slot bcaslot bonus new memberslot ovoslot server thailandslot pulsa tanpa potongankaka hokiempire88tuanpencetempire88raja botaknaga empirenaga empire
radarbanten.co.id
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
radarbanten.co.id
No Result
View All Result
Home Berita Utama Sosial Budaya

Baduy Mengajarkan Kesederhanaan, Keseimbangan Alam, dan Menjaga Alam

Aas Arbi by Aas Arbi
14-05-2017 08:35:58
in Sosial Budaya
Hari Ini Baduy Dalam Puasa Kawalu, Wisatawan Dilarang Masuk

Warga Baduy Dalam berjalan kaki usai seba, beberapa waktu lalu.

Share on FacebookShare on TwitterShare On Whatsapp

Suku Baduy.merupakan suku asli Sunda Banten yang masih menjaga tradisi antimodernisasi, baik cara berpakaian maupun pola hidup lainnya.

Perkembangan teknologi yang demikian pesatnya tidak lantas membuat masyarakat adat Suku Baduy kehilangan identitasnya. Mereka tetap memegang teguh warisan leluhurnya di kaki Gunung Kendeng, tepatnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Tidak berlebihan bila budayawan Banten, Uten Sutendy menilai Suku Baduy sebagai cengcelengan (tabungan) Tuhan yang masih tersisa di abad modern ini.

Baca Juga :

Dinkes Banten Turun ke Ciboleger, Cek Kesehatan Masyarakat Baduy

12 Dubes Negara Sahabat Bakal Hadiri Seba Baduy 2026

Pemkab Lebak Bebaskan Biaya Pendaftaran Bea BPHTB Tanah Adat

Libur Lebaran 2026, Kunjungan Wisatawan ke Lebak Capai 208.747 Orang

“Suku Baduy khususnya Baduy Dalam adalah cengcelengan tentang kesederhanaan hidup, tentang keseimbangan alam semesta, dan tentang menjaga ekosistem kehidupan. Kita semua yang merasa makhluk modern harus belajar banyak pada masyarakat adat Baduy di Kabupaten Lebak,” kata Uten di hadapan mahasiswa Pendidikan Sosiologi, FKIP, Untirta saat bedah budaya tentang Suku Baduy di Laboratorium Ilmu Sosial, kampus C Untirta, Ciwaru, Kota Serang, Selasa (9/5).

Uten memaparkan, membahas Suku Baduy tidak pernah ada habisnya. Namun, tidak semua masyarakat Banten memahami pesan dari ritual kebudayaan yang selalu dilakukan masyarakat Baduy dari dulu hingga sekarang. Dalam benak masyarakat, Suku Baduy identik dengan ritual seba. Namun, banyak yang salah kaprah memahami Seba Baduy. Kesalahkaprahan itu jika dibiarkan dan tidak diluruskan, dapat mengikis substansi dari ritual seba yang penuh makna.

Pemerintah daerah, kata Uten, wajib menjaga esensi dari ritual Seba Baduy yang rutin digelar setahun sekali. Bagi Uten, Seba Baduy sarat makna. Salah besar jika seba dipahami sebagai ‘pemberian upeti’ kepada penguasa atau pemimpin pemerintahan. “Seba bagian simbol politik masyarakat Baduy, selain banyak simbol lainnya. Sikap politik masyarakat Baduy pada orang luar atau lingkungan sekitar. Sangat filosofis maknanya,” tegasnya.

Narasumber bedah budaya tentang Suku Baduy.

Makna filosofis dari ritual adat Seba Baduy di antaranya tentang konsep warga Baduy dalam menjaga keseimbangan alam. Selain menyampaikan ucapan terima kasih kepada penguasa karena telah mengatur masyarakat, warga Baduy melalui seba ingin menyampaikan pesan tentang pelestarian alam.

Mereka melakukan seba untuk mengajak masyarakat luar Baduy untuk menjaga keseimbangan alam dan melestarikan ekositem kehidupan. Dari sisi ketahanan pangan, warga Baduy pun berhasil membuktikan bahwa dengan menjaga keseimbangan alam, alam pun memberikan kehidupan. Hasil bumi yang melimpah serta ekosistem yang tetap lestari memberikan kedamaian dalam mengisi kehidupan.

