LIMA tahun lamanya membangun rumah tangga, pasangan suami istri Adul (31) dan Minul (30), keduanya nama samaran, tak kunjung dikaruniai anak. Entah siapa yang bermasalah, kedua warga asal Kabupaten Serang ini, tak pernah mengetahui jawabannya. Sudah berbagai cara mereka lakukan untuk memperoleh buah hati, mulai dari pengaturan konsumsi makanan, obat-obatan, sampai gaya mereka di ranjang yang dinilai memengaruhi kesuburan pada rahim Minul, tetapi tak menuai hasil. Minul tetap tak bisa menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Ujung-ujungnya, Adul dituding Minul sebagai penyebab dirinya tak memiliki keturunan. Tak terima disebut mandul, Adul habis kesabaran dan angkat kaki dari rumah sampai akhirnya menggugat cerai dan meninggalkan Minul untuk selamanya.
“Dicaci dan dimaki istri, saya masih bisa terima. Bahkan, istri sering menoyor kepala, saya masih bisa tahan. Cuma saya enggak terima disebut mandul, makanya saya ceraikan dia,” ungkap Adul. Kalau sudah sepuluh tahun, baru disebut mandul Bang. Itu kata Bang Haji Roma Irama.
Adul saat masih menjadi suami Minul, bisa dibilang ‘susis’ alias suami sieun (takut) istri. Adul termasuk pria yang sabar dan pengertian. Memiliki istri yang bersifat temperemental, tak pernah diladeni Adul. Sifat keras Minul sudah disadari sejak masih pacaran. Namun, Adul yang terlanjur sayang mencoba untuk menghiraukan. Sebagai salah satu makhluk Tuhan yang sedikit banyak tahu tentang agama, Adul kerap memaklumi perilaku istri kepadanya. Sebagai seorang lelaki yang mulai belajar menjadi suami yang soleh, harus menerima semua kekurangan yang ada dalam diri istri. Begitu pula sebaliknya. “Saya berpikir, kalau istri saya galak, sering mengatur itu, cerminan diri sendiri. Dulu saya juga galak ke orangtua,” ujarnya. Nah lo, kena karmanya.
Lantaran itu, segala bentuk cacian dan makian istri dijadikannya sebagai bualan belaka. Masuk telinga kiri dan keluar di telinga kanan. Istri kerap tidak menghargai di depan orang, Adul masih bisa memahaminya. Meskipun, Adul tahu karakter istri yang dulu tak separah sekarang. Dulu bahasa istri memang kasar, tapi masih bisa dijaga, tidak diperlihatkan di depan orang. Sekarang beda. Semua bahasa binatang tak sungkan dilontarkan Minul kepada Adul di tempat umum. Ow ow ow auuuu. Menyadari itu, Adul kerap malu dan sering mengingatkan sang istri. Dinasehati suami, Minul bukannya sadar, malah makin beringas.
“Kalau dikasih tahu, istri malah tambah marah. Makanya, kalau dia berbicara kasar atau lagi marah-marah, saya biarkan saja,” ungkapnya. Duh kasian.
Pertemuan Adul dan Minul dari awal memang salah. Adul dulu termasuk anak gaul. Adul adalah salah satu pentolan anak band lokal sebagai pamain gitar. Sementara Minul bertindak sebagai vokalis dari grup bandnya Adul. Jadi, latar belakang kisah asmara mereka berawal dari cinta lokasi. Pertemuan mereka yang semakin intens di studio membuat keduanya saling tertarik satu sama lain. Pergaulan bebas membuat mereka gelap mata. Adul jadi sering main di kos-kosan Minul. Baru sebulan pacaran, gaya pacaran mereka lebih mengarah ke perbuatan mesum. Keduanya mulai coba-coba berbuat tidak senonoh, layaknya suami istri di tempat kos Minul.
“Namanya juga laki-laki, dikasih ikan, ya disantap, enggak saya sia-siakan,” akunya. Dasar kucing garong.
