WACANA pemerintah mengimpor gas alam cair atau Liquied Natural Gas (LNG) dari Singapura dipandang aneh Komisi VII DPR. Nyatanya, dari produksi gas dalam negeri, 50 persen hasilnya diekspor.
“Tolong dicek lagi. Dari data yang ada 50 persen kita konsumsi dalam negeri, 50 persen kita ekspor. Kok kemudian kita mau mengimpor lagi?” heran Ketua Komisi VII DPR Gus Irawan Pasaribu kepada JawaPos.com, Jumat (25/8).
Memang dalam teori ekonomi, kata dia, pastinya akan dicari harga yang paling murah. Namun menjadi pertanyaan, Singapura yang minim sumber daya mengapa bisa memiliki gas alam cair yang lebih murah dibandingkan dengan Indonesia yang melimpah sumber dayanya.
“Kan heran. Singapura punya apa emang? Bisa-bisanya mereka punya gas lalu lebih murah. Itu darimana gas Singapura itu?” ujar Gus Irawan.
Karena itu, Gus Irawan memastikan Komisi VII DPR akan mempertanyakan wacana impor gas alam cair saat melakukan rapat kerja dengan pihak terkait. “Senin depan kita ada rapat dengan Pertamina, akan ditanyakan (produksi gas mereka). Mumpung belum ditetapkan sebagai kebijakan,” sebut dia.
Akan tetapi menurut dia, pemerintah sebaiknya tidak harus mengimpor. Mereka harusnya berupaya menekan biaya produksi sehingga harga bisa berkompetisi dengan harga dari luar negeri.
Fasilitas untuk memproduksi gas pun perlu ditingkatkan atau lengkapi. Nyatanya sudah ada Pertamina dan PGN yang menggali sumber daya di dalam bumi itu.
“Kita punya Pertamina, kita punya PGN, coba ditanya dulu kesiapan Pertamina dan PGN. Kita optimalisasi lah resources yang kita miliki karena 50 persen kita ekspor kok,” pungkas politikus Partai Gerindra itu. (dna/JPC)









