SERANG – Sadar memiliki potensi wisata yang sangat besar, masyarakat Desa Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, berharap pemerintah bisa menjadikan desanya tersebut sebagai desa wisata.
Kepala Desa Cimanggu, Yayat Supiat menjelaskan, Desa Cimanggu yang saat ini telah masuk bagian dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Ujung Kulon, memiliki destinasi wisata unggulan yang bersumber dari kekayaan alam.
Melalui sambungan telepon seluler Yayat menjelaskan, objek wisata unggulan di desanya tersebut berupa curug seperti Curug Rahong, Curug Jaha, dan Curug Cikuluwung. Kemudian objek wisata body rafting di sungai Cisiih yang alirannya sampai ke Desa Tangkil Sari, dan pemandangan alam khas daerah perbukitan.
“Keindahan alam sawah-sawah itu bisa dilihat di desa kami pak, air sungainya pun masih bersih, belum terkontaminasi bahan-bahan kimia,” ujar Yayat menjelaskan, Minggu (13/11).
Seluruh masyarakat Desa Cimanggu menurut Yayat sudah menyadari potensi wisata tersebut, dan siap untuk menjadikan desa tersebut menjadi desa unggulan pariwisata. “Masyarakat mah sudah siap, sebab masyarakat sudah tahu, karena itu kita meminta ke pemerintah untuk mendukung,” katanya.
Di kawasan KSPN, Desa Cimanggu sendiri merupakan pintu gerbang masuk kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Pemerintah menurut Yayat telah menetapkan Tanjung Lesung sebagai pintu gerbang KSPN, namun destinasi wisata yang dijual di daerah tersebut hanya berupa wisata pantai.
“Kemarin udah sudah saya sampaikan (ke pemerintah), jadi Tanjung Lesung ditunjuk sebagai pintu gerbang KSPN, di Tanjung Lesung yang dijual hanya pantai dan laut. Kami sebagai pintu masuk kawasan Ujung Kulon, punya objek wisata lain yang tidak ada di Tanjung Lesung,” ujarnya.
Desa Cimanggu, lanjut Yayat, sebagai desa penyangga TNUK siap bekerja sama dengan pengelola TNUK dalam hal menjaga kelestarian hutan TNUK. “Kami pun berharap kuliner serta hasil kreatip masyarakat desa dan hasil alam desa Cimanggu ingin menjadi ikon kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten,” harapnya.
Salah satu masyarakat, Munawir Syahidi menjelaskan, dirinya sangat mendukung desanya tersebut menjadi desa wisata, namun dengan catatan tetap mempertahankan kearifan lokal.
“Jika memang dengan pariwisata dapat menaikan kesejahteraan rakyat tidak masalah, tetapi desa wisata jangan menghilangkan kearifan masyarakat desa, termasuk unsur religiusitas masyarakat harus tetap meningkat, sebagai satu kesatuan yang utuh dalam kebudayaan,” ujarnya. (Bayu)









