Laut sudah menjadi primadona bagi masyarakat Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan. Meski tertatih-tatih akibat penambangan pasir, mereka tak banyak pilihan selain menggantungkan hidupnya dari laut.
Laporan : SUPRIYONO
Puluhan kapal nelayan akhirnya tampak setelah perjalanan menuju bibir pantai Lontar, Kecamatan Tirtayasa, harus melewati jalan yang penuh bebatuan dan bergelombang. Silir angin pantai seperti menebus kebulan debu sepanjang jalan menuju kampung yang tak beraspal.
Kesibukan nelayan merajut jala pun memberi energi baru. Padahal udara cukup menyengat. Namun, aktivitas para nelayan yang tetap bersemangat menyambung jalan hidupnya sebagai manusia laut.
Di tengah kapal yang bersandar, sebagian dari mereka terlihat sibuk bebersih kapal. Sebagian lagi merajut jaring yang koyak. Di antara kesibukan itu, Jamsari dan istrinya Salmi, justru sibuk merangkai rumput laut di atas kapalnya yang bersandar. “Biasa masang bibit (rumput laut-red),” ujar Jamsari saat Radar Banten mendatanginya, Senin (31/10) siang.
Kulitnya yang sudah berkeriput tak mengurangi ketelatenan Jamsari merangkai rumput laut dengan seutas tali plastik. Dengan potongan sekira 10 sentimeter, sebanyak 20 kilogram bibit rumput laut Jamsari dan istri siap untuk dipasangkan di tepi laut. “Rumput laut mah seseran (pekerjaan sampingan-red), soalnya ikannya lagi enggak ada,” timpal Salmi yang mengaku sudah sembilan tahun menekuni budi daya rumput laut.
Jamsari dan Salmi bukan satu-satunya nelayan yang mulai menyandarkan mata pencahariannya pada budi daya rumput laut. Seperti umumnya masyarakat Lontar, pria kelahiran 60 tahun silam ini juga dahulunya berprofesi sebagai nelayan.
Menurutnya, hasil tangkapan ikan, udang, dan rajungan menjadi alasan baginya dan sebagian nelayan di Lontar menggeluti budi daya rumput laut sebagai penyambung hidup. “Kalau lagi banyak udang sama ikan yang berangkat, kalau lagi enggak ada ya begini saja,” cetus Jamsari yang masih sibuk merangkai bibir rumput laut.
Hasil tangkapan ikan memang sedang menurun drastis. Padahal, dahulu Jamsari bisa menghasilkan ikan satu kuintal dalam satu kali pelayaran. “Sekarang kan angin lagi besar. Tapi kalau pasirnya enggak dikeruk mah ikan udang ada banyak,” keluhnya.
Selain cuaca, penambangan pasir di pesisir pantai Lontar diduga menjadi salah satu penyebab sepinya tangkapan. Tak jarang, bekas lubang-lubang penambangan pasir juga membuat jaring nelayan rusak. Meski tidak sampai membuat mereka berhenti total dari aktivitas nelayan, kondisi tersebut banyak dikeluhkan nelayan Lontar.
Bahkan, di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lontar, per hari rata-rata satu kapal nelayan tangkap tradisional hanya bisa mendapatkan hasil sekira Rp 150 sampai Rp 200 ribu per hari. “Sekarang trennya lagi turun karena anginnya masih kencang,” kata Kepala TPI Lontar Kusnanto ditemui di kantornya yang berada di dermaga tak jauh dari bibir pantai.
“Jadi kalau bulan 10 dan 11 itu kurang, karena angin kencang. Kalau Januari sampai Maret itu musimnya udang, setelah Maret baru timbul ikan,” sambung Kusnanto ditemani staf pembantunya, Rahmatullah.
Menurutnya, menurunnya tangkapan ikan lebih karena cuaca yang tidak mendukung. Namun demikian, Kusnanto tidak mengelak, jika aktivitas penambangan pasir menjadi salah satu faktor penyebabnya. “Sekarang saja, paling yang ke sini 40-an nelayan dari 200-an nelayan yang tercatat di TPI,” katanya.
Sayang, Kusnanto tidak bisa menjelaskan lebih detail lagi aktivitas nelayan di Lontar. Ia terburu pamit untuk pergi melaporkan aktivitas tangkapan nelayan hari itu kepada Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Serang.
Pembicaraan pun dilanjut dari penuturan Rohmatullah yang masih antusias menceritakan aktivitas keseharian nelayan di Lontar. Ia membenarkan jika aktivitas penambangan pasir membuat pesisir Lontar mengalami kerusakan. “Dampak penambangan yah bikin jaringnya nelayan masuk ke bekas galian, pada nyangkut. Itu kan bekasnya ketimpa lumpur, jaring kan ada pemberatnya, nah pemberatnya itu sering kesedot lumpur,” katanya.
Kata dia, kalau soal tangkapan memang tergantung musim dan rezekinya nelayan. “Cuma memang pas lagi nangkap jadi terganggu. Tapi karena pasir di tengahnya diambil kan otomatis pasirnya turun. Dan yang jelas-jelas enggak ada itu yang tambang kerang bambu yang itu hidupnya di pasir,” jelasnya.
Rohmatullah yang mengaku sudah bekerja selama lima tahun di TPI, awalnya bergelut usaha rajungan. Namun, sejak 2003 usahanya harus gulung tikar karena menurunnya rajungan akibat galian pasir. “Dulu itu minimal sehari bisa dapat rajungan 50 kilogram per perahu. Itu yang enggak dapat. Kalau yang dapat ya bisa satu sampai dua kintal. Itu saya kerja enak,” kisahnya.
“Pasca itu (penambangan pasir-red) penurunannya drastis karena rajungan kan bermukimnya di pasir. Kalau pun ada, sekarang kecil-kecil saja. Padahal harganya cukup mahal bisa sampai Rp 50 ribu per kilo,” sambung Rohmatullah.
Nasib yang menimpanya juga terjadi pada penangkap rajungan lain di sekitar Lontar. Ia beruntung karena masih bekerja di TPI. Berbeda dengan lainnya yang terpaksa harus menganggur. “Ya ada yang balik ke ikan kaya Pak Maya, tapi ada juga Pak Haji Nani yang sudah enggak kerja sama sekali,” akunya.
Tidak hanya urusan pasir, masyarakat Lontar memang harus berjibaku dengan akses jalan menuju kampungnya yang dalam kondisi rusak parah. Tidak hanya berbatu, setengah jalan menuju kampung itu masih dalam keadaan tanah yang bergelombang.
Beruntungnya, Kampung Lontar masuk sebagai salah satu daerah kawasan rehabilitasi pesisir. Karenanya, setengah dari lima kilometer jalan di kampung itu sudah dibetonisasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI. “Dihitung dari pertigaan Kampung Kebon, Desa Sedayu semuanya lima kilometer, tapi ya gitu separonya masih rusak parah, dan itu yang separo juga dibangun sama kementerian,” kata Marsyad, tokoh masyarakat Lontar.
Padahal, lanjutnya, Lontar itu lautan yang punya banyak potensi. Namun, tidak ada perhatian dari pemerintah daerah untuk membangun akses jalan. “Itu yang katanya pasir jadi PAD (pendapatan asli daerah-red) sekian miliar dikemanakan?” tanya Marsyad dengan nada kesal. (*)











