Ditinggal mati suami, Suci (51) bukan nama sebenarnya harus memutar otak untuk menghidupi keempat anak tercinta. Kepergian lelaki tangguh dan penyabar itu membuat Suci mengerti, mencari rezeki tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sikapnya yang selalu kasar terhadap almarhum, hanya menyisakan penyesalan di hati. Sang suami yang selalu sabar meski dimarahi setiap hari, tak bisa lagi hadir dalam hari-hari penuh misteri.
“Ya waktu itu saya khilaf, Kang. Kan namanya umur enggak ada yang tahu. Kalau saja tahu bakalan begini, sikap saya enggak akan kasar ke suami,” kata Suci kepada Radar Banten.
Hingga suatu hari, di usianya yang ke-43 tahun, Suci kembali menemukan duda yang siap menafkahi. Sebut saja namanya Boski, yang saat itu usianya 45 tahun. Apalah daya, lantaran sama-sama merindukan sosok pendamping hidup, keduanya pun sepakat menuju jenjang pernikahan.
Sejak muda, Suci mengakui kalau ia memiliki sikap egois dan gaya bicaranya yang ketus. Jika ada hal yang ia tidak suka, maka ia akan mengatakannya langsung tanpa berpikir sopan atau tidaknya. Tak heran jika kedua orangtua pun tampaknya seolah angkat tangan mengurus perempuan bermata sedikit besar itu. Jika sudah marah karena keinginannya tidak diturti, wuah, bisa-bisa membuat ribut seisi rumah.
Dahulu, Suci terlahir dari keluarga berada. Hidupnya sangat dimanja dan tentu membuat Suci semakin tidak bisa mengontrol emosi. Pergaulan semasa sekolah yang menciptakan banyak perubahan pada sikapnya. Hingga suatu hari, bisnis sang ayah tercinta mengalami kebangkrutan karena ditipu orang. Tak lama ayahnya meninggal dan menyisakan harta tak seberapa.
Kalau dilihat dari penampilan, Suci sebenarnya wanita cantik. Memiliki wajah manis keturunan dari sang ibu. Banyak lelaki yang coba mendekati, tetapi lantaran sikapnya yang acuh tak acuh, membuat lelaki yang hanya punya cinta ala kadarnya, pasti bakal pergi meninggalkan.
Singkat cerita, dari sekian banyak lelaki yang mengejarnya, hanya almarhum suaminyalah yang mampu menaklukkan Suci. Tak jauh berbeda dengan Suci, almarhum suami juga termasuk orang berada. Katanya, dahulu, sang suami juga memiliki usaha turun-temurun keluarga menjadi penjual bakso. Lantaran dijanjikan hidup mapan, Suci dan almarhum pun resmi menikah.
Dua puluh tahun lebih mengarungi bahtera rumah tangga, empat anak mewarnai hari-hari mereka. Banyak kenangan pahit yang dilalui bersama, termasuk ketika sang suami mengalami kebangkrutan. Mengalami penurunan ekonomi, membuat Suci semakin tak terkendali. Hingga akhirnya, takdir pun memaksa Suci harus kehilangan suami.
Seiring berjalannya hari, Suci perlahan mulai terbiasa menjalani hari-hari seorang diri. Memanfaatkan peran saudara dan kakak-kakaknya yang masih mau membantu, beberapa kali Suci dipinjami uang, bahkan sampai diberi modal untuk membuka usaha. Namun, apalah daya, karena tak biasa hidup mandiri, uang pemberian itu habis sia-sia.
Beruntung anak pertamanya laki-laki. Merasa punya tanggung jawab pada ibu dan adik-adik, ia mau bekerja membantu ekonomi keluarga. Menjadi orang yang diandalkan, sang anak menjalani perannya dengan baik. Hidup Suci pun menjadi lebih baik meski masih kekurangan.
Namun apalah daya, yang namanya lelaki, pasti sulit menahan hasrat memiliki istri jika usia sudah mencukupi. Begitu pun halnya seperti dialami anak pertama Suci. Meminang wanita rekan sekerja, sang anak resmi menjadi sosok suami bagi sang kekasih. Sejak saat itu, mau tidak mau, jatah uang untuk sang ibu dikurangi bahkan sampai tak memberi lagi.