Sampai akhirnya, mereka ketagihan berbuat tidak lazim. Seminggu kemudian, Minul mulai merasakan mual dan hal itu berlarut-larut sampai tiga hari lamanya. Adul curiga kalau Minul hamil akibat perbuatannya. Lantaran itu, Adul tak berpikir panjang untuk melamar Minul. Khawatir kalau tidak segera dinikahi, keduanya bakal merasa malu di hadapan teman-temannya jika mereka hamil di luar nikah. Terlebih orangtua masing-masing.
Mereka akhirnya sepakat menentukan tanggal pernikahan seminggu kemudian. Tibalah mereka pada saat berbahagia, yakni menikah dan resmi menjadi pasangan suami istri. Prosesi pernikahan pun dilangsungkan meriah. Maklum, keduanya berasal dari kalangan lumayan berada.
“Cuma, tahu sendiri, namanya kita pacaran sering begituan. Pas nikah mau ‘belah duren’ serasa hambar, enggak ada istimewa-istimewanya,” terangnya. Eeaaa, kasih garam Bang biar ada rasanya.
Ternyata, prediksi Adul salah soal kehamilan Minul. Pasca menikah, sebulan kemudian tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan pada perut Minul, keduanya memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan. Betapa terkejutnya Adul dan Minul setelah mendengar penjelasan dokter bahwa Minul sama sekali tidak hamil. Saat itu, Minul merasakan mual akibat masuk angin biasa. Alamak. Namun, berita itu tidak meruntuhkan Adul untuk mempertahankan Minul menjadi istrinya. Hanya saja, berita ketidakhamilan itu mengubah watak Minul menjadi lebih garang. Minul jadi sering uring-uringan dan kerap memperlakukan Adul layaknya pembantu.
“Kalau sudah menyuruh ini itu, Minul seenaknya, enggak kenal waktu. Padahal, seringnya cuma minta antar jemput main ke rumah temannya doang,” terangnya.
Kondisi demikian kerap mengganggu pekerjaan Adul sebagai marketing di sebuah perusahaan leasing. Adul kerap telat ke kantor dan menerima makian pimpinan karena harus mengantar Minul dulu. Minul mulai manja dan sering memanfaatkan kebaikan Adul. Apalagi, Adul tak pernah bisa menolak permintaan Minul.
Lima tahun berjalan, Minul juga sepertinya mulai habis kesabaran karena tak juga diberikan momongan. Lantaran itu, Minul mengeluarkan bahasa kasar sampai di luar batas kewajaran, yakni menudingnya mandul.
“Saya boleh diperlakukan kasar seperti pembantu. Tapi, saya paling enggak suka dituding mandul. Makanya, saya berontak dikatakan begitu dan meminta cerai,” jelasnya.
Mendengar pernyataan Adul, Minul malah menantang. Dipikir Minul, Adul hanya menggertak dan main-main. Adul pun membuktikan perkataannya itu dengan melayangkan gugatan cerainya ke pengadilan dan langsung memberikannya kepada Minul untuk ditandatangani. Minul sempat syok, meski akhirnya Minul yang juga mengaku sudah gerah dengan Adul yang tak bisa memberikan keturunan, menyetujuinya untuk berpisah.
“Saya sudah periksa ke dokter, enggak ada masalah tuh. Tapi, Minul kukuh bilang kalau saya yang mandul dan diberi tahu ke orang-orang. Saya kan malu. Makanya, lebih baik cerai saja,” ujarnya.
Setahun berselang, setelah perpisahannya dengan Minul, Adul mulai membuka lembaran baru. Ia bertemu jodohnya, yakni seorang gadis desa asal Lebak. Dengan istri barunya, Adul pun kini dikaruniai anak laki-laki. “Tuh kan benar, kalau saya yang mandul, mana bisa punya anak dari istri sekarang. Alhamdulillah lah sesuatu,” ucapnya. Syukur deh. (Nizar S/Radar Banten)









