaman kaset, pernah juga zaman CD. Sampai saya rela mengeluarkan uang ratusan ribu untuk membeli satu album penyanyi favorit saya. Tapi, baru dua bulan kasetnya patah karena dimainkan adik saya, itu salah satu kekurangan kaset juga CD. Gampang rusak juga. Kalau dalam audio digital nggak akan gampang hilang dan rusak,” curhat Dean Abimas, Gen Z yang bersekolah di SMKN 1 Kragilan itu.
“Kalau menurut saya, musik dalam kaset itu kurang efektif, karena kita nggak bisa mendengarkan musik di mana saja. Harus ada alat untuk memutar kaset, minimal ada walkman kan. Selain itu nggak bisa kita masukkan ke handphone,” tutur Arti Novianti, Gen Z yang baru saja memasuki bangku kuliah ini.
Hmmm, bersyukur deh buat kita yang nggak mengalami zaman perangkat keras penyimpan rekaman suara bernama kaset. Ya kan? (hellenzetizen-afr/zee)