“Ya waktu itu hidup saya memang benar-benar berubah drastis. Yang tadinya enak, enggak kerasa tiba-tiba jatuh miskin. Bahkan sempat mau makan saja susah,” curhat Suci.
Namun ajaibnya, seolah menemukan berlian di bawah dasar laut nan gelap, Suci mendapat tawaran menikah dengan duda yang hidupnya semi sejahtera karena punya sawah. Sang duda tak lain ialah Boski. Lewat peran para teman sesama petani, Boski rutin mengirim bingkisan ke rumah Suci sebagai bentuk harapan bersedia dinikahi. Widih.
Tapi, meski sama-sama saling membutuhkan, bukan perkara mudah untuk mendapatkan cinta Suci. Selain harus meruntuhkan hati Suci yang memang tak mudah ditaklukkan, Boski juga harus menghadapi keempat anak Suci yang belum memberikan izin ibunya menikah lagi.
Beruntungnya, urusan ekonomilah yang membuat Suci tak bisa menolak tawaran Boski. Seolah tak menghiraukan bagaimana perasaan keempat anaknya, waktu itu, Suci menganggap semua ini ia lakukan demi kehidupan mereka juga. Mengikat janji sehidup semati, Suci dan Boski resmi menjadi sepsang suami istri.
Di awal pernikahan, mereka pasangan yang saling mengerti satu sama lain. Keduanya menjaga perasaan dan menciptakan suasana harmonis. Boski yang kalem dan bersikap bijaksana, membuat Suci ikut terbawa dalam setiap tutur katanya. Menjadi istri yang berbakti kepada suami, Suci melayani Boski dengan setulus hati. Mulai dari menyiapkan sarapan, sampai memberikan kepuasan biologi setiap malam.
Hingga di tahun kedua pernikahan, entah karena bertambahnya usia atau memang bawaan sejak muda, Suci mulai menunjukkan sikap aslinya. Sering marah dan mudah emosi jika keinginan tak dituruti, ia membuat Boski tak berdaya. Parahnya, bukan hanya Suci yang membuat Boski pusing. Tak disangka, keempat anak tirinya juga memberi tekanan yang membuatnya terkadang sakit-sakitan. Aih, kok bisa?
“Saya juga awalnya enggak tahu, sikap anak-anak ke bapak tirinya tuh pada dingin. Tapi pas lagi enggak ada saya, mereka diam-diam kayak ngajak ngobrol, terus suka sok ngebaik-baikin gitu,” ungkap Suci.
Hingga suatu hari, kecurigaan Suci semakin terasa ketika datang dua unit motor baru ke rumah. Yang membuat Suci tak menyangka, motor itu dibeli suaminya secara tunai alias lunas untuk sang anak. Meski Boski mengatakan ia sengaja membeli, tapi dari raut wajahnya tak bisa dibohongi, kalau sang suami tampak gelisah.
Seminggu kemudian, Boski benar-benar jatuh sakit dan tak mampu berjalan. Ia dibawa pulang ke rumah keluarga oleh anak-anaknya dari istri terdahulu. Tak lama kemudian, entah ada masalah apa, salah satu anak Boski datang ke rumah Suci sambil marah-marah. Aih kenapa itu Teh?
“Dia minta saya sama Kang Boski cerai. Katanya, Kang Boski cuma dimanfaatin doang sama saya dan anak-anak saya,” ungkap Suci sedih.
Saat itu pula, dari amarah anak Boski, diketahuilah kalau ada salah satu anak Suci yang meminta dibelikan rumah dan sawah. Suci kaget bukan kepalang, ia tak menyangka anak-anaknya bersikap seperti itu tanpa sepengetahuannya. Suci pun memarahi anaknya. Terjadilah musyawarah, di situ Suci tahu, kalau Boski sempat diancam. Aih aih.
Akhirnya, meski Suci berusaha memperbaiki hubungan, lantaran Boski tak berdaya diatur anak-anaknya, mereka pun resmi berpisah. Suci hanya bisa gigit jari, menyaksikan kenyataan pahit kehilangan suami untuk kedua kali. Astaga.
Ya ampun, sabar ya Teh Suci, mungkin ini memang jalan terbaik dari Tuhan. (daru-zetizen/zee/ags)










