SERANG – Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Provinsi Banten pada Ramadan atau Juli lalu melakukan survey Angka Melek Huruf Alquran untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat Banten mengenali huruf ALquran dan kemampuannya untuk membaca Kitab Suci umat Islam ini.
Untuk menjaga kualitas hasil survey dengan margin of error 2,5% dan populasi muslim sejumlah 10.891.952 jiwa, survey dilakukan terhadap 1.505 responden yang tersebar di 155 desa/kelurahan pada 50 kecamatan di delapan kabupaten dan kota se-Banten
Hasil survey dan analisa LPTQ, 87,6% bisa membaca Alquran, namun tingkat kemampuan yang dimiliki masih sangat memperihatinkan yakni pada tingkat sedang dan rendah sebanyak 76,72%, dan masyarakat yang memiliki kemampuan lancar dan sangat lancar hanya sekitar 23,28%. Sehingga bagi provinsi dengan julukan daerah relijius maka angka tersebut seharusnya masih bisa ditingkatkan. Program penyebaran gurun ngaji ‘tahsin’ dapat dilakukan untuk meningkatkan angka ini
Mayoritas masyarakat Banten mampu membaca Alquran dalam usia dini yakni sebanyak 66,7% pada rentang usia 5 -10 tahun dan 31% pada usia remaja yakni 11- 20 tahun. Namun demikian jika dikaitkan pada angka 76,72% penduduk Banten yang memiliki kemampuan membaca sedang hingga rendah, maka dapat dianalisa bahwa sekalipun memiliki kemampuan membaca ketika usia muda, namun jarang dipraktikan membaca Alquran. Hal ini nampak dari angka sebesar 19,71% yang jarang membaca bahkan tidak pernah membaca Alquran, dan 32,9% yang membaca hanya 1 hari dalam satu minggu. Program membiasakan mengaji dapat dilakukan untuk memperlancar atau meningkatkan kemampuan membaca.
Untuk ketersediaan musha, hasilny menggembirakan, yakni 95,7 % rumah penduduk muslim memiliki Alquran. Namun jika dilihat lebih jauh, maka hanya 65,4% penduduk yang memiliki Alquran sejumlah dengan anggota keluarga. Artinya masih ada 34,6% penduduk yang masih harus bergantian jika hendak membaca Alquran karena jumlah yang tersedia tidak mencukupi bagi seluruh anggota rumah tangga. Sehingga dibutuhkan program pengadaan dan membagikan Alquran agar setiap anggota rumah tangga memilikinya secara per-orangan.
Dari renahnya angka penduduk yang lancar dalam membaca Alquran dapat dianalisa kurangnya gairah bagi warga casino online banten untuk mempelajari atau memperbaiki bacaan Alquran. Hal ini dapat disebabkan oleh rendahnya motivasi karena kurangnya informasi khasiat, faedah dan kegunaan membaca Alquran.
Analisa ini dapat dilihat dari kecilnya angka responden yang penah mengikuti workshop atau pelatihan yang terkait dengan materi seputar membaca Alquran yakni hanya sekitar 14% responden yang pernah mengikuti workshop Alquran. Sehingga program diseminasi atau sosialisasi manfaat dari membaca Alquran dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi warga dalam membaca kitab sucinya.
Ketua Harian LPTQ Provinsi Banten Sybli Syarjaya menjelaskan, survey ini sebagai kontribusi dan implementasi LPTQ dalam merespons visi misi gubernur Banten yaitu akhlakul karimah. “Survey dilakukan LPTQ bersama para peneliti,” ungkap Sybli saat membuka seminar dan ekspos hasil Survey melek huruf Alquran dan indikator iman takwa, Rabu (23/8).
