Entah apa yang ada dalam benak Mono (44), bukan nama sebenarnya, bukannya mengajak sang istri, sebut saja Sisi (42) menuju jalan Ilahi, malah ikut terbawa kebiasaan teman-teman yang doyan main judi. Tak nyaman dengan situasi rumah tangga yang kerap membuatnya nyeri hati, Siti memilih jalan hidup sendiri.
“Ya begitulah, Kang. Kejadiannya tuh pas saya usia 27 tahun dan Kang Mono 29 tahun. Waktu itu benar-bener kacau situasinya,” kata Sisi kepada Radar Banten.
Padahal, seperti diungkapkan Sisi, sang suami berasal dari keluarga yang kental akan keagamaan. Anehnya, hal itu bukan merupakan jaminan Mono kuat menahan iman. Lantaran tingkahnya yang tak jelas dalam mengurus rumah tangga, jadilah ia dianggap lelaki yang tak punya pendirian.
Katanya sih, sejak muda Mono sudah mendapat didikan agama di salah satu yayasan keagamaaan di Serang. Saat itu kondisi ekonomi keluarga bisa dikatakan berkecukupan. Sang ayah yang berprofesi sebagai petani, memiliki banyak sawah dan sedang maju-majunya. Sudah baik, agamais, dan kaya, Mono banyak menarik perhatian kaum hawa.
Mono anak terakhir dari empat bersaudara. Kakak paling tua berperan sebagai ustaz di kampung. Tak ayal, Mono pun mendapat image positif dari warga. Tak lama setelah lulus dari pesantren, Mono pun lekas mencari pendamping hidup. Bukan merupakan hal sulit baginya mencari kekasih.
Tak lama setelah kabar dirinya yang tengah mencari calon istri, datanglah rekan sang ayah menawarkan anak gadis kepada Mono. Wanita itu tak lain ialah Sisi. Hebatnya, baru sekali dipertemukan, Mono langsung jatuh cinta. Seminggu kemudian, mereka mantap menuju pernikahan. Mengalami nikah muda, tentu Mono bahagia.
Sementara, Sisi terlahir dari keluarga sederhana dan tak terlalu terpandang di masyarakat. Berkat kecantikan serta sikapnya yang halus, mampu membuat Mono jatuh hati padanya. Terlebih, usia keduanya yang sudah cukup dewasa, tak ada alasan untuk menunda pernikahan.
Setelah meminta restu pada orangtua dan saudara, Mono menikah dengan Sisi. Mereka mengikat janji sehidup semati. Meski hanya menggelar pesta pernikahan sederhana, hanya mengundang tetangga dan sanak saudara, mereka sudah bahagia luar biasa. Terlebih, Mono yang berstatus duda mendapat istri yang masih perawan. Cantik lagi.
Tahun pertama pernikahan, ekonomi keluarga masih membaik. Kebahagiaan mereka bertambah saat lahirnya anak pertama, Mono dan Sisi semakin mesra. Apa mau dikata, tak lama kemudian musibah itu datang. Sang ayah yang menderita penyakit di masa tua, tak mampu bertahan hidup, seluruh keluarga berduka.
Seiring berjalannya hari, dibagilah harta peninggalan sang ayah. Seluruh keluarga mendapat bagian masing-masing termasuk Mono. Anehnya, entah karena ada masalah atau memang tak saling menghormati lagi. Sejak saat itu Mono dan kakak-kakaknya tak lagi harmonis seperti dulu. Aih, kenapa, Teh?
“Saya juga enggak tahu, Kang. Dia enggak pernah cerita. Tapi, katanya sih Kang Mono iri gitu ke salah satu kakaknya yang dapat bagian lebih besar,” ungkapnya.
Merasa tak nyaman tinggal di rumah keluarga, Mono dan Sisi memutuskan pindah dengan mencicil rumah sederhana. Hari demi hari dilewati, tak terasa setahun berlalu, bukannya semakin harmonis, Mono marah kerap emosi dan jarang pulang. Lingkungan sekitar rumah yang banyak memberi pengaruh buruk, membuat Mono ikut terjerumus. Aih, hal buruk bagaimana maksudnya, Teh?
“Jadi, enggak jauh dari rumah tuh ada semacam kontrakan yang diisi orang-orang pendatang gitu, Kang. Saya sih enggak tahu kenapa Kang Mono sering main ke sana. Sampai ada tetangga bilang kalau di sana setiap malam suka pesta miras dan judi,” terang Sisi.
Apa mau dikata, kabar itu pun terdengar keluarga Mono. Dari situ saudara dan tetangga kemudian menyelidiki kesehariannya. Diketahuilah bahwa lelaki yang sempat mendapat image baik itu ternyata jarang salat lima waktu, bahkan sering ikut bermain judi sambil mabuk.
Kabar itu pun menyebar cepat. Hal itu membuat kakak dan saudara Mono geram. Dipanggillah Mono ke rumah, perbincangan yang awalnya berlangsung hangat, berubah memanas ketika sang kakak tertua menegur Mono terkait masalah Judi. Mono merasa digurui, ia marah-marah. Sejak saat itu hubungannya dengan keluarga mulai renggang.
Parahnya, masalah dengan keluarga lagi-lagi membuat sang istri kena imbasnya. Pulang mengamuk memarahi Sisi dan anaknya, Mono bagai orang yang kehilangan pedoman hidup. Hanya bisa menangis meratapi kepedihan, Sisi mengaku, saat itu ia mulai tak sanggup menjalani rumah tangga dengan Mono. Aih, sabar Teh.
“Saya masih nahan-nahan, Kang. Dia marah-marah dan pulang mabuk, saya coba sabar ngurusin dia. Tapi dia begitu, ini lagi anak saya sudah mulai mengerti dan ngomong yang macam-macam tentang bapaknya,” curhat Sisi.
Hingga suatu hari, saat Sisi baru pulang setelah mengantar sekolah sang anak, terdengar pintu rumah digedor keras. Ketika dibuka, cacian dan makian seorang wanita dengan dua lelaki berbadan besar mengagetkannya. Sisi tak menyangka, saat itu juga ia menangis berurai air mata. Aih, kenapa Teh?
“Kaget saya waktu itu, Kang. Ternyata Kang Mono enggak pernah bayar cicilan rumah sampai nunggak Rp10 juta,” kata Sisi.
Lantaran sudah mendapat ancaman akan diusir paksa, Sisi berinisiatif membereskan barang-barang dan pulang ke rumah orangtua. Kebetulan hari itu Mono juga tak pulang entah ke mana. Sisi dan sang buah hati mengamankan diri. Seperti diceritakan Sisi, keesokan harinya Mono mendapati rumahnya sudah terkunci dari luar.
Mungkin insting seorang suami, entah dapat info dari mana, Mono mendatangi Sisi di rumah orangtua. Seolah tak menghargai keluarga sang istri, di bawah kendali ganasnya minuman keras, Mono mengamuk memarahi Sisi. Apa mau dikata, keluarga pun terpancing emosi. Saat itu juga Sisi mengucap kata cerai. Mereka pun berpisah selamanya.
Ya ampun, sabar ya Teh Sisi. Semoga mendapat suami baru yang jauh lebih baik dari Kang Mono. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)








