SETU – Pemkot Tangsel optimistis, jalur Mass Rapid Transit (MRT) bisa selesai tahun 2021. Keseriusan itu diperlihatkan lewat perwujudan sinkronisasi rancangan tata ruang wilayah (RTRW). Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany menyatakan, tahun ini, pemkot tengah menyiapkan studi pendahuluan, studi fisibilitas, dan desain teknis yang mengacu Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ). ”Kita buat dulu perencanaannya, setelah jadi akan dimasukkan dalam susunan peraturan daerah RTRW Tangsel. Insya Allah, bisa selesai di tahun 2018 ini. Setelah itu, bisa dibahas ke tingkatan nasional,” katanya saat ditemui di Graha Widya Bhakti Puspiptek, Kamis (27/9).
Ia juga berharap, pembangunan MRT bisa terealisasi saat masa kepemimpinannya saat ini. Walikota dua periode tersebut menyatakan dalam Perpres Nomor 55 Tahun 2018 sudah tertuang adanya rencana perpanjangan jalur MRT dari Lebakbulus, Jakarta Selatan ke kawasan Ciputat dan Pondokcabe (Pamulang). ”Saya inginnya, tahun 2021 selesai,” ujarnya.
Rute MRT, sambungnya, tak hanya sebatas Tangsel tetapi juga sampai ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dimulai dari Stasiun Lebak Bulus-Ciputat-Pamulang-Rawa Buntu-Serpong dan terkoneksi dengan stasiun kereta eksisting. ”Jadi, kehadiran MRT menjadi solusi dan moda transportasi yang dibutuhkan masyarakat,” tukasnya.
Sekadar diketahui, jalur MRT Jakarta dengan rute Lebak Bulus – Bundaran Hotel Indonesia rencananya akan beroperasi pada Maret 2019. Rute yang dilalui antara lain Stasiun Lebak Bulus, Stasiun Fatmawati, Stasiun Haji Nawi, Stasiun Blok A, dan Stasiun Blok M.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menyatakan, pembangunan MRT memang memerlukan biaya yang besar. Namun, apabila terealisasi bisa menjamin sektor bisnis properti dan usaha lainnya menggeliat. ”Kami sedang mendesain sistemnya dengan DKI Jakarta dan Tangsel,” terangnya. (Wahyu S/RBG)









