SERANG – Pelabuhan Karangantu, Kota Serang, sekitar pukul 08.30 WIB sudah ramai dengan aktivitas nelayan dan masyarakat sekitar Pelabuhan Karangantu. Namun pagi itu, aktivitas nelayan bukan aktivitas seperti biasanya, seperti jual beli hasil laut atau sekadar merapihkan alat-alat bekas melaut semalam.
Tidak hanya aktivitas, perahu pun tidak seperti biasanya, berbagai ornamen menghiasi perahu nelayan. Ada yang menggunakan umbul-umbul serta produk makanan dan minuman instan, ada juga dengan hasil bumi seperti pisang dan kelapa.
Aktivitas yang tidak biasa itu dilakukan nelayan dan masyarakat pesisir dalam merayakan pesta laut atau masyarakat sekitar menyebutnya Nadran. Sebuah ritual adat untuk mensyukuri hasil laut dan sekaligus momen untuk meminta tambahan limpahan hasil laut.
Pukul 09.00 WIB, sebagian masyarakat dan nelayan sudah mulai menuju laut lepas menyusul sejumlah perahu yang lebih pagi sudah ada di titik pelarungan sesajen berupa bunga-bungan dan kepala kerbau jantan.
Sebagian lainnya, masih bertahan di pelabuhan menunggu dilepas oleh Wali Kota Serang Tb Haerul Jaman. Pantauan Radar Banten Online, baik yang sudah berada di laut lepas maupun yang masih di pelabuhan sekitar 50 perahu nelayan mengikuti ritual tahunan tersebut.
Sekitar pukul 10.00 WIB, Jaman baru melepas para nelayan setelah membuka agenda Festival Pesisir yang menjadi acara induk dari penyelenggaraan ritual Nadran tersebut.
“Ini lebih sedikit dari tahun kemarin, 50 persenan lah. Biasanya mah ribuan,” kata Rajai (46), salah satu nelayan Karangantu yang tahun ini tidak ikut ritual Nadran.
Tahun ini banyak nelayan yang tidak ikut pesta laut. Penyebabnya macam-macam, terutama hasil laut yang sedikit. “Jadi enggak ada uang buat ikut pesta lautnya,” kata Rajai yang memilih jualan minuman dan kopi saat pesta laut berlangsung.
Penyebab lainnya, waktu mendadak yang diumumkan panitia dari Dinas Pariwisata Kota Serang. Nelayan baru mengetahui akan ada Nadran, 10 hari sebelum pelaksanaan. Biasanya, tiga bulan sebelum pelaksanaan.
“Kan kalau dari lama mah bisa siap-siap dulu. Satu kapal minimal Rp 2 jutaan buat sesajen makanan dan lain-lain,” ujar Rajai.
Seumur hidup, baru tahun ini Rajai tidak mengikuti pesta laut tersebut. Ritual sakral para nelayan ini biasa dilakukan di bulan 10 atau 11, menjelang akhir tahun.
Pemilihan bulan itu bukan atas hitungan tertentu, hanya pertimbangan menjelang akhir tahun dan cuaca cenderung bagus pada bulan tersebut.
Menurut Rajai, dari temurun dijelaskan, tujuan dari adanya pesta laut ini adalah bentuk syukur dan sukacita masyarakat nelayan terhadap hasil laut menjelang akhir tahun. Bagi para nelayan, ini menjadi ritual yang harus terus berjalan.
Soal sesajen kepala kerbau, ada beberapa syarat utama. Yaitu kerbau jantan dan yang masih segar. “Dulu mah biasanya beli kerbau utuh, lalu dipotong rame-rame. Kepalanya buat dihanyutkan, dagingnya dimasak untuk makan yang mengisi hiburan, jadi kondisi kepala masih segar,” katanya.
“Sekarang-sekarang mah panitianya beli kepalanya aja, jadi kadang sudah busuk. Pernah itu kepalanya ‘dibalikin’ lagi dan nelayan pada kesurupan,” ujarnya.
Menurut Rajai, nelayan tidak merasa keberatan dimintai iuran untuk pembelian kerbau namun yang terpenting sesuai dengan kekuatan keuangan masyarakat.
Wali Kota Serang Tb Haerul Jaman menjelaskan, Festival Pesisir ini dilakukan sebagai salah satu upaya pemerintah dalam menjaga kearifan lokal. Selain itu, guna meningkatkan pariwisata di Kota Serang.
Menurut Jaman, pesta laut seperti ini memiliki daya tarik pariwisata. Karena itu pemerintah sudah seyogyanya merawat hal tersebut. “Tapi untuk pariwisata perlu peran serta masyarakat juga, untuk menjaga laut kita agar tetap indah dan membuat masyarakat nyaman,” kata Jaman.
Festival Pesisir ini akan digelar selama tiga hari dari tanggal 2 hingga 4 November, dengan rangkaian acara pesta laut atau Nadran, sejumlah perlombaan dan hiburan masyarakat. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)