Untuk itu, Uteng mengajak mahasiswa, akademisi, generasi muda Banten, serta pemerintah daerah untuk tidak melihat Suku Baduy seperti kebun binatang, di mana warga Baduy jadi objek hiburan. “Saat ritual seba dijadikan tontonan, saat berkunjung ke Baduy dijadikan tontonan, difoto dan didokumentasikan tanpa memahami pesan yang dipegang teguh orang Baduy. Kita semua harus belajar filosofis hidup masyarakat Baduy,” katanya.

“Kenapa warga Baduy hanya memakai baju hitam dan putih? Sebab bagi mereka, ketampanan dan kecantikan bukan dilihat dari baju, tapi dari hati,” sambung Uten.

Pesan lain yang harus dipetik dan dipelajari dari warga Baduy adalah terkait sikap mereka yang menolak pendidikan formal atau sekolah. Menurut Uten, warga Baduy meyakini bahwa sekolah ciptaan orang luar, yang tidak nyambung dengan permasalahan yang dihadapi mereka. Yang pintar karena sekolah malah korupsi dan merusak alam. Malas bertani dan tidak patuh terhadap tradisi karena merasa makhluk cerdas dan modern.

“Keyakinan warga Baduy tentang sekolah bukan tanpa dasar. Selama sekolah masih teralienasi dengan problem sosial kultural masyarakat maka lulusan sekolah hanya menjadi perusak. Itu pun nyata terbukti. Dulu hutan di Indonesia lestari, tapi kini gundul karena keserakahan manusia yang telah belajar di bangku sekolah,” tegasnya.

Seba Baduy di Rangkasbitung, Lebak tahun 2016.

Di akhir pemaparannya, Uteng menegaskan kembali tentang totalitas warga Baduy. Menurutnya, Suku Baduy Dalam sesungguhnya adalah para petapa. Mereka menyatu dengan alam. Tugasnya menjaga ekosistem. “Mereka tidak pernah meminta apa pun, mereka hanya minta pemda untuk menjaga lingkungan sekitar. Wilayah Baduy mereka sendiri yang menjaganya,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Arsitek Banten Muqodas Syuhada menuturkan, hidup makmur dan alam yang lestari di kawasan Suku Baduy karena mereka memegang teguh warisan luhur para pendahulunya. Dengan menanam padi setahun sekali, hidup mereka tidak pernah kekurangan beras.

“Setelah diteliti, pola kawasan di Baduy ternyata mereka hidup sangat menjaga keseimbangan alam. Menerapkan 50, 30 dan 20, 50 persen disebut sebagai hutan tutupan yang boleh dimanfaatkan khusus nonkayu. Buah-buahan dan hasil tambang diperbolehkan. Ini fungsinya untuk menjaga mata air. Berikutnya, 30 persen hutan titipan, semua tidak boleh dimanfaatkan, baik kayu maupun nonkayu untuk menjaga keseimbangan alam. Dan terakhir yang 20 persen khusus untuk dimanfaatkan atau tanah olahan seperti sawah, tempat tinggal. Dengan pola kawasan seperti itu, alam tetap seimbang dan lestari,” katanya.

Bandingkan dengan pola kawasan di luar Baduy, di mana semua lahan nyaris dieksploitasi. Untuk itu, kata Muqodas, melalui ritual Seba Baduy, warga Baduy ingin mengajak masyarakat luar menjaga ekosistem. Orang Baduy meninggalkan tanahnya semacam memberi peringatan kepada penguasa bahwa alam itu mesti dijaga, jangan dieksploitasi. “Hasil bumi yang mereka bawa dan diserahkan sebagai buktinya. Alam harus dijaga agar memberikan kehidupan,” ungkapnya.

