Seperti halnya baju dan celana, sepatu merupakan hal penting untuk melengkapi outfit kamu biar tampil keren. Wel, bagaimana kalau sepatu kulit?
Pada kenyataannya, 65 persen Zetizen yang mengisi polling tentang ini senang memakai sepatu kulit. Penampilan klasik emang kembali ngetren belakangan ini. Sejak Zaman Perunggu, Perang Dunia, hingga era koboi, kulit hewan jadi yang paling proper buat material sepatu. Seiring dengan berjalannya waktu, lahir desain leather shoes dengan konsep elegan dan sangat nge-hype belakangan ini.
Dulu sepatu kulit ditemukan circa 2000 SM loh. Pada era awal, sepatu kulit diisi jerami yang berfungsi sebagai pelindung kaki dari medan terjal dan perubahan cuaca ekstrem pada Zaman Perunggu. Suku Mesopotamia adalah inovator terbesar sepatu kulit. Sebab, pada 3000 SM, mereka menjadikan kulit kambing sebagai material utama sepatu mereka yang konon punya desain setinggi betis.
Lalu, pada abad ke-15, sepatu bot kulit mulai dipakai tentara dan penunggang kuda loh. Pada 1616, sepatu kulit dijadikan tren fashion dan digunakan untuk sehari-hari dengan berbagai ragam bentuk model dan desain.
Kulit ternyata juga memiliki berbagai varian loh, Guys! Menurut Heri Susanto, owner brand leather goods Sapindelick, selain berdasar jenis hewannya, bahan kulit dibedakan menurut penyamakan dan finishing. Misalnya:
Finish Leather
Bahan kulit ini memiliki tekstur natural dan alami. So, nggak butuh banyak pengolahan. Dalam jenis ini, grain dari kulit menjadi nilai estetis yang kerap diburu para peminatnya. Finish leather merupakan tipikal kulit yang paling banyak beredar di pasaran.
Pull-up
Pull-up adalah full grain leather dengan aplikasi minyak. Minyak dapat bermigrasi ketika tekanan diterapkan pada permukaan dan akan kembali bila tekanan dilepaskan. Permukaan bakal menampilkan tekstur yang oily atau sedikit mengilap saat ditarik.
Suede/Nubuck
Nah, jenis suede ini merupakan permukaan kulit yang didapat dari lapisan terakhir kulit sapi. Suede punya dua sisi yang kasar setelah kulit mentah diampelas. Produsen menggunakan berbagai teknik untuk membuat suede dari full grain.
Vegetable Tanned (Vegtan)
Kulit jenis ini mengalami penyamakan dengan memakai tanin dan kulit kayu. Karakter kulitnya lebih kenyal dan reaktif (jika ditekan, lama untuk kembali seperti semula). Selain itu, kelebihan proses ini adalah bisa diwarnai cat selain warna kulit alami.
Syukari, Gen Z kelahiran Serang 11 Agustus mengaku, senang memakai sepatu kulit terhitung sejak 2014. “Awalnya saat mondok di pesantren, semua santri diwajibkan memakai sepatu kulit. Dari sanalah saya suka, bahkan sampai saat ini ia masih tetap memakainya meskipun jarang,” tuturnya.
Ia mengaku, sepatu kulit bisa dipakai ke kampus atau ketika mengajar di sekolah. “Semuanya bisa masuk. Selain itu, juga bisa membuat percaya diri dan yang utama bisa tetap tampil prima,” tutupnya.
Remaja seusia kamu umumnya lebih menyukai sepatu kets bila dibandingkan dengan sepatu kulit yang terkesan lebih formil dan dewasa. Lagipula, untuk dibawa ke sekolah, sepatu kulit kurang cocok dan terkesan kurang sporty. Namun, pada perkembangannya, tren mode sepatu saat ini membuat sepatu yang terbuat dari kulit bisa jadi keren saat kamu pakai untuk melakukan beragam aktivitas harianmu loh Sob.
Asal tahu ya, di Banten, tepatnya Kabupaten Serang, ada sentra pembuatan sepatu sekaligus tas. Nah, kalau di antara kamu ada yang berasal dari Kecamatan Petir, Desa Kadugenep dan Desa Mekar Baru, pasti tau kalau dua desa itu terkenal dengan industri rumah tangga pembuatan sepatu. Dari data yang Zetizen himpun, salah satunya adalah Andi Sunandar selaku pelaku usahanya. Pesanan sepatu mereka datang dari Cilegon, Pandeglang, Lebak, Kota Serang, dan Tangerang.
Mengenai sepatu ini, salah satu Gen Z Ilman Fauzy mengaku, suka dengan sepatu kulit. “Biasanya orang yang memakai sepatu kulit cenderung terlihat rapih dan berwibawa,” terang lelaki asal Kampung Paju, Desa Kumpay, Kecamatan Banjarsari, Lebak ini.
Kelahiran 16 Maret 1996 ini juga bilang, sepatu kulit meskipun sudah menjadi tren dan kebutuhan, namun baginya kurang begitu penting. “Saya lebih nyaman memakai sepatu yang biasa-biasa saja dari pada sepatu kulit. Kalau pakai sepatu kulit ketika ngampus, tidak percaya diri,” terangnya. (aswar-zetizen/rno/zee)











