Tampan, kaya, punya pekerjaan tetap, tentu Pengki (55) nama samaran menjadi incaran banyak wanita. Sempat menjalin hubungan dengan beberapa perempuan, ia tampaknya belum juga menemukan kecocokan. Sampai suatu hari, bagai melihat bidadari, Pengki menemukan wanita yang sesuai kriteria, sebut saja namanya Inem (51).
Menjalani rumah tangga belasan tahun lamanya, nyatanya tak menjamin kesetiaan tercipta. Menganggap SMS-an mesra dengan lelaki lain hal biasa, justru malah membuat Pengki kecewa. Parahnya, seolah ingin memberi pelajaran pada sang istri, Pengki tega bawa pulang wanita muda. Aih-aih.
“Hahaha, kejadian itu sengaja saya lakukan biar istri sadar. Waktu itu usia saya 35 tahun dan Inem 31 tahun,” kata Pengki kepada Radar Banten.
Pengki bukanlah lelaki biasa. Wajah tampan dengan tubuh atletis, membuatnya mudah memikat hati wanita mana pun yang ia inginkan. Bukan hanya itu, terlahir dari keluarga berada, ayah pekerja dan ibu tenaga pengajar di sekolah ternama di kampungnya, Pengki tumbuh menjadi lelaki berkarakter.
Apalagi, ia yang memilih sekolah di kejurusan teknik mesin, sangat mencintai bidangnya dan menjadi yang terbaik. Tak ayal, Pengki yang baru lulus sekolah langsung bekerja di perusahaan ternama. Sampai usia beranjak dewasa, karirnya semakin melejit dengan bekerja di salah satu perusahaan milik negara. Widih, banyak duit dong, Kang?
“Ya alhamdulillah, saya selalu diajarkan kerja keras sama orangtua. Jadi setiap melakukan apa pun enggak pernah setengah-setengah,” terang Pengki.
Tak jauh berbeda dengan Pengki, Inem sendiri termasuk wanita cantik dan cerdas. Tak hanya itu, hal yang membuat Pengki jatuh cinta, Inem memiliki hati yang baik dan selalu mampu menenagkan di saat situasi genting. Maklumlah, Pengki tipe lelaki yang tak bisa tenang dalam menghadapi masalah.
Jadi, berdasarkan pengakuan Pengki, ia dan Inem pasangan yang saling melengkapi. Kalau untuk urusan ekonomi, Inem memang tak seberuntung Juki. Terlahir dari keluarga miskin, ia menjalani masa muda yang penuh tantangan. Sempat berjualan pulsa dan makanan ringan di sekolah, Inem menjalani semua dengan tabah.
Hingga Pengki merasa sudah saatnya mengakhiri masa lajang, ia meminta dinikahkan oleh orangtua. Datanglah Pengki dan sang ayah ke rumah Inem. Bersilturahmi sekaligus melangsungkan lamaran, mereka terikat janji pertunangan. Tapi, sepulang dari lamaran, Pengki mengaku, sang ayah sempat ragu lantaran kondisi ekonomi keluarga Inem.
Meski begitu, pada akhirnya sang ayah tak bisa melawan kehendak anak lelakinya. Pengki bertekad akan tetap menikahi Inem apa pun yang terjadi. Sampai akhirnya, pernikahan pun berlangsung meriah. Mengikat janji sehidup semati, Pengki dan Inem resmi menjadi sepasang suami istri.
Di awal pernikahan, rumah tangga mereka diselimuti kebahagiaan. Bagaimana tidak, Pengki yang memiliki penghasilan besar dan simpanan uang semasa muda, tak perlu pusing-pusing lagi memikirkan biaya. Langsung membeli rumah dan melengkapi kebutuhan hidup lainnya, mereka jadi kebanggaan keluarga.
Setahun usia pernikahan, Pengki dan Inem dikaruniai anak pertama. Dengan kehadiran sang bayi laki-laki lucu, membuat kebahagiaan mereka berlipat ganda. Hubungan kedua keluarga pun terjalin harmonis. Sampai lima tahun usia pernikahan, lahirlah anak kedua.
Seiring berjalannya waktu, kehidupan rumah tangga mereka berjalan layaknya pasangan muda lainnya. Inem melayani suami dan mengurus anak, Pengki bekerja dan mengayomi keluarga. Sampai suatu ketika, kebahagiaan itu sempat rusak karena masalah kesetiaan. Aih-aih.
Semua berawal saat senja datang, suasana rumah tampak lengang. Pengki yang lelah sepulang bekerja, tak mendapati sang istri ketika berkali-kali mengucap salam, namun tak ada yang menjawab. Ia masuk dan duduk di sofa, namun dari kamar terdengar suara wanita cekikikan.
Karena penasaran, dibukalah pintu kamar. Matanya terbelalak, wajahnya memerah, Pengki naik darah mendapati Inem tengah asik cekikikan sambil SMS-an dan mendengarkan musik menggunakan headset. Apa mau dikata, direbutlah ponsel sang istri. Tak disangka, ketika dibaca, Inem melakukan komunikasi dengan lelaki menggunakan kata-kata mesra.
“Wah waktu itu saya benar-benar marah. Bayangin saja, Kang, kondisi lagi capek, pulang bukannya disambut istri, ini malah mergokin dia mesra-mesraan sama cowok lain di SMS,” curhat Pengki.
Parahnya, seperti diceritakan Pengki, seolah tak menghargai suami, Inem malah membantah ketika dimarahi. Katanya, ia mengaku sudah biasa melakukan SMS-an seperti itu dengan sang lelaki dan tak ada hubungan lebih. Apa mau dikata, hal itu justru membuat Pengki kecewa.
Sambil menarik napas dalam-dalam, saat itu Pengki tak lagi menghiraukan sang istri. Keributan yang sempat terjadi pun mereda seketika. Namun siapa sangka, di balik sikap diamnya, Pengki justru merencanakan sesuatu yang membuat Inem terluka lebih dalam.
Sejak saat itu, tak ada lagi tegur sapa apalagi obrolan-obrolan mesra menjelang tidur. Bagai dua manusia yang tak saling mengenal, Inem dan Pengki sama-sama bersikap diam. Hanya kepada kedua anaknyalah mereka bercengkerama manja.
Seminggu kemudian, seolah sudah merencanakan strategi dengan matang, Pengki terlebih dahulu meminta kedua anaknya ikut berlibur bersama paman. Di rumah hanya ada Inem seorang diri. Ketika malam tiba, Pengki pun bersiap melancarkan aksinya.
Tepat jam sepuluh malam, Pengki pulang bersama wanita muda, cantik, berpakaian seksi dan menggoda. Tanpa mengetuk pintu, ia masuk dan duduk sambil ketawa-ketiwi dengan sang wanita. Tak lama kemudian sang istri datang. Mengamuklah Inem memarahi suami dan wanita muda itu. Keributan pun terjadi. Hebatnya, seolah mampu menguasai keadaan, saat itu Pengki tampak tenang.
Sang wanita muda pun pergi pulang seorang diri. Menyaksikan Inem menangis histeris sesenggukan, saat itulah Pengki menasihati sang istri. Ajaibnya, sejak kejadian itu, Inem mengerti dan tak lagi mengulangi kesalahannya. Keluarga mereka semakin bahagia. Subhanallah. (daru-zetizen/zee/ags)