Narasumber lain, Rohendi, mewakili Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten mengatakan, kegiatan seba menjadi tanggung jawab Dinas Pariwisata kendati bidang kebudayaan kini menjadi kewenangan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurut Rohendi, Pemprov berupaya keras agar ritual seba tidak hanya terkesan menjadi tontonan, tapi menjadi ritual adat yang sangat dalam maknanya. “Peran pemerintah memfasilitasi agar ritual seba berjalan semestinya. Namun karena harus jadi event pariwisata makanya dibuat kemasan dengan berbagai acara. Semua kegiatan dalam seba disesuaikan dengan keinginan warga Baduy,” katanya.

“Kami pun perlu masukan dari akademisi agar ritual seba tidak kehilangan maknanya sebagai event pariwisata di Banten,” tambah Rohendi.

Sosiolog Untirta Nurul Hayat dalam kesempatan tersebut meminta Pemprov Banten melalui instansi terkait tidak menjadikan Seba Baduy sebagai ajang komersialisasi dan eksploitasi atas nama pariwisata. Menurutnya, nilai-nilai ritual Seba Baduy mulai terkikis karena pemerintah gagal mengemas ajang seba sebagai kegiatan adat yang sakral.

”Yang harus dikedepankan substansinya, bila itu bisa dijaga. Kami yakin substansinya itu yang menjadi nilai tertinggi. Kalau seba tanpa substansi, ya kegiatan seba setiap tahun hanya seremonial belaka,” ungkapnya.

Hayat pun mengkritisi pelaksanaan Seba Baduy 2017 yang kurang manusiawi, di mana 1.658 warga Baduy yang melakukan Seba Gede ke Kota Serang, berjalan rombongan di jalan raya.

“Ini tidak sesuai dengan tradisi mereka, warga Baduy tidak pernah mengganggu jalan orang lain. Mari kita semua bergandengan tangan agar tradisi Baduy ditempatkan pada posisi yang luhur, jangan mengedepankan sisi komersial semata!” tegasnya. (Deni Saprowi/RBG)

Tags: BaduySeba Baduy 2017
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.
Previous Post

Hasbi Jayabaya Janji Bantu Pengembangan Pesantren di Lebak

Next Post

Toko Buku di Pakupatan, Selain Murah juga Jual Buku Lawas

Related Posts

Dinkes Banten Turun ke Ciboleger, Cek Kesehatan Masyarakat Baduy
Lebak

Dinkes Banten Turun ke Ciboleger, Cek Kesehatan Masyarakat Baduy

by Nurabidin
Jumat, 17 April 2026 19:25

Dinkes Banten bersama Dinkes Lebak menggelar Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi masyarakat Baduy.

Read moreDetails

12 Dubes Negara Sahabat Bakal Hadiri Seba Baduy 2026

Pemkab Lebak Bebaskan Biaya Pendaftaran Bea BPHTB Tanah Adat

Libur Lebaran 2026, Kunjungan Wisatawan ke Lebak Capai 208.747 Orang

Pelaku Usaha Wisata Jangan Aji Mumpung Masuki Libur Lebaran Idul Fitri 2026

Libur Nataru, 7 Ribu Wisatawan Kunjungi Baduy di Lebak

Mulai 2026, Desa Kanekes Baduy Mau Terima Bantuan Dana Desa

Libur Nataru: Disbudpar Lebak Ingatkan Pengelola Wisata dan Pedagang Tidak Getok Harga

Agrowisata Cikapek Lebak Diharapkan Dorong Pertumbuhan Ekonomi

5 Destinasi Wisata Keluarga di Banten yang Cocok Dikunjungi saat Libur Natal dan Tahun Baru 2026

Next Post
Toko Buku di Pakupatan, Selain Murah juga Jual Buku Lawas

Toko Buku di Pakupatan, Selain Murah juga Jual Buku Lawas

Resep Lawak Vincent dan Desta Dimulai dari Tongkrongan

Resep Lawak Vincent dan Desta Dimulai dari Tongkrongan

Banten Harus Punya Sirkuit Balap Terpadu

Banten Harus Punya Sirkuit Balap Terpadu

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

mengenakan pakaian adat dalam rangka peringatan Hari Kartini tahun 2026.