Survey ini, lanjut dia, untuk mengetahui kondisi objektif masyarakat Banten yang dikenal relijius dan sebagai gudangnya qori qoriah. “Tugas LPTQ tidak hanya menggelar MTQ. MTQ itu hanya tugas kecil, tugas yang lebih besar itu bagaimana melakukan kajian-kajian Alquran dan mencarikan solusi-solusi dalam memasyarakatkan Alquran,” ungkapnya. (AAS ARBI)
Data Survey dan Hasilnya
Demografi Survey
Usia Responden
12 – 25 Tahun : 17,9 %
26 – 35 Tahun : 25,6%
36 – 45 Tahun : 27,1%
46 – 55 Tahun : 17,7 %
56 – 65 Tahun : 11,2 %
> 66 Tahun : 0,5%
Jenis Kelamin :
Laki Laki : 50,2 %
Perempuan : 49,8 %
Sebaran Responden :
Kab Pandeglang : 11,3 %
Kab Lebak : 11,3 %
Kab Tangerang : 27,0 %
Kab Serang : 13,9 %
Kota Tangerang : 15,9 %
Kota Cilegon : 3,3 %
Kota Serang : 6,0 %
Kota Tangsel : 11,2 %
Pendidikan yang dikelompokkan:
Tidak lulus SD/MI – Lulus SD/MI : 40,5 %
Lulus SMP/Mts – Lulus SMA/MA : 52,5 %
Lulus Diploma – Lulus Pasca Sarjana : 6,3 %
Lulusan Pondok Pesantren : 0,7%
Temuan Survey
Bisa Baca Al qur’an
Ya : 87,6 %
Tidak : 12,4 %
Tingkat Kemampuan Membaca :
Sangat Buruk : 4,17 %
Buruk : 5,08 %
Sangat Kurang : 6,90 %
Kurang : 10,54 %
Cukup /Sedang : 50,05 %
Agak Baik : 6,29 %
Baik : 6,37 %
Sangat Baik : 5,99 %
Lancar : 2,58 %
Sangat Lancar : 2,05 %
Tingkat Kemampuan yang dikelompokkan
Rendah : 26,67 %
Sedang : 50,05 %
Tinggi : 23,28 %
Intensitas Membaca Alquran:
Setiap hari : 24,18 %
Hampir Setiap Hari : 10,01 %
3-4 Hari per minggu : 13,19 %
1-2 hari per minggu : 32,90 %
Kurang dari 1 hari dalam seminggu atau tidak pernah : 19,71 %
Pernah khatam Alquran :
Ya : 60,80 %
Tidak : 39,20 %
Usia pertama kali membaca Alquran
5 – 10 Tahun : 66,7 %
11 – 20 Tahun : 31,2 %
21 – 30 Tahun : 1,3 %
31 – 40 Tahun : 0,4 %
41 – 55 Tahun : 0,4 %
Tempat Belajar Membaca Alquran :
TPA / TPQ : 5,69 %
Sekolah : 4,55 %
Pesantren : 6,52 %
Masjid / Mushola : 14,94 %
Rumah Guru Ngaji/Kyai/Ustad : 59,89 %
Rumah diajar orang tua/Keluarga : 7,28 %
Rumah, les/privat : 0,83%
Rumah, belajar sendiri : 0,15%
Lainnya : 0,15 %
Pernah mengikuti pelatihan / workshop tentang Alquran
Ya : 14 %
Tidak : 86 %
Jumlah Hafalan :
1 – 10 Surat Pendek : 68, 84 %
11 – 20 Surat Pendek : 23,12 %
21 – 30 Surat Pendek : 3,94 %
1 juz : 2,81 %
2 – 5 Juz : 0,68 %
6 – 10 Juz ; 0,38%
11 – 15 Juz : 0,15 %
30 Juz : 0,08 %
Ketersediaan Mushaf di rumah :
Ya : 95,7 %
Tidak : 4,3 %
Ketersediaan Mushaf untuk masing masing Anggota Keluarga:
Ya : 65,4 %
Tidak : 34,6 %
Sumber: LPTQ Banten









