SERANG – Seorang warga asal Kecamatan Kramatwatu dikabarkan meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji di Makkah. Penyebabnya diduga serangan jantung.
Hal itu terungkap pada rapat koordinasi (rakor) pemulangan jemaah haji di aula Tb Saparudin, Setda Pemkab Serang, Senin (27/8). Rakor yang diikuti perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) dan unsur pimpinan kecamatan itu dipimpin oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Serang Tubagus Entus Mahmud Sahiri.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang Riris Budhiarni yang hadir pada rakor mengungkapkan, pihaknya menerima informasi adanya warga asal Kecamatan Kramatwatu yang ikut kloter jamaah Cilegon meninggal di Makkah. “Kalau dari KTP-nya memang warga kita, asal Kramatwatu. Data orangnya kita belum tahu banyak,” ungkapnya.
Kata Riris, penyebab meninggalnya karena memiliki riwayat penyakit jantung. Ia meninggal dunia pada hari Arafah. “Jadi, yang lainnya berangkat ke Muzdalifah, beliau sudah meninggal dunia. Sempat mendapat penanganan medis juga di sananya,” terangnya.
Riris memastikan, seluruh jemaah haji yang berangkat dari kloter Kabupaten Serang selamat. Hanya saja, ada beberapa orang yang mengalami sakit.
Dikonfirmasi melalui sambungan telepon genggam, Camat Kramatwatu Wawan Setiawan mengaku, belum mengetahui informasi warganya yang meninggal saat menunaikan ibadah haji di Makkah. “Saya cari informasinya dulu,” singkatnya.
Sekda Pemkab Serang Tb Entus Mahmud Sahiri mengungkapkan, jemaah haji sebanyak 385 orang berikut pembimbing dan tenaga medis Kabupaten Serang kloter pertama akan tiba pada 30 Agustus pukul 01.00 WIB. Para jamaah akan dijemput di asrama haji Pondok Gede. “Kita berharap jamaah bisa sampai Serang dengan selamat,” harap Entus usai memimpin rapat.
Kata Entus, pihaknya sudah mengantisipasi tertukarnya barang bawaan jemaah di asrama haji. Selain itu, menempatkan tenaga medis untuk penanganan jamaah yang sakit. “Tenaga medis nanti ada dua tim, satu tim ikut ke asrama haji, satu tim lagi standby di pendopo,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kemacetan, pihaknya juga membatasi jumlah anggota keluarga yang menjemput jamaah. Menurutnya, kendaraan jemputan cukup satu kendaraan saja supaya kondisi lalu lintas tertib. “Jumlahnya kan cukup banyak. Kalau satu orang jemputannya dua mobil saja, pasti membeludak. Saya minta jangan banyak-banyak yang menjemput, yang lainnya tunggu di rumah saja,” imbaunya. (jek/zai/dwi)