Biro Umum Berikan Penghargaan kepada Kartini Masa Kini

Selasa, 21 April 2026 20:53
41 Kandidat Ketua DPC PKB Se Banten  Ikuti Uji Kelayakan dan Kepatutan

41 Kandidat Ketua DPC PKB Se Banten  Ikuti Uji Kelayakan dan Kepatutan

Selasa, 21 April 2026 20:46
Nelayan Asal Wanasalam Hilang di Perairan Pantai Bagedur

Nelayan Asal Wanasalam Hilang di Perairan Pantai Bagedur

Selasa, 21 April 2026 20:41
Bejat! Kaka Beradik di Cilegon Jadi Korban Pencabulan Ayah Kandung

Bejat! Kaka Beradik di Cilegon Jadi Korban Pencabulan Ayah Kandung

Selasa, 21 April 2026 20:37
Momentum Hari Kartini, Kohati HMI Cilegon Soroti 37 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak

Momentum Hari Kartini, Kohati HMI Cilegon Soroti 37 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak

Selasa, 21 April 2026 20:32
Tiga Bulan, 44 Kecelakaan Lalu Lintas Terjadi di Pandeglang

Tiga Bulan, 44 Kecelakaan Lalu Lintas Terjadi di Pandeglang

Selasa, 21 April 2026 20:28
mengenakan pakaian adat dalam rangka peringatan Hari Kartini tahun 2026.

Biro Umum Berikan Penghargaan kepada Kartini Masa Kini

Selasa, 21 April 2026 20:53
41 Kandidat Ketua DPC PKB Se Banten  Ikuti Uji Kelayakan dan Kepatutan

41 Kandidat Ketua DPC PKB Se Banten  Ikuti Uji Kelayakan dan Kepatutan

Selasa, 21 April 2026 20:46
Nelayan Asal Wanasalam Hilang di Perairan Pantai Bagedur

Nelayan Asal Wanasalam Hilang di Perairan Pantai Bagedur

Selasa, 21 April 2026 20:41
Bejat! Kaka Beradik di Cilegon Jadi Korban Pencabulan Ayah Kandung

Bejat! Kaka Beradik di Cilegon Jadi Korban Pencabulan Ayah Kandung

Selasa, 21 April 2026 20:37
Momentum Hari Kartini, Kohati HMI Cilegon Soroti 37 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak

Momentum Hari Kartini, Kohati HMI Cilegon Soroti 37 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak

Selasa, 21 April 2026 20:32
Tiga Bulan, 44 Kecelakaan Lalu Lintas Terjadi di Pandeglang

Tiga Bulan, 44 Kecelakaan Lalu Lintas Terjadi di Pandeglang

Selasa, 21 April 2026 20:28

Ikuti Kami

Facebook Instagram X-twitter Youtube
Gates of Olympus

Kanal

News

Redaksi

Peluang Usaha

Viral

Inspirasi

Love Story

Olahraga

News Video

Serba Serbi

E-Paper

Tekno

Pedoman Pemberitaan

Indeks

Tutorial

Pilihan Editor

mengenakan pakaian adat dalam rangka peringatan Hari Kartini tahun 2026.

Biro Umum Berikan Penghargaan kepada Kartini Masa Kini

by Rostinah
Selasa, 21 April 2026 20:53

SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Biro Umum Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Banten memperingati Hari Kartini dengan memberikan penghargaan kepada sosok Kartini masa kini di...

41 Kandidat Ketua DPC PKB Se Banten  Ikuti Uji Kelayakan dan Kepatutan

41 Kandidat Ketua DPC PKB Se Banten  Ikuti Uji Kelayakan dan Kepatutan

by Yusuf Permana
Selasa, 21 April 2026 20:46

SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa Provinsi Banten mulai memanaskan mesin partai menjelang agenda politik ke...

Copyright@2021


istanbul escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
esenyurt escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
marmaris escort
izmit escort
bodrum escort
antalya escort
antalya escort bayan

Radar Banten, All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV

© 2021 radarbanten.co.id.

empire88empire88raja botak