SERANG – Kualitas air Sungai Cidurian dan Ciujung semestinya kategori golongan II. Namun, dampak limbah cair berkata lain. Kedua sungai sudah rusak parah.
“Harusnya, kedua sungai ini termasuk dalam golongan II, airnya bisa dimasak untuk diminum,” tegas Kasi Penanganan Kasus Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang Lili Amaliawati saat meninjau Sungai Cidurian di Desa Sukamanah, Kecamatan Tanara, Sabtu (27/5).
Ketika Lili dan petugas DLH lainnya meninjau, air Sungai Cidurian tampak normal. Padahal, satu hari sebelumnya, Jumat (26/5), air sungai ini berubah menjadi hitam dan berbau busuk menyengat. Masyarakat sekitarnya mengatakan, kondisi tersebut telah berlangsung selama satu pekan.

Menurut Lili, perubahan air Sungai Cidurian yang tergolong cepat itu akibat debit airnya tidak stabil. Lantaran itu, sungai yang menjadi media pembuangan limbah cair ini rentan tercemari ketika musim kemarau. Ketika musim hujan, sungai rentan meluap. Kondisi itu juga terjadi di Sungai Ciujung.
Kendati demikian, petugas DLH tetap mengambil sampel air Sungai Cidurian di dua titik lokasi, di Desa Parigi, Kecamatan Cikande, dan di Desa Sukamanah. Tingkat keasaman sampel air sungai yang diambil di Desa Parigi menyatakan 6,5 pH, sedangkan tingkat keasaman sampel air dari Desa Sukamanah menyatakan 5,5 pH. “Kalau di bawah enam, itu terlalu asam. Tidak bagus airnya,” tandas Lili.
Lili belum bisa memastikan apakah ada kandungan zat berbahaya di dalam air Sungai Cidurian atau tidak. DLH butuh waktu satu pekan untuk mengetahuinya dari hasil uji laboratorium. “Nanti, harus diuji dulu (baku mutu-red) COD (chemical oxygen demand)-nya,” jelas Lili.
Yang pasti, lanjut Lili, kerusakan kualitas air Sungai Cidurian dan Ciujung mengakibatkan air kedua sungai sudah tidak lagi mumpuni untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kualitas airnya bahkan tidak masuk dalam golongan IV. “Karena banyak industri, pastinya banyak parameter yang berubah,” tukasnya.
Lili pun meminta perusahaan-perusahaan di wilayah Serang Timur untuk tidak membuang limbah cairnya ke Sungai Cidurian dan Ciujung ketika kemarau. “Itu sudah ada peraturannya,” tegas Lili.
Sekretaris Kecamatan Tanara Sadik membenarkan bahwa pencemaran Sungai Cidurian tidak terasa dampaknya ketika musim hujan. “Kalau musim hujan, airnya banyak, jadi tidak terasa limbahnya. Kalau kemarau, debit air sedikit,” ujarnya.
Ketika kemarau, air Sungai Cidurian berubah menjadi hitam dan berbau menyengat. Kondisi serupa juga terjadi di Sungai Ciujung. (Rozak/Radar Banten)











