SERANG – Ribuan warga Banten turun ke jalan menggelar aksi damai dan solidaritas terhadap muslim Rohingya. Aksi dimulai dari halaman Masjid Agung Attsauroh Kota Serang, kemudian bergerak long march ke Alun-alun dan berkumpul di depan pendopo Bupati Serang, Jumat (8/9).
Ketua Forum Persaudaraan Umat Islam Banten (FPUIB) Zaenal Arifin menyatakan ada 150 ormas Islam yang bergabung. FPUIB sengaja menghimpun ribuan umat Islam yang peduli terhadap muslim Rohingya agar tidak bergerak sendiri. Saat ini masda yang hadir sudah melebihi target yang diperkirakan.
“Target kami kemarin itu sekitar lima ribu. Alhamdulillah hari ini masa sudah mencapai kurang lebih 10
000 muslim, itu sudah melebihi target, ” katanya.
Menurut dia, aksi tersebut satu bentuk refleksi dari umat Islam di Banten. Apa yang dilakukan oleh militer Myanmar terhadap warga Rohingya sudah melebihi batas kemanusiaan.
Bukan itu saja, pihaknya terus lakukan penggalangan dana guna membantu secara nyata warga Rohingya. Dana itu akan diserahkan pada lembaga yang benar-benar kredibel.
“Kita akan lakukan penggalangan dana. Nanti kita serahkan pada lembaga yang kredibel dan mempunyai legalitas yang sah,” jelasnya.
Dalam tuntutannya ia juga mengutuk Aung San Suu Kyi dan Bhiksu Ashin Wirathu. Menurut dia, mereka sebagai teroris yang sebenar-benarnya teroris (The real terorist).
“Jalan terbaik mereka (Aung San Suu Kyi dan Bhiksu Ashin Wirathu-red) dibunuh, dipenjara seumur hidup atau diasingkan,” tegasnya.
Anggota DPR RI Dapil II Banten Yandri Susanto turut lakukan aksi damai. Ia menyatakan tragedi kemanusiaan etnis Rohingya sangat luar biasa.
“Sangat memilukan, menyedihkan penistaan pada umat. Bayangkan bagaimana rasanya dihina, diusir, bahkan dibunuh. Enak nggak,” ujarnya saat aksi, Jumat (8/9).
Ia menegaskan bila pemerintahan saat ini betul peduli terhadap tragedi kemanusiaan etnis Rohingya. Ia berpendapat agar mengeluarkan negara Myanmar dari anggota ASEAN.
“Buat apa bersahabat dengan para pembunuh. Yang memelopori harus Indonesia sebagai negara terbesar. Suka atau tidak suka pasti ada gesekan dan perbedaan,” tuturnya.
Yandri menilai upaya pemerintah belum maksimal. Kementerian Luar Negri misalnya, hanya sebatas melepaskan tugas. Ia menegaskan ASEAN dan Indonesia tidak boleh diam. “Bisa jadi negara lain terpapar kekejaman seperti warga Rohingya,” katanya.
Menurut politisi Partai Amanat Nasional ini aksi paling nyata yakni mengusir duta besar Myanmar dari Indonesia agar merasakan betapa hinanya diperlakukan hina persis seperti warga Rohingya yang terkatung-katung mengalami deretan penderitaan. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).#












